Yang Perlu Orang Tua Tahu soal Vaksinasi COVID-19 untuk Anak

Seorang supir angkot melintasi mural ajakan melawan COVID-19 di Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Vaksinasi untuk anak-anak segera dilakukan. Sebab, BPOM sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin Sinovac untuk anak di usia 12 hingga 17 tahun.

Rekomendasi vaksinasi untuk anak-anak dikeluarkan berdasarkan hasil rapat BPOM dengan Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin COVID-19 yang diselenggarakan pada 26 Juni 2021.

Kemasan vaksin COVID-19 diperlihatkan di Command Center serta Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV), Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1). Foto: M Agung Rajasa/Antara Foto

Berikut adalah pertimbangan BPOM terkait penggunaan vaksin Sinovac untuk anak-anak:

1. Profil imenogenisitas dan keamanan pada dosis medium (600 SU/05 mL) lebih baik dibanding dosis rendah (300 SU/05mL).

2. Dari data keamanan uji klinis Fase I dan Fase II, profil AS sistemik berupa fever pada populasi 12-17 tahun tidak dilaporkan dibandingkan dengan usia 3-5 tahun dan 6-11 tahun.

3. Jumlah subjek pada populasi < 12 tahun belum cukup untuk memastikan profil keamanan vaksin pada kelompok usia tersebut

4. Imunogenisitas dan keamanan pada populasi remaja 12-17 tahun diperkuat dengan data hasil uji klinik pada populasi dewasa karena maturasi imun pada remaja seusai dengan dewasa.

5. Data epidemiologi COVID-19 di Indonesia menunjukkan mortalitas tinggi pada usia 10-18 tahun sebesar 30%.

Lantas bagaimana tindak lanjut atas izin tersebut?

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI

Kemenkes Targetkan 50 Juta Anak Divaksin

Pemerintah siap memulai vaksinasi corona bagi anak-anak di Indonesia dalam waktu dekat. Targetnya, 50 juta anak berusia 12-17 tahun dapat divaksinasi mulai Juli.

“Vaksinasi ini sasarannya 50 juta. Juli mungkin mulai, tapi secara bertahap,” kata Juru Bicara Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi kepada kumparan, Selasa (29/6).

Kendati demikian, Nadia menegaskan masih banyak hal terkait mekanisme pelaksanaan vaksinasi COVID-19 anak yang harus dibahas. Mulai dari lokasi, kebutuhan dokumen, hingga proses skrining.

Nadia menerangkan program vaksinasi ini anak akan direncanakan secara matang perlahan. Musababnya saat ini orang dewasa khususnya lansia masih menjadi prioritas target vaksinasi.

Kedatangan Lagi 8 Juta Vaksin Bulk Sinovac. Foto: Dok. Kominfo

Lokasi, Aturan Skrining, hingga Penanganan KIPI Dirumuskan

Nadia mengungkap sejumlah hal terkait pelaksanaan teknis vaksinasi anak tengah dipersiapkan. Mulai dari lokasi, kebutuhan dokumen, hingga proses skrining.

“Kita harus menghitung distribusi vaksin, skriningnya seperti apa, proses pendaftarannya seperti apa, karena anak-anak, kan, belum punya KTP,” kata Nadia.

Adapun terkait penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pasca vaksin corona anak tengah disiapkan. Sebab penanganan KIPI anak dan orang dewasa berbeda.

“Kita lihat [nanti] proses pelaksanaannya seperti apa. Termasuk juga dokumen persyaratannya. Jadi kita akan bahas bagaimana teknis pelaksanaannya, termasuk juga penanganan KIPI pada anak, kan, pasti harus berbeda, dong. Terus nanti kalau dia datang ke sentra vaksinasi bagaimana peraturannya agar tidak berisiko terhadap penularan,” jelasnya.

com-Ilustrasi orang tua sedang membantu anak mengerjakan tugas sekolah anaknya Foto: Shutterstock

Orang Tua Diminta Beri Edukasi

Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menyambut baik penggunaan vaksin Sinovac bagi anak-anak untuk mempercepat pembentukan kekebalan tubuh kelompok atau herd immunity.

Mendukung langkah itu, Rahmad menilai perlu adanya peran orang tua untuk memberikan edukasi soal pentingnya vaksinasi corona. Selain itu, penerapan displin protokol kesehatan usai vaksin kepada anak-anak.

“Pertama tentu adalah tugas dan tanggung jawab orang tua untuk melakukan satu edukasi dan pemahaman kepada anak-anak kita agar protokol kesehatan di masyarakat. Kemudian di rumah, sekitar itu harus menjadi harga yang benar-benar diperhatikan,” ujar dia.

Untuk proses vaksinasi anak-anak, politikus PDIP itu mengusulkan agar fasilitas kesehatan bekerja sama dengan sekolah atau rumah dan perumahan sebagai tempat vaksinasi anak-anak. Selain itu, diharapkan orang tua juga mengantar anak saat hendak vaksin.

Menurut dia, yang terpenting anak harus diawasi saat proses vaksinasi berlangsung. Sehingga tidak malah tertular corona saat vaksin.

“Paling tidak jangan sampai ketika proses vaksinasi itu justru tertular. Karena euforia yang selama ini tinggal di rumah, kemudian untuk proses vaksinasi kemudian berduyun-duyun, desak-desakan, berebut. Ini yang harus kita hindarkan,” tandasnya.

Petugas TNI Angkatan Laut (AL) menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pelaku usaha perikanan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Vaksinasi Anak 12-15 Tahun Didampingi Orang Tua, Kecuali di Sekolah

Senada dengan Rahmad, Nadia juga mengungkap bahwa anak usia 12-15 tahun kemungkinan harus didampingi orang tua saat divaksin. Kecuali jika vaksinasi ini dilangsungkan di sekolah, maka cukup dipantau oleh guru.

‘[Anak] tidak harus didampingi, tapi kalau 12-15 [tahun] mungkin harus didampingi. Kecuali kalau kita lakukan di sekolah, ya,” kata Nadia.

Nadia menekankan, masih banyak mekanisme vaksinasi corona bagi anak yang perlu dibahas. Mengingat dalam waktu dekat belum banyak sekolah yang akan menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Selain itu, lokasi vaksinasi anak pun menjadi salah satu hal yang tengah dipertimbangkan.

Adapun saat ini vaksinasi corona bagi dewasa khususnya lansia masih jadi prioritas. Sehingga pelaksanaan vaksinasi anak juga akan mempertimbangkan hal tersebut.

“Lagi dibahas, akan difinalkan. Termasuk gimana prokesnya. Kalau vaksinasi pada anak kan biasa kita lakukan di sekolah, tapi kalau sekarang kan di rumah, kalau enggak PTM kan tidak mungkin kita lakukan di sekolah. Nah teknisnya seperti apa [sedang dibahas],” terang dia.

Comments are closed.