Tangisi Korban COVID-19, Eri Cahyadi: Mungkin Kita Banyak Dosa

Wali Kota Eri Cahyadi saat doa bersama untuk korban COVID-19, di Balai Kota Surabaya, Kamis (1/7) sore. Foto: Humas Pemkot Surabaya

Warga yang terpapar COVID-19 di Surabaya tak pernah surut. Berdasarkan data Satgas COVID-19 Jatim, per 1 Juli 2021, terdapat 75 kasus baru COVID-19 di Surabaya. Angka ini tak beranjak dari sehari sebelumnya yang juga terdapat 75 kasus baru. Sedangkan pasien yang sembuh relatif lebih kecil dibanding mereka yang terpapar setiap harinya. Di tanggal 1 Juli 2021 hanya ada 37 pasien yang berhasil sembuh dari COVID-19.

Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar istighosah dan doa bersama. Kegiatan ini untuk melengkapi dorongan spiritual dalam upaya menyelesaikan pandemi COVID-19.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, istighosah dan doa bersama ini merupakan bentuk ikhtiar untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Doa bersama ini akan digelar rutin setiap hari Kamis setelah salat Ashar dan diikuti seluruh PD di pemkot beserta pengurus RT/RW dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK).

“Insya Allah setiap Kamis di Pemkot Surabaya itu semuanya melalui zoom dengan RT/RW dan LPMK dan seluruh warga itu melakukan pembacaan Suratul Yasin, setelah Shalat Ashar. Kita doa bersama, setelah itu Jum’at pagi kita ada Khotmil Quran,” kata Eri, (1/7).

Eri menyebut, saat ini sudah banyak warga Surabaya yang meninggal karena COVID-19. Karena itu, perlu adanya dorongan spiritual di samping ikhtiar dunia untuk menyelesaikan pandemi ini.

“Dengan istighfar yang kita lakukan melalui pembacaan Surat Yasin, pengajian setiap Kamis dan Jum’at, semoga musibah COVID-19 ini bisa ditarik dari kota Surabaya. Dan saudara yang sakit diberi kesehatan, yang sehat Insya Allah terus sehat. Itu saja,” harapnya.

Eri lantas menuturkan, bahwa doa bersama ini juga sebagai bentuk introspeksi serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurutnya, pandemi yang berlangsung hampir dua tahun ini bisa saja cobaan atau musibah dari Tuhan. Sehingga perlu dorongan dhohir dan batin untuk menyelesaikannya.

“Mungkin kita harus introspeksi diri. Kejadian ini bisa cobaan, bisa musibah. Kenek opo dicoba (kena apa diuji), karena mungkin kita banyak dosa. Kita sudah lupa. Banyak lupa dengan Gusti Allah. Sehingga kita mendekatkan diri lagi permohonan maaf kepada Gusti Allah. Ampunan dosa dengan istighfar,” imbuhnya.

Dalam momen doa bersama di Kamis sore itu, Eri juga nampak meneteskan air mata. Terutama, saat dia memimpin langsung doa di akhir rangkaian acara. Sembari menundukkan kepala, orang nomor satu di lingkup pemkot ini mengaku tak kuasa menahan air mata ketika membayangkan warganya sakit dan meninggal karena COVID-19.

“Siapa yang tega melihat keluarga kita masuk rumah sakit. Banyak pakai ventilator, sedih rasanya. Yang saya bayangkan ketika itu terjadi pada orang yang kita cintai. Padahal sekarang seluruh warga Surabaya adalah keluarga saya,” tutur dia.

Bahkan Eri mengaku rela, apabila jabatannya ditukar dengan kesehatan untuk seluruh warga Surabaya. Baginya, tidak ada yang bisa dibanggakan ketika harus melihat warganya susah.

“Dalam hati saya bilang, Ya Allah jika bisa ditukar dengan jabatan saya tidak apa-apa, yang penting warga Surabaya sehat kabeh (sehat semua). Sebagai pemimpin, saya lilo (rela) menerima semuanya. Saya ikhlas menerimanya. Tapi doa saya hanya satu, sembuhkan warga Surabaya,” pungkasnya.

Comments are closed.