Suhu Dingin Terjang Sejumlah Wilayah Pulau Jawa, BMKG: Ini Fenomena Bediding

Embun Es akibat suhu ekstrem di Dieng, tepatnya di komplek Candi Arjuna. Foto: Dok. UPT Pengelola OW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara

Belakangan masyarakat di sejumlah pulau Jawa mengeluhkan cuaca dingin di malam hingga pagi hari. Hal itu mereka ungkapkan dalam cuitan di media sosial Twitter.

Di Dieng, Jawa Tengah misalnya, menurut akun Twitter @areawonosobo_ suhu udara di sana berkisar 10 hingga 1 derajat Celcius pada malam dan pagi hari. Ini menyebabkan tanaman di Dieng diselimuti es.

“Dieng berembun es… ges… Sepertinya musim salju sudah mulai di Tanah Para Dewa ini… Dari kemarin sore sudah muncul tanda-tandanya… Suhu sore hari sekitar pukul 17.00 suhu Dieng sudah sekitar 10 derajat Celcius… Dan pagi ini mencapai minus 1 derajat Celcius. Cakupan lokasi es tidak begitu luas,” tulis akun @areawonosobo_.

Dijelaskan oleh Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, cuaca dingin di sejumlah wilayah Jawa ini terkait dengan fenomena Bediding atau kondisi lebih dingin pada periode puncak musim kemarau.

Ia menjelaskan, saat ini Jawa dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menuju periode puncak musim kemarau, mulai dari Juli hingga Agustus atau September. Pada periode ini, angin yang bertiup dominan timuran dari Benua Australia membawa massa udara yang umumnya bersifat lebih kering dan dingin.

Terlebih saat ini di Benua Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Demikian juga angin monsun Australia yang melewati perairan Samudera Indonesia, di mana suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin.

Pada saat puncak musim kemarau, umumnya jarang terjadi hujan. Tutupan awan berkurang sehingga panas permukaan Bumi akibat radiasi Matahari lebih cepat dan lebih banyak yang dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang.

Langit yang cenderung bersih dari awan atau clear sky akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepaskan ke atmosfer luar sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Embun Es akibat suhu ekstrem di Dieng, tepatnya di komplek Candi Arjuna. Foto: Dok. UPT Pengelola OW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara

“Kondisi lebih dingin pada periode puncak musim kemarau ini oleh orang Jawa diistilahkan ‘bediding’, umumnya berlangsung dari Juli hingga September,” kata Siswanto saat dihubungi kumparanSAINS, Rabu (7/7).

Selain itu, gerak semu Matahari saat ini masih berada pada Belahan Bumi Utara (BBU) sehingga radiasi maksimum Matahari ada di BBU, sementara di Belahan Bumi Selatan (BBS) radiasinya sedikit lebih rendah.

“Jadi meskipun posisi matahari saat ini berada pada titik jarak terjauh dari bumi (aphelion) dalam siklus gerak revolusi bumi mengitari matahari, hal itu tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan,” katanya.

Jadi fenomena ‘bediding’ sendiri, di mana suhu terasa lebih dingin saat menuju puncak musim kemarau lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika dan atmosfer fisis dekat permukaan bumi, dan ini merupakan hal biasa terjadi setiap tahun.

Bahkan, kata Siswanto, ini pula yang menyebabkan di beberapa wilayah seperti Dieng dan dataran tinggi lainnya, berpotensi terjadi embun es (embun upas) yang dikira salju oleh sebagian orang.

Comments are closed.