Satpam di Jambi yang Tewas Bersimbah Darah Ternyata Dibunuh Rekannya

Kepala Polres Batanghari, AKBP Mochamad Hasan menyampaikan kronologi kasus pembunuhan dengan korban bernama Ari Dominggus (25). (Foto: M Sobar Alfahri/Jambikita)

Jambikita.id – Seorang satpam PTPN 6 di Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, ditemukan tewas bersimbah darah, Minggu (8/5). Pria bernama Ari Daminggus (25), warga Jaluko, Kabupaten Muaro Jambi itu, sempat dikabarkan telah dibunuh oleh pencuri sawit.

Namun, ternyata pelaku pembunuhan ini merupakan rekan korban sendiri, yakni Komarwan (23), warga kabupaten Muaro Jambi. Setelah 3 hari diburu polisi, Komarwan menyerahkan diri di Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (8/5), lantaran sudah terdesak.

Kepala Polres Batanghari, AKBP Mochamad Hasan mengatakan pelaku dan korban sama-sama berprofesi sebagai satpam di perusahaan kebun sawit itu.

Ketika bertugas saat dini hari, Minggu (8/5), muncul ketersinggungan di antara kedua satpam ini. Terjadilah perkelahian. Pelaku kemudian mengeluarkan pisau sepanjang 20 centimeter dari sakunya untuk menusuk Ari.

“Pelaku mengeluarkan pisau menusuk korban. Sempat terjadi perebutan pisau. Namun, korban yang kena tusukan pada bagian jantung tidak bisa diselamatkan,” katanya, Kamis (12/5).

Ari Daminggus (25) ditemukan bersimbah darah di sekitar pos. (Foto: Istimewa)

Hasan mengatakan perkelahian maut ini terjadi secara spontan. Antara korban dan pelaku sebelumnya tidak pernah bertengkar.

“Ini spontan pada saat piket bareng. Korban sudah bekerja di sana selama 1 tahun. Sedangkan pelaku baru 1 bulan,” tuturnya.

Pisau yang digunakan untuk menusuk korban merupakan senjata yang disiapkan untuk bertugas sebagai satpam. Senjata ini ditemukan di sekitar tempat kejadian perkara.

“Pisau ditemukan di semak-semak. Di pisau itu ada tulisan nama pelaku. Itulah yang menjadi petunjuk kita,” ujarnya.

Tidak hanya mengamankan senjata tersebut, polisi juga membawa barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Honda CRF, pakaian korban, handphone milik pelaku, dan tikar berwarna hijau.

(M Sobar Alfahri)

Comments are closed.