Rusia Sebut Keinginan Finlandia Gabung NATO Kesalahan: Tak Ada Ancaman Keamanan

Kremlin, Moskow Foto: Shutter Stock

Geopolitik global berubah sejak operasi militer khusus Rusia dilakukan terhadap Ukraina. Kini, sejumlah negara mengutarakan keinginannya bergabung dengan NATO.

Salah satunya adalah Finlandia. Bahkan Presiden Finlandia Sauli Niinisto telah berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait hal tersebut pada Sabtu (14/5).

Kremlin kemudian memberikan tanggapan. Dalam keterangannya, Kremlin menyatakan bahwa Putin memandang penghentian netralitas militer Finlandia dengan bergabung NATO merupakan sebagai suatu kesalahan.

“Putin menekankan bahwa akhir dari kebijakan tradisional netralitas militer akan menjadi kesalahan karena tidak ada ancaman terhadap keamanan Finlandia,” demikian pernyataan Rusia dikutip dari AFP.

“Perubahan dalam orientasi politik negara seperti itu dapat berdampak negatif pada hubungan Rusia-Finlandia yang dikembangkan selama bertahun-tahun dalam semangat bertetangga yang baik dan kerja sama antar mitra,” tambah Kremlin.

Finlandia diprediksi akan secara resmi mengumumkan tawaran keanggotaan NATO pada hari Minggu (15/5).

Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto menekankan pentingnya komunikasi dengan Rusia terkait niatan tersebut. Meski, dia menegaskan bahwa tak perlu meminta izin terkait setiap langkah politik yang diambil Finlandia.

Finlandia mulai mempertimbangkan keanggotaan NATO setelah Rusia melancarkan invasinya ke Ukraina Februari lalu.

Negara yang berbagi perbatasan sepanjang 1.340 Km dengan Rusia ini awalnya merasa lebih aman dengan tidak menjadi bagian blok mana pun. Namun, kini mereka merasa perlu bergabung dengan NATO demi melindungi warganya dari ancaman Rusia.

Finlandia tak sendiri, Swedia juga berencana bergabung dengan NATO. Meski begitu, rencana tersebut sudah mendapatkan penentangan di awal yakni dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Penolakan Erdogan berakar pada sentimen terhadap komunitas Kurdi di Skandinavia. Swedia memiliki populasi diaspora Kurdi. Enam anggota parlemennya pun warga asal Kurdi.

Erdogan menuduh, kedua negara itu menyembunyikan organisasi teroris. Dia merujuk pada Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Turki menganggap partai itu sebagai organisasi teroris.

“Kami tidak memiliki pendapat positif,” jelas Erdogan, dikutip dari AFP.

“Negara-negara Skandinavia seperti rumah tamu bagi organisasi teror,” lanjutnya.

Turki telah lama membuat tuduhan itu terhadap negara-negara Nordik. Ankara mengatakan, mereka menyembunyikan kelompok ekstremis Kurdi.

Diketahui, usai mengajukan keanggotaan, 30 anggota NATO harus menyetujui secara bulat. Menyusul undangan resmi, mereka lalu melakukan negosiasi keanggotaan.

Persetujuan akhir kemudian berlangsung pada KTT NATO di Madrid. Agenda itu akan digelar pada akhir Juni 2022. Usai pertemuan, para negara anggota kemudian harus meratifikasi keputusan itu. Pihak Finlandia yakin akan ada solusi atas penentangan dari Turki tersebut.

Comments are closed.