Sidang Pledoi Ferdy Sambo: Tak Ada Niat Bunuh Yosua; Merasa Tersudutkan

Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Yosua, Ferdy Sambo bersiap mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Ferdy Sambo membacakan pembelaan atau pledoinya di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1) kemarin. Dalam pembelaannya, Sambo mengaku merasa tersudutkan sejak awal kasus bergulir bahkan tidak ada ruang praduga tak bersalah dari publik untuknya.

Karena merasa frustrasi dengan tekanan dari berbagai pihak, Sambo mengaku sampai ingin memberikan judul nota pembelaannya dengan “Pembelaan yang Sia-sia.” Berbagai hinaan, cacian, olokan, serta tekanan yang luar biasa, menurut Sambo, diluncurkan kepada dirinya dan keluarga selama proses pemeriksaan dan persidangan.

“Berbagai tuduhan bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan dari Majelis Hakim, rasanya tidak ada ruang sedikitpun untuk menyampaikan pembelaan, bahkan sepotong kata pun tidak pantas untuk didengar apalagi dipertimbangkan dari seorang terdakwa seperti saya,” ucap Sambo.

Sambo menyinggung, sepanjang 298 tahun bekerja sebagai aparat penegak hukum, ia bahkan tak pernah melihat tekanan yang begitu besar kepada seorang terdakwa seperti yang ia alami saat ini. Ia mengeklaim nyaris kehilangan hak sebagai terdakwa untuk mendapatkan pemeriksaan yang objektif.

“Dianggap telah bersalah sejak awal pemeriksaan dan haruslah dihukum berat tanpa perlu mempertimbangkan alasan apa pun dari saya sebagai terdakwa,” curhatnya.

Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Yosua, Ferdy Sambo, mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Sambo juga menumpahkan keluh-kesahnya selama menjalani proses peradilan. Kata Sambo, ia mendapatkan beragam tuduhan liar yang tersebar di masyarakat seolah ia adalah penjahat terbesar sepanjang sejarah manusia.

“Begitu juga tudingan sebagai bandar narkoba dan judi, melakukan perselingkuhan dan menikah siri dengan banyak perempuan, melakukan LGBT, memiliki bunker yang penuh dengan uang, sampai dengan penempatan uang ratusan triliun dalam rekening atas nama Yosua, yang kesemuanya adalah tidak benar!” tegasnya.

Ia menduga, beragam isu tersebut sengaja disebarkan untuk menggiring opini agar hakim bisa langsung menjatuhkan hukuman tanpa perlu mendengar pembelaannya. Sambo juga menyinggung video yang memperlihatkan Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso yang membahas vonis terhadapnya.

Video Iman Santoso itu viral di media sosial beberapa waktu lalu. Dalam narasi salah satu video disebut Sambo akan mendapat vonis seumur hidup, sedangkan di video lain Sambo disebut divonis mati.

“Nampaknya, berbagai prinsip hukum tersebut telah ditinggalkan dalam perkara di mana saya duduk sebagai terdakwa,” tutur Sambo.

Dalam nota pembelaan itu, Sambo bercerita bahwa ia tak pernah punya niat untuk membunuh Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Saat kejadian, ia sebenarnya hanya ingin mengklarifikasi soal cerita pelecehan seksual yang ia terima dari istrinya, Putri Candrawathi.

Namun, Sambo tak membantah jika ia memang meminta Ricky Rizal dan Richard Eliezer untuk mem-back up dirinya saat akan memintai keterangan Yosua. Katanya, untuk jaga-jaga jika Yosua melawan.

“Namun maksud yang saya sampaikan adalah semata-mata melakukan konfirmasi terhadap Yosua atas peristiwa yang telah dialami oleh istri saya Putri Candrawathi, sebagaimana fakta tersebut telah dibenarkan oleh saksi Ricky Rizal dan saksi lainnya,” kata Sambo.

Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Yosua, Ferdy Sambo mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Hari itu, di sepanjang perjalanan dari Saguling, Sambo mengaku pikirannya terus berkecamuk dan makin memuncak saat mobil yang ia tumpangi lewat rumah Duren Tiga 46. Apalagi saat ia melihat Yosua berdiri di depan rumah.

“Dengan amarah yang memuncak saya mengkonfirmasi Yosua, mengapa ia berlaku kurang ajar terhadap istri saya, namun Yosua menjawab dengan lancang, ‘kurang ajar bagaimana komandan?’ seolah tidak ada satu apa pun yang terjadi, kesabaran dan akal pikiran saya pupus, entah apa yang ada di benak saya saat itu, namun seketika itu juga terlontar dari mulut saya ‘hajar Chad…, kamu hajar Chad…’,” kata Sambo mengulangi perintahnya itu.

“Richard lantas mengokang senjatanya dan menembak beberapa kali ke arah Yosua, peluru Richard menembus tubuhnya, kemudian menyebabkan almarhum Yosua jatuh dan meninggal dunia. Kejadian tersebut begitu cepat, ‘stop…berhenti…’ saya sempat mengucapkannya berupaya menghentikan tembakan Richard dan sontak menyadarkan saya bahwa telah terjadi penembakan oleh Richard Eliezer yang dapat mengakibatkan matinya Yosua,” tambah Sambo.

Sambo lalu menyampaikan permintaan maafnya kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.Permintaan maaf yang sama juga disampaikan eks Kadiv Propam itu kepada keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.

“Akhirnya di tengah persidangan yang begitu sesak dan penuh tekanan ini, saya kembali menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada keluarga korban almarhum Yosua,” tutur Sambo.

“Saya juga menyampaikan sujud dan permohonan maaf kepada istri saya yang terkasih Putri Candrawathi dan anak-anak kami, saya telah lalai menjalankan tugas sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah yang baik, semoga Tuhan mengampuni saya dan kiranya Ia selalu memberikan keteguhan dan kekuatan kepada kalian,” imbuhnya.

Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Yosua, Ferdy Sambo mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Untuk menutup pembacaan pledoinya, Sambo lalu mengutip ayat Alkitab. Ayat-ayat itu ia kutip sebagai bentuk penyesalan dan memohon agar diampuni.

Mazmur 51:11 (51:13): Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padakuWahyu 3 ayat 19: Barang siapa ku kasihi, ia ku tegor dan ku hajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah

“Masa lalu adalah pengalaman berharga, hari ini adalah kehidupan kepastian, hari esok adalah pengharapan,” tutup Sambo.

Comments are closed.