Terpapar Corona Tinggal Menunggu Giliran?

Ilustrasi buatan Indra Fauzi (kumparan) yang khusus dibikin untuk tulisan Pak Dalipin yang berjudul Tahun 2020.

“Terpapar corona tinggal menunggu giliran.”

Kalimat tersebut diucapkan seorang gadis semalam tadi. Meski cuma lewat telepon, tapi dari suaranya yang bergetar itu terasa jelas ketakutannya.

Gadis ini pegawai bank di Bandung dan bank tersebut tidak memberikan opsi work from home sehingga setiap hari ia harus bekerja di kantor.

Sebelum sekarang ini, efek pandemi untuknya terasa jauh. Tidak pernah ada kerabat, kolega, teman, yang terpapar corona bahkan hingga meninggal.

Tapi kemarin beda. Di samping mulai banyak teman-temannya yang terpapar, di depan matanya ada satu divisi (di kantornya) yang seluruh timnya kena Covid-19 dengan gejala yang cukup mengkhawatirkan. “Ruangan mereka ada di seberang ruangan aku,” katanya.

Selain itu, dia juga baru mendapat kabar tentang ibu salah seorang kolega dekatnya meninggal akibat Covid-19.

Apa yang dia rasakan persis seperti tulisan Pak Dalipin ini:

“COVID-19 tak perlu berusaha keras untuk melenggang sebar di Indonesia. Semakin hari semakin dekat saja korban yang berjatuhan karena virus ini. Dulu di awal-awal korban sekadar angka. Menjelang akhir tahun korban adalah teman jauh, teman dekat, kenalan, rekan kerja, teman sekolah, handai tolan, keluarga besar, keluarga inti, dan mungkin sebentar lagi kita sendiri.” (Pak Dalipin dalam Tahun 2020)

Kami sudah vaksin, dua dosis. Kami termasuk yang berusaha keras bertahan di tengah pandemi. Tapi belakangan ini Covid-19 sudah sedemikian parahnya sehingga kami merasa negeri ini perlu lockdown. Kami tahu mengapa pemerintah pusat dan daerah tidak mau lockdown (kami melek berita, dia bahkan melek ekonomi) tapi kami tetap ingin lockdown.

Nalar kami mengalah ketika dihadapkan ke urusan hidup-mati. Corona terkutuk ini betul-betul bikin takut. Dan di tengah ketakutan ini cuma selembar masker yang dapat diandalkan karena tak bisa lagi berharap pada mereka pemegang kendali kekuasaan di negeri ini.

Comments are closed.