Soal Puluhan Ijazah Siswa SMAN 10 Padang Ditahan, Ini Penjelasan Ketua Komite

SMAN 10 Padang. Foto: wikipedia

Pihak komite SMAN 10 Padang, Sumatera Barat, akhirnya buka suara soal ditahannya 27 ijazah siswa yang lulus di tahun 2021.

Ketua Komite SMAN 10 Padang Yulakhyari Sastra menyatakan pihaknya membenarkan menahan ijazah 27 siswa. Penahanan ijazah itu terkait kewajiban yang mesti dibayarkan oleh orang tua siswa.

Menurutnya ada sekitar 300 lebih siswa yang lulus di SMAN 10 Padang pada tahun ini. Dari jumlah itu, hanya 27 orang saja yang menolak membayar uang komite.

“27 orang itu satu lokal,” katanya, Rabu 30 Juni 2021.

Dia menjelaskan 300 lebih siswa itu berada di 9 lokal kelas 12 dan 27 orang yang ditahan berada di satu lokal yang sama. Mereka semua sepakat tidak membayar uang komite yang telah ditentukan sebesar Rp 1,2 juta.

Dikatakannya pungutan sebesar Rp 1,2 juta itu bukan tanpa alasan. Uang itu digunakan untuk membiayai berbagai macam seperti pengurusan ijazah, pembuatan foto, pengetikan ijazah, dan biaya kegiatan yang tersebar di 36 ekstrakurikuler.

“Itu semua bukan orang tuanya yang membayar, komite yang membayar, saya yang membiayai dengan biaya komite. Jika mereka bertanya, kenapa ditahan, ya karena saya yang bayar, kenapa tidak boleh saya menahan ijazah,” ujarnya.

Menurut dia jika memang orang tua siswa tidak mau membayar uang sebesar Rp 1,2 juta maka mereka bisa membayar sebesar Rp 812 ribu atau orang tua harus memiliki surat keterangan tidak mampu (SKM).

Dia menjelaskan alasan iuran itu disamaratakan menjadi Rp 1,2 juta karena mengingat di antara siswa ada yang tidak mampu. Penyamarataan itu menurutnya adalah cara yang tepat.

Yulakhyari Sastra mengingatkan orang tua bisa memilih dua pilihan tersebut, yaitu membayar minimal Rp 812 ribu atau menunjukkan SKM. Jika tidak maka ijazah akan tetap ditahan.

Sebelumnya, sejumlah orang tua siswa SMA 10 telah melapor ke Ombudsman terkait penahanan ijazah itu. Pihak Ombudsman menyatakan akan mempelajari laporan itu dan sudah banyak menerima laporan serupa.

Comments are closed.