Target Bangun Pembangkit EBT 10 GW, Pertamina Butuh Rp 168 Triliun

Di tengah pandemi, produksi setara listrik geothermal Pertamina tahun 2020 lebih tinggi 14 persen dari target. Foto: Pertamina

PT Pertamina (Persero) menargetkan untuk bisa membangun pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 10 Gigawatt (GW) hingga 2026. Biaya yang dibutuhkan kira-kira mencapai USD 12 miliar atau sekitar Rp 168 triliun (jika asumsi kurs Rp 14.000 per USD).

Corporate Secretary PT Pertamina Power Indonesia (PPI), Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE), Dicky Septriadi mengatakan salah satu proyek yang bakal didorong perseroan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Listrik yang dihasilkan ini akan digunakan untuk kebutuhan usaha internal Pertamina.

“Untuk yang belanja modal (Capex) yang tahun 10 GW dengan target 10 GW kita ada proyeksi di sekitaran USD 12 billion,” katanya dalam Media Briefing Pertamina Sub-holding PNRE secara virtual, Kamis (1/7).

Dia menjelaskan, beberapa PLTS Atap akan dipasang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina. Pembangkit yang sama juga akan direalisasikan di lingkungan Refinery Unit (RU) Dumai, Riau.

“Kita ada beberapa proyeksi projek ada pengembangan PLTS di SPBU Pertamina. Sempat diresmikan pak Menteri ESDM langsung terkait dengan pemasangan PLTS,” kata Dicky.

Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) EDSM, Jakarta, Rabu (24/3). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Pertamina Bakal Bangun 883 MW Pembangkit Panas Bumi

Selain PLTS, pembangkit berbasis EBT yang juga menjadi bisnis Pertamina dalam transisi energi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Government & Public Relation Manager PT Pertamina Geothermal Energy dalam acara Media Briefing Pertamina Sub-holding PNRE, Sentot Yulianugroho mengatakan perusahaan bakal membangun kapasitas listrik terpasang 883 Megawatt (MW) dari PLTP.

“Saat ini kita fokus pada beberapa pengembangan kapasitas panas bumi yang akan ditargetkan di 2024 883 MW,” kata Sentot dalam kesempatan yang sama.

Target ini akan ditingkatkan pada 2029 hingga 2030 mendatangkan menjadi 1.300 MW. Saat ini, PGE sedang melakukan beberapa proses kajian inisiasi terkait dengan beberapa produk-produk turunan, yang mungkin bisa diekstraksi dari panas bumi seperti green hydrogen.

Menurut dia, Singapura saat ini tengah membutuhkan pasokan hidrogen hijau untuk bahan bakar kapal. Singapura sudah menggunakan bahan bakar untuk transportasi kapal.

“Ini yang sedang kami jajaki untuk bisa ke sana marketnya,” ujarnya.

Hingga 2019, Pertamina memiliki kapasitas terpasang PLTP mencapai 672 MW. Kapasitas listrik itu terpasang di lima area panas bumi yang telah beroperasi, yaitu PLTP Kamojang Unit I-V, PLTP Lahendong Unit I-VI, PLTP Ulubelu Unit I-IV, PLTP Karaha Unit I, dan PLTP Lumut Balai Unit I.

Comments are closed.