Seberapa Burukkah Penggunaan Ganja?

Ilustrasi Ganja untuk medis. Sumber : Freepik.com

Lelaki berperawakan kurus dan berompi kulit hitam nampak terdiam dan termenung nanar menatap pusara makam istrinya. Miris memang, hampir 8 bulan yang lalu istrinya meninggal sesaat setelah lelaki itu dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara atas kepemilikan ganja yang ditanamnya untuk mengobati istrinya tersebut.

Gundukan tanah tersebut mulai mengering dan mulai ada ilalang yang tumbuh di tepiannya menandakan telah lama dan mulai tak terawat. Di ujungnya nampak selembar kayu penanda makam tertulis nama Yeni Riawati istri dari Fidelis. Sedih namun kini lebih senang karena bisa ziarah langsung ke makamnya.

Fidelis resmi ditahan pada 19 Februari 2017 oleh BNNK Sanggau, Kalimantan Barat. Sepeninggalan Fidelis ke penjara, kondisi Yeni berangsur-angsur menurun dan dia meninggal pada 25 Maret 2017.

Di tengah polemik tentang kasus Fidelis di atas, muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya apa sih manfaat dari tanaman ganja khususnya dalam hal pengobatan? Apalagi maraknya pemberitaan di luar negeri jamak tentang legalisasi ganja untuk pengobatan bahkan sarana rekreasi.

Manusia Lebih Dekat dengan Tanaman Ganja

Sebuah artikel yang berjudul “The Brain’s Own Marijuana” yang ditulis oleh Roger Nicoll dan Bradley Alger di majalah Scientific American pada tahun 2004 mengungkapkan sebuah temuan yang luar biasa dari berbagai dimensi. Artikel ini menyebutkan bahwa otak manusia memproduksi zat yang berfungsi sama persis dengan THC (zat psikoaktif utama yang dikandung oleh ganja).

Molekul misterius hasil produksi otak yang diberi nama endocannabinoid ini ternyata berperan dalam hampir semua proses fisiologis manusia. Kenyataan ini menarik, bahwa cannabinoid yang hanya dihasilkan oleh tanaman ganja memiliki fungsi yang sama dengan endocannabinoid yang dihasilkan oleh otak manusia. Karena temuan ini tak heran jika banyak yang menyebut ganja sebagai tanaman obat yang memiliki fungsi medis paling banyak dibanding tanaman obat lainnya.

Reseptor cannabinoid pada otak berjumlah 10 hingga 50 kali lebih banyak dari reseptor yang sudah lebih terkenal di dunia kedokteran seperti dopamin dan opioid. Ini menunjukkan bahwa secara evolusi, manusia lebih “dekat” dengan tanaman ganja daripada tanaman obat-obatan lainnya.

Cannabinoid dan endocannabinoid diketahui memiliki peran mengatur transmisi antar sel saraf. Cannabinoid juga berperan pada sistem reproduksi, pemulihan stres, perlindungan sel saraf, reaksi stimulus rasa sakit, kekebalan tubuh, kardiovaskuler dan pernapasan dengan mengatur detak jantung dan fungsi saluran pernapasan. Begitu banyak manfaat ganja bagi pengobatan tubuh manusia tidak hanya untuk bermabuk ria.

Overdosis Ganja?

Dosis obat-obatan biasanya menggunakan ukuran Lethal Dose 50% yang ditentukan oleh lembaga yang mengawasi dan mengesahkan peredarannya. LD-50 adalah ukuran yang menunjukkan berapa banyak dosis obat-obatan tersebut dapat menyebabkan kematian terhadap lima puluh persen dari jumlah populasi yang dikenakan percobaan.

Dalam sebuah tulisan bertajuk Marijuana Poisoning pada tahun 2013, sejumlah ilmuwan berusaha menentukan LD-50 dari ganja. Sebanyak 3.000 mg/kg ekstrak atau konsentrat THC dari ganja dalam ukuran tersebut diberikan kepada anjing dan monyet (jumlah ini setara dengan konsumsi 21 kilogram ganja oleh manusia yang memiliki berat badan 70 kg).

Dalam percobaan kedua, seekor monyet disuntik 92 mg/kg konsentrat THC atau setara dengan manusia seberat 70 kg yang menghisap habis 1,2 kilogram ganja dalam satu waktu. Hasilnya, monyet dan anjing dari percobaan tersebut tidak mati dan bahkan tidak mengalami kerusakan organ!

Sampai saat ini ukuran LD-50 yang diberikan ilmuwan kepada ganja adalah sekitar 1:40.000. Tapi angka ini masih diragukan karena para ilmuwan belum yakin apakah 40.000 kali dosis ganja yang dikonsumsi oleh seorang manusia dalam satu waktu bisa menyebabkan kematian. Sebab hingga saat ini, belum ada satu pun catatan yang menyebabkan kematian akibat overdosis ganja.

Sebagai perbandingan, nikotin yang tidak pernah dilarang penggunaannya oleh pemerintah memiliki ukuran dosis LD-50 sebesar 1:50, garam dapur 1:3.000, aspirin 1:20, dan vitamin C 1:11.900.

Penelitian James C. Garriot yang diterbitkan dalam England Journal of Medicine tahun 1971 memperkirakan bahwa seseorang harus merokok hingga 800 batang ganja untuk menimbulkan reaksi fatal, dan reaksi ini juga didapat dari overdosis karbon monoksida. Sebagai perbandingan, hanya dibutuhkan 60 miligram nikotin dari tembakau atau 300 mililiter alkohol untuk menciptakan reaksi overdosis pada manusia.

Kalangan luas dunia medis pun sudah mendukung penggunaan ganja secara terang-terangan. Survei ilmiah pada tahun 1990 yang dilakukan tim peneliti Universitas Harvard menemukan bahwa 54% dari ahli kanker di Amerika Serikat mendukung penggunaan ganja secara terkontrol sebagai pengobatan.

Terdapat banyak kemungkinan pengembangan ilmu kedokteran yang memanfaatkan molekul dan reseptor endocannabinoid. Sangat lah mengherankan kalau masih banyak yang berpendapat bahwa ganja sebagai tanaman yang tidak memiliki fungsi medis sama sekali, karena berbagai penelitian dan uji klinis di berbagai belahan dunia terus memunculkan hasil yang bertentangan dengan pernyataan tersebut.

Di akhir tulisan penulis berkeyakinan bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia, melainkan karena manusia yang “belum” mengerti atau sombong membuatnya tidak dapat melihat keindahan atau manfaat untuk kebaikan manusia sendiri. Masihkah kita menganggap ganja merusak?

Comments are closed.