Waspada Varian Omicron, Kasus Rachel Vennya Jangan Terulang!

Pasien COVID-19 yang telah dinyatakan sembuh berjalan keluar Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/8/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Munculnya corona varian Omicron meningkatkan kewaspadaan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah memperketat akses untuk WNI dan WNA yang pernah berpergian dari daerah Uni Afrika serta negara lain yang dilaporkan terdapat kasus varian Omicron dan memperpanjang masa karantina.

Anggota Komisi Kesehatan (IX) DPR, Kurniasih Mufidayati, meminta pemerintah tegas dalam menerapkan kebijakan karantina yang kini jadi 7 hari. Ia mengingatkan kasus kabur dari lokasi karantina yang melibatkan influencer Rachel Vennya beberapa waktu lalu jangan sampai terulang.

“Wajib karantina harus diberlakukan secara tegas dan tanpa pengecualian, mengingat kita dalam ancaman merebaknya varian Omicron ini. Hasil keputusan terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan Rachel Vennya dan oknum yang membantu kelolosannya harus segera disampaikan ke publik,” kata Mufida, Selasa (30/11).

“Ini agar tidak terkesan kasus ini menguap begitu saja dan pelanggaran serupa muncul lagi. Berikan tindakan tegas dan hukuman bagi yang melanggar karantina kesehatan ini,” imbuh anggota Fraksi PKS itu.

Rachel Vennya. Foto: Instagram/@rachelvennya

Varian Omicron atau B11529 ditemukan sekumpulan ilmuwan Afrika Selatan dan diduga kuat lebih cepat menular dari varian Delta. Tetapi Mufida mengimbau langkah untuk menutup akses pintu masuk Indonesia bukan hanya terhadap warga dari negara-negara Afsel dan Hongkong, melainkan juga dilakukan terhadap negara yang sudah ditemukan kasus dari varian Omicron.

“Pembatasan kedatangan juga dilakukan dari penerbangan langsung maupun tidak langsung yang berasal dari negara-negara tersebut. Demikian juga perpanjangan karantina harus dilakukan kepada setiap kedatangan dari luar negeri tanpa pengecualian,” lanjut dia.

“Kita harus belajar dari ledakan gelombang pertama di Januari 2021 dan gelombang kedua di Juni-Juli 2021 akibat terlambatnya melakukan pembatasan kedatangan,” – Kurniasih Mufidayati

Sementara itu, Mufida menyoroti lonjakan kasus akibat varian Delta di Indonesia salah satunya disebabkan masuknya awak buah kapal (ABK) dari Filipina di Cilacap. Sehingga, ia juga meminta pemerintah untuk mengawasi ketat pintu masuk laut, tak hanya darat dan udara.

“Pembatasan kedatangan memang harus dilakukan dari semua pintu, baik pintu masuk udara maupun laut, selama berasal dari negara yang sudan ditemukan kasus varian Omicron ini. Jadi pendekatannya bukan warga negaranya, tapi negara asal kedatangannya, baik langsung maupun tidak langsung,” papar Mufida.

Anggota Komisi IX DPR (PKS), Kurniasih Mufidayati. Foto: Dok. Pribadi/Kurniasih Mufidayati

Mufida menyadari bahwa situasi saat ini agak berbeda dengan saat varian Delta merebak. Misalnya, ia mengatakan cakupan vaksinasi saat ini sudah cukup tinggi.

Namun di sisi lain, ia mengingatkan aktivitas masyarakat juga sudah semakin normal seiring turunnya level PPKM. Seperti aktivitas di tempat kerja, transportasi publik, pasar dan tempat perdagangan, tempat perhubungan dan wisata hingga tempat ibadah.

Oleh karena itu, Mufida mengimbau pemerintah untuk lebih masif menyerukan agar masyarakat tidak lengah. Mulai dari memakai masker saat aktivitas di luar rumah dan tempat kerja, menghindari kerumunan, serta mengurangi mobilitas yang tidak penting.

Selagi mengingatkan masyarakat, Mufida berpendapat pemerintah bisa menyiapkan antisipasi apabila varian Omicron berujung merebak di Indonesia.

“Ketika ada kecenderungan kenaikan kasus dan varian Omicron yang mulai menyebar di dalam negeri, maka pemerintah pusat dan daerah harus berani mengambil kebijakan menaikkan level PPKM. Fasilitas kesehatan dan sarana pendukung seperti oksigen dan obat-obatan juga harus dijamin ketersediaannya,” tandas dia.

Comments are closed.