Setengah Dekade Perjalanan Festival Sastra Banggai

Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Kabupaten Banggai Syamsuarni Amirudin, Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk Sutrisno K. Djawa, dan pendukung lain serta penyelenggara Festival Sastra Banggai pada momentum penutupan, Selasa (30/6) malam. [Foto: Istimewa]

Perjalanan kelima Festival Sastra Banggai ditutup dengan puisi yang ditulis Ama Achmad dan dibacakan Syamsuarni Amirudin dengan durasi 1 menit 55 detik, Selasa (30/6) malam.

“Saya langsung didaulat beri sambutan penutupan acara,” tutur Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Kabupaten Banggai itu.

Festival Sastra Banggai tahun 2021 yang dimulai pada 27 Juni resmi berakhir pada 29 Juni. Selama 3 hari, para penulis dihadirkan secara virtual dan tatap muka. “Dengan harapan agar kegiatan ini dapat meningkatkan perbaikan literasi, pendidikan, dan budaya untuk masyarakat Banggai agar dapat lebih mencintai budaya yang ada di Kabupaten Banggai,” tuturnya.

Ia berharap, komunitas Babasal Mombasa dapat berkolaborasi dengan TP PKK Kabupaten Banggai untuk menjalankan progam sampai ke desa-desa. “Semoga kegiatan festival ini dapat rutin dilaksanakan dan Covid-19 masa sekarang ini bisa selesai dan hilang dari negeri tercinta ini,” terangnya.

Direktur Festival Sastra Banggai Ama Achmad menjelaskan, tahun 2021 hanya dilaksanakan selama 3 hari karena sejumlah hal, salah satunya pandemi COVID-19 . “Tapi kami percaya yang kami berikan sudah sangat maksimal,” jelas Ama.

Ia mengapresiasi para sponsor yang terus memberi pengalaman berliterasi berbeda setiap tahunnya. Di perjalanan kelima ini, penulis dan pegiat sastra dari Poso, Palu, Roteng, Gorontalo, Makassar, Yogyakarta, Jakarta, dan Meulborne bergabung dalam Festival Sastra Banggai. “Di tengah keterbatasan, kami hadirkan 13 penulis secara virtual dan tatap muka,” katanya.

Ama berharap Festival Sastra Banggai terus hadir, berdenyut, menyampaikan kabar-kabar baik dari teluk, dan terdengar hingga jauh. “Kegiatan ini terselenggara karena kerja-kerja panitia dan relawan. Semoga tidak ada lelah, sedikit menangis tetapi banyak tertawa, dan seterusnya kita tetap menyala,” tuturnya.

Festival Sastra Banggai telah berumur setengah dekade. Hadir sejak tahun 2017, sehingga menempatkan Luwuk, sebuah kota kecil di ujung Timur Sulawesi Tengah dalam peta kesusatraan Indonesia.

Di Pulau Sulawesi hanya terdapat 2 kota yang merayakan sastra setiap tahun. Selain di Kabupaten Banggai, terdapat Makassar International Writers Festival (MIWF) yang dipusatkan di Benteng Rotterdam.

MIWF dilaksanakan terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan Festival Sastra Banggai. Tahun 2021, MIWF berakhir 27 Juni, sementara Festival Sastra Banggai memulai pada hari itu dan ditutup pada 29 Juni, lalu bersiap melangkah pada perayaan keenam.

Comments are closed.