The Present, Film Pendek tentang Kehidupan Orang Palestina

Salah satu adegan di film pendek “The Present”. Foto: Youtube/Ajyal Film Festival

Farah Nabulsi, pembuat film keturunan Inggris-Palestina, menggarap film pendek terbarunya berjudul “The Present”. Karya ini lantas mendapat perhatian dan mengantongi beragam penghargaan.

“The Present” memenangkan pengahargaan BAFTA dengan nominasi “Film Pendek Terbaik”. Tak hanya sampai disitu, film ini juga masuk dalam jajaran kandidat pemenang Oscar, penghargaan yang paling bergengsi.

Film berkisah tentang karakter Youssef (diperankan oleh Saleh Bakri) dan putrinya bernama Yasmine. Keduanya melakukan perjalanan di Tepi Barat untuk membelikan istrinya hadiah ulang tahun berupa kulkas.

Selama wawancara dengan Channel 5 News, Farah menggambarkan bahwa filmnya adalah tentang martabat manusia dan hak asasi manusia untuk kebebasan bergerak. Namun, itu tidaklah mudah bagi orang yang hidup di daerah konflik, seperti Palestina.

“(Film) ini tentang seorang pria Palestina pekerja keras yang berangkat dengan putri kecilnya untuk membelikan istrinya kulkas sebagai hadiah ulang tahun. Terdengar tugas yang sederhana. Tetapi, ketika Anda diangkut ke pos pemeriksaan dan terdapat tentara yang menghalangi, itu menjadi tidak mudah,” Farah menjelaskan.

Lahir dari orang tua imigran Palestina, Farah dibesarkan dan dididik di Inggris. Sebelum menginjakkan kaki di dunia perfilman, wanita ini bekerja di bidang keuangan dan perbankan investasi. Namun, hidupnya berubah saat ia mengunjungi tanah leluhurnya.

Dia lalu menyebutnya sebagai “perjalanan transformatif” ke Palestina bersama anak-anaknya pada tahun 2013. Dia mulai benar-benar memahami perjuangan menjadi orang Palestina: berada di rumah sekaligus menjadi pengungsi tanpa kewarganegaraan yang melarikan diri dari kekerasan permukim.

Salah satu adegan di film pendek “The Present”. Foto: Youtube/Ajyal Film Festival

Pada saat itu, dia memutuskan untuk menceritakan kisah-kisahnya ketika kembali ke Inggris. Dia lalu mendirikan rumah produksi Native Liberty dan sumber daya digital, Oceans for Injustice, untuk mendekonstruksi pendudukan militer Israel dengan cara yang unik.

Farah membuat karyanya sedikit berbeda dari yang lain, seperti terdapat beberapa bagian difilmkan dengan gaya dokumenter di Tepi Barat untuk membuat adegan-adegan tersebut menjadi otentik dan seperti nyata.

Para penonton akan menikmati sebagian besar adegan berada di sekitar pos pemeriksaan keamanan, serta interaksi tokoh utama dengan personel Israel pada film berdurasi 24 menit tersebut. Adegan-adegan juga memperlihatkan kesadisan militer Israel.

Rasa sakit dan ketidakberdayaan terlihat jelas di mata Youssef saat dia mencoba melindungi putrinya sambil memohon tentara untuk membiarkannya lewat dengan lemari es. Hadiah yang ingin dibawa pulang untuk sang istri tercinta malah terhambat oleh petaka.

“Aku hanya ingin pulang. Ini hanya sebuah lemari es. Apa yang salah denganmu? Apakah kamu tidak punya lemari es? APA YANG KAMU MAU DARI AKU?!” teriaknya frustrasi saat ditolak lewat karena protokol keamanan melarangnya.

Protokol keamanan ini dirancang sedemikian rupa untuk menghalangi kehidupan sehari-hari warga Palestina. Mereka tidak memiliki tujuan nyata selain menggunakan kekuatan brutal terhadap orang-orang Palestina, dan untuk mengendalikan serta melukai warga Palestina baik secara mental maupun fisik.

“The Present” adalah kisah tentang lemari es, kawat berduri, pos pemeriksaan keamanan, perang, cinta, dan kehidupan. Farah Nabulsi telah menciptakan sebuah mahakarya, merobek stereotip seputar kehidupan Palestina dan menghadirkan representasi sejati lewat layar.

Film ini bukan satu-satunya karya yang dinominasikan Oscar di mana menceritakan tentang kekejaman Israel. Sebuah film pendek “White Ego”, yang menceritakan tentang perlakuan Israel terhadap migran Afrika, juga ikut dalam kompetisi.

Comments are closed.