WHO: Strategi Nol-COVID China Tak Dapat Berkelanjutan

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP/PIERRE ALBOUY

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (10/5/2022) menilai strategi nol-COVID andalan China untuk mengalahkan pandemi tidak berkelanjutan.

WHO mengatakan, pihaknya telah memberi tahu Beijing dan menyerukan agar pemerintah melakukan perubahan kebijakan.

“Ketika kami berbicara tentang strategi nol-COVID, kami berpikir [strategi] itu tidak berkelanjutan, mengingat perilaku virus sekarang dan apa yang kami antisipasi di masa depan,” kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari AFP, Rabu (11/5/2022).

“Kami telah membahas masalah ini dengan para ahli China dan kami mengindikasikan bahwa pendekatan tersebut tidak akan berkelanjutan. Transisi ke strategi lain akan sangat penting,” sambung dia.

Maria Van Kerkhove dalam sesi tanya jawab WHO, Selasa (9/6). Foto: WHO (@WHO) via Twitter

Kepala Teknis COVID-19 WHO, Maria Van Kerkhove, turut membagikan pengamatannya. Kerkhove mengatakan, penghentian penularan virus secara keseluruhan di dunia tidak memungkinkan. Sehingga, pemerintah seharusnya berfokus pada penurunan kasus.

“Tujuan kami, di tingkat global, bukan untuk menemukan semua kasus dan menghentikan semua penularan. Itu benar-benar tidak mungkin saat ini,” kata Kerkhove.

“Tetapi yang perlu kita lakukan adalah menurunkan transmisi karena virus beredar pada tingkat yang begitu intens,” tutup dia.

Sejak pandemi muncul, China telah memberlakukan kebijakan ketat nan kejam. Pada 2022 ini, pemerintah mengurung sebagian besar dari populasi 25 juta warga Shanghai di rumah mereka selama berminggu-minggu.

Pagar hijau menutup pintu masuk ke toko dan unit perumahan di sepanjang jalan untuk membendung penularan COVID-19 di Shanghai, China, Minggu (24/4/2022). Foto: Jacqueline Wong/REUTERS

Shanghai dikenal sebagai dinamo ekonomi China dan kota terbesarnya. Kebijakan nol-COVID telah menggulung ekonomi kota itu yang baru mulai bangkit dari pandemi beberapa bulan lalu.

“Kita perlu menyeimbangkan tindakan pengendalian terhadap dampaknya terhadap masyarakat, dampaknya terhadap ekonomi, dan itu tidak selalu merupakan kalibrasi yang mudah,” kata Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan.

Ryan menegaskan, tindakan memerangi pandemi harus menunjukkan penghormatan terhadap hak individu dan hak asasi manusia.

Dia menyerukan kebijakan yang dinamis, adaptif, dan gesit. Baginya, banyak negara kurang memiliki kemampuan beradaptasi.

Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato pada upacara peringatan 100 Tahun Partai Komunis yang berkuasa di Beijing, China, Kamis (1/7). Foto: Li Xueren/Xinhua via AP

Karantina Shanghai telah memicu amarah dan protes yang jarang terjadi di pusat ekonomi negara itu. Di sisi lain, pergerakan di Ibu Kota Beijing perlahan-lahan dibatasi.

Dinamika politik di China disebut-sebut mempengaruhi penanganan virus negara itu. Presiden China Xi Jinping menggantungkan legitimasi kepemimpinannya dalam melindungi kehidupan orang China dari COVID-19.

Dengan demikian, dia menggandakan pendekatan nol-COVID kendati frustrasi publik yang menolak kebijakan tersebut kian meningkat.

Penulis: Sekar Ayu.

Comments are closed.