St.Mary, Kota Paling Bau di Dunia yang Diselimuti Saus Seafood Selama 19 Tahun

St. Mary, kota paling bau di dunia Foto: Wikimedia Commons

Setiap kota ataupun negara di dunia memiliki keunikannya masing-masing. Seperti kontur alam, sejarah, kebiasaan, dan adat istiadat masyarakat aslinya menjadi daya tarik tersendiri bagi para traveler.

Selain budaya dan sejarah, fenomena alam juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata. Seperti yang terjadi di Kota St. Mary di Kanada. St. Mary menjadi kota dengan predikat paling bau di dunia, lantaran diselimuti oleh bau busuk dari saus seafood.

Bau busuk itu kini melekat dan tak pernah hilang hingga 19 tahun. Sekitar tahun 2002, sebuah perusahaan saus ikan, Atlantic Seafood Sauce menutup pabrik mereka di kota St. Mary’s, Nefwoundland, Kanada. Penutupan ini menyebabkan lebih dari 100 tong berisi saus itu tertinggal di sana.

Ikan sarden kaleng dan ikan sarden sedang. Foto: Shutterstock

Namun, hingga 19 tahun berlalu, bau busuk yang dihasilkan dari saus seafood itu tetap tercium, bahkan menyebabkan polusi udara di Kota St. Mary. Dilansir CBC, bau busuk dan ancaman kesehatan yang ditimbulkan dari sikap sembrono pemilik pabrik, membuat kota itu perlahan ditinggal penduduk lantaran tak nyaman dengan aromanya.

“Ketika baunya mulai, saya harus masuk, menutup jendela dan pintu kami, dan tetap di dalam, seperti seorang tahanan,” kata Muriel Whelan, kepada CBC News.

Selama hidup di St. Marry, penduduk kota ini selalu memakai masker respirator N95 sekali pakai ketika beraktivitas. Bahkan, dalam kehidupan sehari-sehari, penduduk kota itu harus memakai pakaian pelindung lengkap untuk menghindari terjadinya potensi penyakit kulit.

St. Mary, kota paling bau di dunia Foto: Wkimedia Commons

Menurut laporan CBC, pihak pemerintah St. Mary’s sudah berusaha mencari perusahaan dari pabrik ini untuk mengangkat semua tong berisi saus seafood yang masih ada. Tapi ternyata tidak semudah itu membersihkannya.

Di tahun 2016 sebuah perusahaan swasta disewa untuk membersihkan pabrik itu, dan mulai mengeluarkan sisa saus ke lautan. Tetapi, usaha tersebut tidak membuahkan hasil, dan proses pembersihan dihentikan.

Lalu, ketika Wakil Wali Kota St. Mary’s, Steve Ryan, mencoba untuk menyewa orang lain, tidak ada yang mau mengambil tawaran ini.

“Mereka mengatakan selama 30 tahun menjalani pekerjaan untuk membersihkan tempat, mereka sempat kaget ketika melihat banyak sekali limbah makanan di sana. Anehnya tidak ada tikus sama sekali, mereka bilang bahwa tikus tahu jika limbah makanan itu sudah beracun,” tutur Ryan.

Ilustrasi Masker N95. Foto: Shutter Stock

Ryan menyebut bahwa pemerintah kota harus mengeluarkan biaya sebesar 700.000 dolar Canada atau sekitar Rp 8,1 miliar untuk membuang limbah tersebut.

Pabrik Saus Makanan Laut Atlantik dibuka pada musim panas 1990, yang dipergunakan sebagai pabrik produksi jenis saus seafood fermentasi yang sering ditemukan dalam masakan Vietnam.

Namun, pada tahun 2000, Badan Inspeksi Makanan Kanada (CFIA) melakukan menemukan bahwa pabrik tersebut menggunakan bahan makanan yang tidak sehat. Pabrik tersebut kemudian berhenti beroperasi pada tahun 2002 dan meninggalkan ratusan ton sampah saus ikan.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).

Comments are closed.