Studi: Vaksin Moderna dan Sputnik V Ampuh Lindungi Tubuh dari Varian Delta

Ilustrasi vaksin corona Moderna. Foto: Eduardo Munoz/REUTERS

Dua vaksin COVID-19 tipe berbeda, yakni vaksin Moderna dan Sputnik V, disebut efektif dalam memicu antibodi terhadap virus corona varian delta.

Varian delta memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian lainnya.

Vaksin COVID-19 Moderna merupakan sebuah vaksin corona tipe mRNA produksi perusahaan asal Amerika Serikat, terbukti memberikan perlindungan yang baik terhadap tubuh dari varian Delta.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh perusahaan Moderna Inc itu diumumkan pada Selasa (29/6) waktu setempat.

Dikutip dari Reuters, penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan serum darah dari delapan partisipan yang diperoleh satu pekan setelah mereka divaksinasi dosis kedua dengan vaksin tersebut.

Pihak Moderna mengungkapkan, vaksin ini terbukti memicu respons antibodi dalam tubuh penerima terhadap seluruh varian corona yang diuji.

Data dari Moderna menunjukkan, vaksin ini jauh lebih efektif dalam memicu antibodi terhadap varian delta dibandingkan dengan varian Beta (varian corona yang pertama ditemukan di Afrika Selatan).

“Data-data baru ini sangat menggembirakan dan memperkuat keyakinan bahwa vaksin COVID-19 Moderna akan tetap bisa melindungi dari varian-varian yang baru terdeteksi,” ujar CEO Moderna, Stephane Bancel.

Baru-baru ini, beberapa negara telah memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin ini seperti India dan Vietnam.

Seorang petugas medis menunjukkan vaksin Sputnik V. Foto: Maxim Shemetov/REUTERS

Sementara Vaksin Sputnik V yang dikembangkan oleh Gamaleya Institute di Moskow, Rusia, ini disebut memiliki efikasi hingga 90 persen terhadap varian Delta.

Vaksin Sputnik V adalah vaksin tipe vektor virus berbasis adenovirus, layaknya vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

Sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa vaksin ini memiliki efikasi hingga 92 persen terhadap virus corona strain awal.

Menurut Wakil Direktur Gamaleya Institute, Denis Logunov, angka ini diperoleh berdasarkan catatan digital medis dan vaksin, seperti dilansir RIA News Agency.

Comments are closed.