Semakin Tak Terkendali, 41 Warga Banggai Terpapar Corona

Ilustrasi positif terkena virus corona.Foto: Shutter Stock

Kasus COVID-19 di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), semakin tidak terkendali. Meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro sudah diberlakukan.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Kabupaten Banggai Nurmasita Datu Adam memaparkan, pada 8 Juli 2021 sebanyak 4 orang harus dirawat RSUD Luwuk, lalu 11 orang dirawat di asrama BKPSDM Kabupaten Banggai, sebanyak 26 orang isolasi mandiri.

“Total 41 kasus baru,” kata Nurmasita, Kamis (8/7).

Selain tambahan kasus, terdapat 16 pasien yang sembuh, tetapi itu tidak seimbang dengan jumlah kasus baru yang menginfeksi hari ini.

“4 yang sembuh dari Kecamatan Luwuk, 2 dari Luwuk Selatan, 6 dari Toili, 2 dari Nambo, lalu dari Kintom dan Batui masing-masing 1 orang,” kata Nurmasita.

Dengan bertambahnya 41 kasus baru, maka secara kumulatif warga Kabupaten Banggai yang terinfeksi corona menjadi 1.644 orang sejak awal pandemi tahun 2020 lalu. Namun, 1.353 orang telah sembuh dan 51 orang lainnya meninggal dunia.

Petugas memindahkan tabung gas ke mobil pikup untuk didistribusikan ke seluruh puskesmas di Kabupaten Banggai, Sulteng. Per 8 Juli 2021, terdapat 41 orang yang terinfeksi Covid-19. Foto: Alisan/Palu Poso

Karena itu, saat ini masih menyisakan 199 orang yang dirawat akibat COVID-19, mereka tersebar di RSUD Luwuk dan rumah sakit darurat Asrama BKPSDM setempat serta diisolasi mandiri.

Terkait dengan PPKM skala mikro, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Anang S. Otoluwa mengungkapkan, PPKM mikro pelaksanaannya dari tingkat dari RT/RW, kelurahan, dan desa.

“Fasilitas isolasi mandiri disediakan kalau ada orang desa sulit cari tempat,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, tracing juga dilakukan di tingkat desa apabila terdapat warga yang terpapar Corona.

“Ini bagian dari PPKM mikro, sekarang di desa anggarannya sudah ada, kasus-kasus semua dilakukan tracing,” katanya.

Anang mengakui, virus begitu cepat menjangkiti warga. Setelah ditelusuri kasus-kasus sepekan terakhir, salah satu penyebabnya mobilitas masyarakat yang masih ada.

“Mobilitas orang, dari satu provinsi ke Luwuk. Itu selain kerumunan. Pembatasan mobilitas juga penting. Kalau dipelajari dari kasus kasus yang ada, ada riwayat perjalanan,” ungkap dia.

Comments are closed.