Spanyol Rencana Izinkan Cuti Menstruasi 3 Hari, Akan Jadi yang Pertama di Eropa

Ilustrasi posisi tidur ketika menstruasi Foto: Shutterstock

Ladies, saat ini, belum terlalu banyak negara yang menerapkan kebijakan cuti menstruasi bagi karyawan perempuannya. Bahkan di Eropa, belum ada satu pun negara yang memiliki kebijakan ini. Namun, realita tersebut kemungkinan besar akan diubah oleh Spanyol.

Ya, Ladies, Pemerintah Spanyol dikabarkan tengah merencanakan penerapan kebijakan cuti menstruasi bagi karyawan perempuannya selama tiga hari dalam sebulan. Lama cuti tersebut bahkan bisa diperpanjang dengan kondisi tertentu.

Dilansir BBC, Rancangan Undang-undang (RUU) tersebut masih berupa draf. Rencananya, draf itu akan dibawa ke kabinet Pemerintahan Spanyol untuk dikaji pada pekan depan. Jika berhasil lolos dan bisa diundangkan, Spanyol akan menjadi negara pertama di Eropa yang menerapkan kebijakan ini secara sah di mata hukum.

“Kami akan mengakui secara hukum hak-hak perempuan yang menderita rasa sakit ketika menstruasi, dengan memberikan cuti khusus sementara yang akan dibayar oleh negara sejak hari pertama [menstruasi],” ujar Menteri Kesetaraan Spanyol, Irene Montero, pada Jumat (13/5), sebagaimana dikutip dari Euronews.

Isi draf RUU soal cuti menstruasi

Ilustrasi nyeri saat menstruasi. Foto: Shutter Stock

Jika sah berlaku, seperti apa aturannya, Ladies? Dikutip dari Marie Claire, perempuan yang mengalami dismenore atau nyeri menstruasi berlebih, akan diizinkan untuk mengambil cuti setiap bulannya hingga tiga hari, dengan syarat harus ada surat dari dokter. Perlu digaris bawahi, cuti ini hanya berlaku bagi mereka yang menderita dismenore, bukan rasa tidak nyaman ringan akibat menstruasi.

Cuti menstruasi dengan surat dokter ini bisa diperpanjang hingga lima hari, jika memang rasa sakit yang diderita sangat luar biasa dan mengganggu berjalannya kegiatan sehari-hari.

Sebagai informasi, dismenore adalah rasa nyeri dan kram luar biasa yang dirasakan ketika menstruasi. Dikutip dari Johns Hopkins Medicine, gejalanya berupa rasa sakit di bagian perut bawah, nyeri punggung bawah, rasa sakit yang menjalar hingga kaki, rasa mual, muntah, diare, lelah berlebih, sakit kepala, hingga hilang kesadaran.

Menurut Serikat Dokter Spesialis Ginekologi dan Obstetri Spanyol, setidaknya sekitar 1/3 perempuan di Spanyol yang mengalami menstruasi, pernah menderita dismenore.

Ilustrasi menstruasi. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

“Jika seseorang menderita sebuah penyakit dengan gejala-gejala dan cuti sakit diberikan kepadanya, maka hal yang sama juga harus berlaku bagi menstruasi,” kata Sekretaris Negara untuk Kesetaraan, Angela Rodriguez, kepada surat kabar El Periodico.

Nah, saat ini, negara yang memiliki cuti menstruasi bisa dihitung dengan jari, Ladies. Negara-negara itu adalah Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Zambia.

Tak hanya soal cuti menstruasi, Pemerintah Spanyol juga dikabarkan tengah melakukan diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan reproduksi rakyatnya, Ladies. Salah satu yang menjadi bahan diskusi adalah soal Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada barang-barang penunjang menstruasi perempuan. Kabarnya, Pemerintah Spanyol berencana untuk menghapus PPN dari produk-produk seperti pembalut dan tampon.

Selain itu, pembalut dan tampon juga rencananya akan disediakan secara gratis oleh sekolah-sekolah dan penjara perempuan kepada mereka yang membutuhkan. Alat kontrasepsi pun juga akan diberikan subsidi.

Nah, harapannya, dengan adanya Undang-undang yang menghormati siklus menstruasi ini, hak-hak perempuan akan semakin dijunjung tinggi oleh negara.

Comments are closed.