Tetaplah Teguh BEM UI! Jadi Aktivis Masa Kini Lebih Sulit dari Zamanku

Aksi BEM SI, Rabu (16/6/2021). dok M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Hattrick BEM UI melayangkan kritik pada pemerintahan era Jokowi patut diacungi jempol. Di masa buzzer lebih menyeramkan daripada nilai D dari dosen atau sekadar larangan ikut kuliah lanjutan dengan alasan jatah absen sudah habis, keberanian untuk tetap bersuara lantang menjadi sebuah kemewahan.

Selama Jokowi menjabat sebagai presiden, setidaknya sudah ada tiga aksi dari BEM UI yang berhasil mencuri perhatian publik. Tanpa harus menduduki gedung DPR, membakar foto presiden atau mengarak kerbau ke depan Istana Merdeka. Cukup dengan mengacungkan kartu kuning kepada Jokowi saat menghadiri Dies Natalis ke-68 UI pada 2018 hingga menasbihkan Jokowi sebagai ‘King of Lip Service’ melalui unggahan di sosial media.

Selengkapnya bisa dilihat di sini:

Keberanian BEM UI bukan tanpa akibat. Akun sosial media dan aplikasi chatting anggota BEM sudah mulai diretas. Hal biasa yang terjadi belakangan ini pada para orang-orang kritis di negeri ini, seringnya terjadi kepada para pengkritik rezim.

Belum lagi ada dosen yang justru tidak mendukung daya kritis anak didiknya. Lebih memilih membela rezim dan kemudian berkoar-koar di sosial media.

Saya kemudian teringat beberapa tahun lalu, di akhir periode pertama dan awal periode kedua Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, seperti layaknya mahasiswa yang aktif dan kritis, saya ikut menyuarakan kritikan pedas pada rezim. Sampai kemudian nasib membawa saya menjadi Ketua BEM, turun ke jalan untuk menyuarakan kritikan menjadi bagian dari pergerakan.

Tapi nasib saya dan saya yakin banyak juga aktivis-aktivis mahasiswa lain di era itu sungguh sangat berbeda dengan yang terjadi dengan para aktivis mahasiswa saat ini. Kami tak perlu khawatir diserang buzzer walaupun saat itu facebook dan twitter sudah mulai ramai digunakan. Kami tak perlu khawatir akan ada yang meretas ponsel kami dan yang paling penting saat itu, kami tidak perlu takut dikejar-kejar UU ITE.

Memimpin demonstrasi tahun 2010. dok. Pribadi

Bahkan, salah satu guru besar di kampus saya mengenyam pendidikan saat itu beberapa kali berkata “Kalian ini diem-diem aja nggak demo, apa kampus dan negara ini sudah beres dan adem ayem sehingga para mahasiswa seperti kalian bisa diam-diam saja?”

Kritik-kritik ke pemerintah terus dilayangkan saat itu, baik secara langsung turun ke jalan, pembentukan opini di media sosial (walaupun penggunanya juga belum sebanyak sekarang), hingga secara simbolis mengarak kerbau ‘SiBuYa’ ke depan Istana Merdeka. Begitu mudahnya saat itu menjadi aktivis.

Maka, ketika di era penuh ketakutan pada dominasi buzzer ini masih ada yang berani kritis, mengingatkan penguasa agar tidak terbuai pada para penjilat di sekitarnya, sungguhlah hal tersebut perlu diapresiasi dan didukung.

Tetaplah teguh dan kritis BEM UI dan aktivis-aktivis mahasiswa di negeri ini. Independensi adalah kemewahan terbesar yang masih kalian miliki.

Comments are closed.