Ternyata Orang di Sebelah Kamar Positif Corona, Panik Gak?

Image by Sumanley xulx from Pixabay

Ternyata orang di sebelah kamar saya yang demam, pilek, batuk, itu positif corona dengan cycle threshold value (CT) 19.

Memahami angka CT silakan baca artikel kumparannews di tautan ini. Tapi singkatnya, CT adalah tolok ukur kadar corona di tenggorokan, mulut, atau hidung seseorang. Angka CT di bawah 20 mengindikasikan “coronanya banyak dan sangat berpotensi menular.”

Nah, CT orang di sebelah kamar saya 19.

(muncul sayup-sayup lagu TikTok: Panik gak? Panik gak? Panik lah masa enggak~)

Hehe. Kami (tetangga kamarnya) tidak panik, kok. Lewat tulisan ini saya ingin berbagi tentang bagaimana keseharian kami.

Informasi soal dia positif corona kami dapatkan pada 29 Juni 2021, hanya beberapa jam setelah saya menayangkan tulisan “Terpapar Corona Tinggal Menunggu Giliran?

Kami (tetangganya) merasa sehat, tidak pilek, tidak batuk, tidak kenapa-napa, dan empat hari setelahnya kami swab antigen untuk berjaga-jaga. Syukurlah, hasilnya negatif.

Kok bisa tidak terpapar?

Ada beberapa hal menurut saya jadi kunci “hidup sehat bersama orang yang sedang isoman (isolasi mandiri)”.

Pertama (ini amat kami syukuri), kamar-kamar di rumah (indekos) besar ini berjarak jauh dan lorongnya punya ventilasi dahsyat menghadap langit luas sampai ke Pluto. Sinar matahari pagi dan sore masuk. Setiap kamar punya kamar mandi yang ventilasinya sendiri-sendiri.

Kedua, isoman yang ia lakukan benar-benar menutup rapat jendela dan pintu kamar. Makanan, minuman, pakaian, paket, dan segala-galanya diantarkan ke pintu kamar.

Ketiga, kami-kami yang sehat walafiat ini seluruhnya karyawan WFH (work from home) dan benar-benar tidak pernah ke luar. Justru hanya dia lah yang WFO (work from office) sehingga terpapar corona dari koleganya.

Karena WFH dan berikhtiar #dirumahaja, kami praktis hanya punya dua sumber makanan, yaitu dari aplikasi ojek online dan/atau masak sendiri (bahan-bahan makanan yang dimasak itu dipesan via ojol juga). Kami tidak pernah makan di luar.

Keempat, masker. Kami selalu pakai masker saat keluar kamar. Setelah ramai berita corona varian delta, masker kami dobel. Taat prokes meski males.

Kelima, kami punya cara sendiri-sendiri untuk menjaga kesehatan. Ada yang menyetok buah, vitamin, hingga madu. Ada juga yang berolahraga entah itu di treadmill, sepeda, hingga kardio.

Ini sudah sepekan dia isoman. Sekarang demam dan flu sudah hilang, tinggal batuk. Kami yakin ia akan pulih tak lama lagi.

Dari segala-gala ikhtiar itu tentu Allah Maha Penyayang yang membuat kami sehat sampai sekarang. Dan kepada-Nya kami memohon agar corona ini dilenyapkan.

Comments are closed.