Update Situasi Corona DKI: Skenario Stadion Jadi RS hingga Dominasi Varian Delta

Petugas PPSU Bukit Duri menyelesaikan pembuatan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Aprillio Akbar/Antara Foto

Tren kasus harian corona di Jakarta masih naik signifikan. Pada Rabu (30/6), kasus corona harian Jakarta mencapai 7.680 kasus. Angka ini diperkirakan akan terus naik jika tidak ada pengetatan di masyarakat.

Dalam dokumen presentasi yang didapat kumparan jumlah peningkatannya bisa mencapai 100.000 dalam kurun waktu satu minggu.

“Bila tidak dilakukan pengetatan segera, maka 100.000 kasus aktif di Jakarta akan tercapai antara tanggal 8-13 Juli,” tulis dokumen tersebut yang dikutip pada Rabu (30/6).

Jika terus dibiarkan, kasus di aktif di Jakarta bisa naik dua kali lipat pada 22 Juli 2021.

Sejumlah skenario antisipasi tertuang dalam dokumen tersebut. Ada enam langkah antisipasi jika kondisi itu terjadi.

Berikut kumparan merangkum perkembangan situasi kasus corona di DKI Jakarta:

Orang-orang beristirahat di ruang gawat darurat pasien corona di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, Selasa (30/6). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Stadion dan Gedung Konvensi Besar di Jakarta Akan Diubah Jadi RSD Corona

Sejumlah skenario disiapkan untuk mengantisipasi bila kasus aktif corona di DKI menembus 100.000. Salah satunya mengubah fungsi stadion indoor dan gedung konvensi sebagai rumah sakit darurat (RSD) seperti Wisma Atlet Kemayoran.

“Mengubah stadion indoor dan gedung-gedung konvensi besar menjadi rumah sakit darurat penanganan kasus darurat kritis, diusulkan untuk dalam satu manajemen RSDC Wisma Atlet,” tulis dokumen tersebut terkait langkah antisipasi, dikutip pada Rabu (30/6).

Tidak hanya itu, sejumlah rumah sakit juga diminta agar dikhususkan untuk merawat pasien COVID-19.

“Rumah sakit kelas A dikhususkan sepenuhnya untuk ICU COVID-19. RSDC Wisma Atlet dikhususkan untuk penanganan pasien dengan gejala sedang-berat,” tulis dokumen itu.

Langkah antisipasi lainnya ialah menambah lokasi isolasi dengan mengubah fungsi rusun.

“Rusun diubah menjadi fasilitas isolasi terkendali untuk pasien dengan gejala ringan,” tulis dokumen tersebut.

Kebutuhan tenaga kesehatan juga harus terpenuhi. Termasuk logistik obat-obatan maupun kebutuhan lainnya.

“Memastikan kebutuhan tenaga kesehatan terpenuhi termasuk penambahan tenaga kesehatan dari luar DKI Jakarta. Memastikan ketersediaan oksigen, APD, alat kesehatan. dan obat-obatan,” tulis dokumen itu.

Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) bersiap merawat pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Jakarta Masih Butuh 2.156 Nakes dan 5.139 Vaksinator

Untuk menunjang penanganan corona yang tengah melonjak, Jakarta masih membutuhkan ribuan tenaga kesehatan (nakes).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, untuk saat ini Jakarta masih membutuhkan 2.156 tenaga profesional tambahan. Sementara tenaga vaksinator masih dibutuhkan tambahan 5.139 orang.

“Pokoknya jumlah nakes kita tingkatkan, jumlah tenaga kesehatan kebutuhan nakes ini sedang ditambah. Tenaga profesional ini butuh lagi 2.156. Tenaga vaksinator perlu ditambah lagi 5.139 ya” ujar Riza kepada wartawan, Rabu (30/6).

Jadi bukan hanya rumah sakit dan fasilitas isolasi yang ditambah, namun sumber daya manusia juga perlu ditambah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Pemprov juga menugaskan jajaran dinas untuk membantu pekerjaan non-medis di berbagai rumah sakit yang tangani corona.

“Jadi semuanya akan kita tambah. Rumah sakit rujukan, okupansi daripada tempat tidur RS ditingkatkan, kemudian juga nakes, ruang ICU, semuanya. Lab, vitamin, obat-obatan, masker semuanya ditingkatkan,” tuturnya.

Meski seluruh fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan diupayakan ditambah terus, tapi perlu juga penanganan dari hulu. Maka itu, tak bosan-bosan dia minta agar warga di Jakarta menjalani protokol kesehatan dengan disiplin.

Orang-orang beristirahat di ruang gawat darurat pasien corona di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, Selasa (30/6). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Kasus Aktif Corona di Jakarta 230% Lebih Besar dari Februari

Sebuah dokumen yang berisi paparan presentasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat disampaikan kepada Menko Maritim dan Investasi. Dalam paparan tersebut, disajikan data terkait kasus aktif di DKI Jakarta memiliki kecenderungan meningkat 2 kali lipat setiap 1 minggu.

“Per 19 Juni, kasus aktif telah melebihi puncak gelombang pertama. Setiap 8 hari, kasus aktif berlipat ganda 2x lipat,” dalam dokumen yang dikutip pada Rabu (30/6).

Pada paparan tersebut, ditampilkan data kasus aktif pada 16 Juni 2021 ada pada angka 20.311 kasus, jumlah ini meningkat jadi 40.637 kasus pada 24 Juni. Contoh berikutnya terdapat pada tanggal 18 juni, kasus aktif pada hari tersebut mencapai angka 24.511 kasus, lalu naik 2 kali lipat pada 26 Juni jadi 51.434 kasus.

Dokumen itu juga menyampaikan, kasus pada hari ini telah naik dua kali lipat daripada puncak gelombang pertama, pada awal Februari 2021.

“Kasus aktif saat ini telah mencapai 230% lebih besar daripada puncak gelombang pertama di awal Februari 2021 dan masih menunjukkan tren kenaikan dengan cepat,” seperti tertera di dokumen.

petugas kesehatan merawat pasien corona di ruang ICU di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, Selasa (30/6). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Ruang ICU Rumah Sakit Corona di Jakarta Sudah Terisi 92%, Isolasi 94%

Data dari dokumen presentasi yang diterima kumparan, Rabu (30/6), jumlah pasien corona yang harus dirawat di ICU per 28 Juni 2021 sebanyak 1.164 orang. Sementara kapasitas ICU untuk COVID-19 di Jakarta sebanyak 1.263 tempat tidur. Itu artinya sudah 92 persen kapasitas ICU yang terpakai.

Sementara data BOR untuk isolasi per 28 Juni 2021 sebanyak 94 persen. Ada 9.787 pasien corona yang harus diisolasi di rumah sakit dari total kapasitas tempat tidur sebanyak 10.448.

Angka ICU maupun isolasi diambil dari 140 rumah sakit yang menangani pasien corona di Jakarta.

Jumlah tersebut sebenarnya sudah ditingkatkan lebih dari saat puncak kasus corona pada Februari 2021. Penambahan kapasitas terus dilakukan di tengah kasus corona yang terus naik.

“Penambahan kapasitas RS terus dilakukan, namun berkejaran dengan peningkatan pesat jumlah warga yang membutuhkan perawatan di RS. Peningkatan kasus baru harus diturunkan agar tidak menyebabkan faskes kolaps,” tulis dokumen yang diterima kumparan, dikutip Rabu (30/6).

KRL melintas di dekat mural bertema pencegahaan penyebaran virus Corona atau COVID-19 di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Varian Baru Corona Sudah Serang 29 Balita dan 26 Anak di Jakarta

Penyebaran varian baru corona di Jakarta tidak hanya menyerang orang remaja dan dewasa, tapi juga balita sangat rentan tertular. Bahkan, jumlahnya tak mengalami penurunan.

Dari dokumen presentasi yang didapat kumparan, terdapat 29 kasus varian baru menimpa usia balita (0-5 tahun). Namun tak dijelaskan jenis varian yang mendominasi pada balita.

“Usia 0-5 tahun sebanyak 29 kasus,” tertera dalam dokumen tersebut, Rabu (30/6).

Tidak hanya pada usia balita, varian baru juga mengincar anak-anak hingga remaja. Tercatat 26 kasus pada usia 6-18 tahun. Selanjutnya pada usia dewasa dan orang tua dengan total kasus 74 kasus.

“Usia 19-59 tahun (71 kasus). Sedangkan usia 60 tahun ke atas hanya 2 kasus,” dalam dokumen itu.

Suasana jalanan di Jakarta, selama wabah virus corona, (31/3). Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

3.414 Perusahaan di Jakarta Ditutup Sementara Imbas Corona, 24 Tak Jalani Prokes

Monitoring perusahaan terus dilakukan di tengah pandemi COVID-19. Hasilnya, ada ribuan perusahaan yang ditutup sementara karena kasus corona dan puluhan lainnya tak menjalankan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan DKI Jakarta Andri Yansyah merinci, dari data pengawasan sejak 11 Januari hingga 29 Juni 2021, ada 3.414 perusahaan ditutup sementara akibat adanya kasus COVID-19. Sementara 24 perusahaan ditutup sementara akibat tak menjalankan protokol kesehatan.

Dari data yang diterima, perusahaan yang ditutup karena kasus corona terbanyak ada di Jakarta Selatan, yakni mencapai 1.261 perusahaan. Kemudian di Jakarta Pusat 1.041 perusahaan juga ditutup.

Di Jakarta Barat ada 479 perusahaan ditutup karena COVID-19, 359 di Jakarta Utara, dan 274 di Jakarta Timur.

Sedangkan 24 perusahaan yang ditutup karena tak menjalankan protokol kesehatan, terbanyak ada di Jakarta Selatan dengan 15 perusahaan ditutup.

Kemudian perusahaan lainnya yang ditutup karena tak menjalankan prokes sebarannya yakni 4 di Jakarta Timur, 3 di Jakarta Utara, dan 2 di Jakarta Pusat.

Pegawai di lingkungan gedung BRI 1 dan BRI 2 menggunakan masker karena dugaan virus corona, Jakarta, Kamis (23/1). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Ada 128 Kasus Varian Baru Corona di Jakarta, 87% Varian Delta

Kasus varian baru corona di Jakarta yang belum menunjukkan penurunan. Bahkan, varian baru corona terus bertambah. Terbaru, 128 kasus yang teridentifikasi sebagai Varian Of Concern (VoC) corona.

Dari dokumen presentasi yang didapat kumparan, dari 128 kasus Voc yang paling mendominasi yakni varian Delta (B.1617.2) 111 kasus, disusul varian Alpha (B.117) 11 kasus, dan terakhir varian Beta (B.1.351) 5 kasus serta varian Kappa sebanyak 1 kasus.

“Varian Delta mendominasi sebesar 87 persen dari total temuan kasus varian baru yang telah teridentifikasi di Jakarta,” dalam dokumen presentasi yang didapat kumparan, Rabu (30/6).

Kondisi semakin buruk lantaran varian baru juga ditemukan menyerang anak usia balita. Tercatat usia 0-5 tahun (29 kasus), dan usia 6-18 tahun (26 kasus).

“Kasus varian baru juga banyak teridentifikasi pada segmen anak-anak usia balita dan usia 6-18 tahun yakni 26 kasus,” tulis dokumen itu.

Lebih lanjut, sejauh ini kasus varian baru tercatat paling banyak berada pada usia 19-59 tahun 71 kasus. Sedangkan usia 60 tahun ke atas hanya 2 kasus.

“Usia 19-59 yakni 71 kasus,” tandasnya.

Apartemen Taman Rasuna diizinkan dipakai untuk isolasi pasien. Foto: Dok. Istimewa

Apartemen Taman Rasuna Izinkan Warganya Positif Corona Isolasi Mandiri di Unit

General Manager Apartemen Taman Rasuna, Deva menjelaskan bahwa Apartemen Taman Rasuna mengizinkan warganya yang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan untuk isolasi mandiri di unit masing-masing.

“Bagi warga yang dinyatakan positif COVID-19 tanpa gejala maupun bergejala ringan diizinkan melakukan isolasi mandiri di dalam unit,” ujar Deva dalam keterangannya, Rabu (30/6).

Nantinya setiap warga yang melakukan isoman akan dimasukkan ke dalam satu grup Whatsapp khusus. Dalam pelaksanaan isoman akan berlangsung selama 10 hari sejak hasil swab dinyatakan positif dan bagi warga yang positif dengan gejala sedang dan berat akan dirujuk ke rumah sakit dibantu oleh P3SRS-ATR/BPATR.

“Semua kebutuhan warga yang sedang melakukan isolasi mandiri di dalam unit akan dibantu pengirimannya oleh petugas khusus untuk diletakkan di depan pintu unit. Warga yang diizinkan isoman di unit perlu memahami bahwa kita semua menginginkan kesembuhan yang segera,” jelasnya.

“Di sisi lain, isoman dengan tetap disiplin berada di dalam unit penting sekali dilakukan untuk memutus rantai penularan di lingkungan ATR,” tandasnya.

Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Apartemen Taman Rasuna (P3SRS-ATR) dan Badan Pengelola Apartemen Taman Rasuna (BPATR) telah melayani dan memfasilitasi lebih dari 80 warga ATR dan 34 karyawan yang terinfeksi COVID-19 untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari Puskesmas maupun Rumah Sakit.

Mulai dari Swab-PCR, isolasi di Wisma Atlet dan hotel hingga perawatan di Rumah Sakit. Termasuk juga memfasilitasi Swab-PCR massal bagi seluruh warga ATR dan juga vaksinasi.

Comments are closed.