Soal Kerumunan Vaksinasi, Akademisi Unila: Dinkes Lampung Perlu Evaluasi

Kerumunan antrean masyarakat yang ingin mendapatkan vaksinasi COVID-19 di komplek Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Sabtu (3/7) | Foto : Sidik Aryono/ Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung – Kerumunan pada saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung viral di media sosial, akademisi Unila menilai pihak penyelenggara tidak siap menampung antusias masyarakat yang cukup tinggi untuk mengikuti vaksinasi, Sabtu (3/7).

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 massal yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Kesehatan terkait, tengah menjadi sorotan, baik media lokal ataupun nasional. Pasalnya, vaksinasi yang diupayakan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan membentuk sistem kekebalan tubuh dari virus tersebut justru menimbulkan kerumunan masyarakat yang mengantre.

Selain itu, informasi seputar vaksinasi COVID-19 massal di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga tersebar di media sosial. Sehingga, masyarakat dari berbagai daerah kabupaten/kota se-provinsi Lampung datang ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung sendiri menyiapkan 3.000 dosis vaksin dosis pertama pada vaksinasi massal hari ini. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana, menyebut akan menambah 2.000 dosis lagi, sehingga total menjadi 5.000 dosis.

Menanggapi kerumunan yang terjadi di komplek Dinkes Provinsi Lampung, Sabtu (3/7) pagi, Reihana mengatakan bahwa antusiasme masyarakat cukup besar untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Pihaknya juga tidak memungkiri bahwa cukup kesulitan untuk mengatasi antrean masyarakat, yang berujung pada kerumunan. Padahal, kerumunan adalah salah satu langkah yang harus diupayakan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

“Antusiasme masyarakat memang cukup besar, bahkan informasinya dari jam setengah 6 sudah ada yang mengantre di depan. Jadi kita mengantisipasinya di awal tadi agak sulit. Tapi sudah kita berikan nomor antrean, kita sampaikan ini yang masuk 500 orang dulu mengantre di tenda, kemudian akan dipanggil lagi bergiliran,” kata Reihana.

Pihak Dinkes Provinsi Lampung menyiapkan aula khusus untuk penyuntikan vaksin, dengan kapasitas 10 orang secara bergantian. Kemudian, di depan aula disiapkan tenda untuk menunggu giliran, yang bersebelahan dengan tenda observasi pasca vaksin. Sementara di pelataran setelah pintu masuk setelah mendapat nomor antrean, disediakan pula tenda untuk mengantre, sebelum peserta vaksin dengan jumlah 10 hingga 20 orang dipanggil untuk menuju aula vaksinasi.

Sementara itu, terkait kerumunan yang terjadi pada pelaksanaan vaksinasi COVID-19 massal di Dinkes Provinsi Lampung, Akademisi Universitas Lampung, Selvi Diana Meilinda mengungkapkan perlu ada skenario yang dipersiapkan, sehingga kerumunan dapat dicegah.

“Dinkes Lampung sebaiknya memperkirakan hal-hal yang mungkin terjadi sebelum program vaksinnya running. Ini akhir pekan, kasus COVID-19 sedang tinggi, ada isu sertifikat vaksin jadi syarat untuk akses layanan publik, pasti masyarakat antusias,” ujar Selvi.

Dia menambahkan, informasi pada flyer terkait vaksinasi COVID-19 massal sudah beredar secara masif, serta kemudahan prosedur dan persyaratan. Masyarakat hanya perlu membawa fotokopi e-KTP dan mencantumkan nomor handphone. Namun, lagi-lagi memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat juga perlu skenario yang matang.

“Tambah lagi flyer vaksin yang tersebar secara massif, tidak bisa semudah itu skenarionya, datang langsung dan bawa fotokopi e-KTP. Perlu skenario cadangan yang disiapkan, terlebih ini durasinya sehari. Mulai dari pendataan peserta vaksinasi, perkiraan puncak kedatangan masyarakat, pada saat pelaksanaan, hingga skenario jika terjadi kerumunan,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi kerumunan pada masyarakat yang mengantre, menurut Selvi bisa diupayakan sejak saat pendataan perserta vaksin. Kemudian, waktu pelaksanaan vaksinasi hanya tercantum hari Sabtu 3 Juli 2021, mulai pukul 09.00 WIB sampai selesai, yang juga berpotensi menimbulkan kerumunan, karena kedatangan peserta vaksin mengacu pada satu waktu.

“Mulai dari pendataan, bisa melalui google formulir secara online, ada pembagian jadwal atau sesi waktunya, sehingga masyarakat tidak datang di satu waktu saja, sehingga potensi timbulnya kerumunan sudah diantisipasi,” pungkasnya. (*)

Comments are closed.