Wamenkumham Sebut 88,95 Persen Pelaku Usaha Belum Punya Kekayaan Intelektual

Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Edward O.S Hiariej bersama dengan unsur Forkompimda di Sulawesi Utara saat meluncurkan Mobile Intellectual Property Clinic.

MANADO – Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Edward O.S Hiariej, menyebut bahwa Indonesia telah menjadi negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) besar dari bidang kekayaan intelektual (KI).

Namun, angka ini menurutnya bisa jauh lebih meningkat lagi ketika seluruh pelaku usaha di tanah air telah melek atau paham akan hal itu.

“Sebagian besar pelaku usaha ada 88,95 persen belum memiliki hak atas kekayaan intelektualnya. Selain itu, ada ketimpangan jumlah permohonan kekayaan intelektual antar daerah di Indonesia masih sangat terasa,” ujar Edward.

Pada tahun 2020-2021, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) mencatat kurang lebih 1.109.719 permohonan kekayaan intelektual dari dalam negeri baik dari merk, paten, desain industri dan hak cipta. Angka ini terus meningkat jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya seiring dengan meningkatnya teknologi digital.

Eddy, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa berdasarkan data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pada tahun 2017, peningkatan 1 persen saja pendaftaran paten maka mampu berdampak positif sebesar 0,06 persen pada ekonomi nasional.

“Artinya bila jumlah paten bisa naik 10 persen maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi 0,6 persen,” ujarnya.

Tak hanya itu, kekayaan intelektual juga dapat membentuk identitas bangsa dan meningkatkan daya saing negara. Menurut Eddy, Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi memiliki potensi kekayaan intelektual komunal yang dapat menciptakan reputasi kapital melalui promosi kepentingan ekonomi, politik dan sosial.

Adapun Kekayaan Intelektual Komunal terdiri dari Indikasi Geografis, Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional, dan Sumber Daya Genetik.

“Indonesia adalah negara mega diversity, negara terbesar kedua setelah Brazil yang kaya akan sumber daya alam dan hayatinya. Banyak produk unggulan yang dihasilkan dan potensial untuk mendapat tempat di pasar internasional,” kata Eddy.

Oleh karena itu, Eddy mengatakan pemerintah perlu hadir dan memberikan pelayanan KI di tengah masyarakat daerah. Diperlukan pula sinergitas antara pemangku kepentingan baik dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan penggiat kekayaan intelektual lainnya.

“Mobile IP Clinic adalah langkah strategis Kemenkumham untuk menyebarkan layanan KI di berbagai daerah untuk mendekati masyarakat,” ujarnya di Manado.

Dikatakannya, pembangunan Mobile IP Clinic atau Klinik KI Bergerak juga merupakan sebagai salah satu bentuk percepatan peningkatan kuantitas dan kualitas KI di Indonesia yang dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dengan keanekaragaman potensi KI yang ada.

“Mobile IP Clinic juga merupakan sebuah rintisan pembentukan klinik KI di wilayah di mana memiliki peran untuk menginisiasi terwujudnya layanan-layanan KI oleh para stakeholder KI di wilayah,” ujarnya lagi.

Febry kodongan

Comments are closed.