Rumah Sakit di Tunisia Kewalahan Hadapi Tsunami COVID-19

Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock

Tunisia tengah berjuang menghadapi tsunami COVID-19. Rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan, sementara jumlah orang yang meninggal akibat virus tersebut terus melonjak tinggi.

Keadaan pun semakin tak terkendali. Bahkan, jenazah pasien yang wafat terpaksa dibiarkan di kamar perawatan karena kamar mayat penuh.

“Beberapa pasien telah meninggal tanpa kita sadari,” kata Imen Fteiti, seorang perawat di rumah sakit Ibn Jazzan di pusat Kota Kairouan, salah satu yang paling parah dilanda pandemi, mengutip AFP, Rabu (7/7).

Beberapa pasien harus bersebelahan dengan jenazah korban COVID-19 di kamar rawat hingga 24 jam. Musababnya tidak ada cukup staf untuk memindahkan jenazah tersebut, terlebih ke kamar mayat yang melebihi kapasitas.

Tunisia telah secara resmi mencatat lebih dari 15.000 kematian sejak awal pandemi tahun lalu. Sementara itu, jumlah korban wafat akibat COVID-19 meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Saat ini, lebih dari 600 pasien corona berada di ICU di seluruh negeri. Pihak berwenang telah mendirikan rumah sakit lapangan untuk mengatasi krisis yang mereka sebut tsunami corona ini.

Dokter, perawat, dan organisasi non-pemerintah telah membunyikan alarm terutama untuk Kairouan. Tempat tidur perawatan intensif dan pasokan oksigen tak mencukupi lagi di daerah terbengkalai ini.

“Kami telah mencapai titik di mana kami tidak tahu siapa yang harus dibantu terlebih dahulu,” kata Fteiti.

Di Kairouan, 5.500 liter oksigen dibutuhkan setiap harinya saat ini untuk mengobati pasien COVID-19. Padahal minggu lalu sebelum terjadi lonjakkan kasus, pejabat kesehatan daerah mengatakan 400-500 liter oksigen yang diperlukan.

Sementara itu, hanya ada 45 tempat tidur ICU dan 250 tabung oksigen di rumah sakit Kairouan, baik swasta maupun publik.

Sejak 20 Juni, pihak berwenang telah memberlakukan lockdown total di enam wilayah di Tunisia. Termasuk Kairouan, karena jumlah kasus COVID-19 meningkat pesat di bagian negara Afrika Utara itu.

Ibukota Tunisia telah dilockdown sebagian sejak pekan lalu. Sedangkan lockdown total akhir pekan akan diterapkan mulai 10 Juli untuk mencegah keramaian di pantai Tunisia.

Ilustrasi corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Situasi di Kairouan Bagai Mimpi Buruk

Situasi kesehatan di Kairouan yang dihuni 593.000 penduduk nyaris di luar kendali. Para petugas kesehatan berpendapat situasi di tempat itu telah bagai mimpi buruk.

“Hari kami dimulai sangat pagi dan kami tidak pernah tahu kapan itu akan berakhir,” kata Fteiti.

Lebih rinci, Fteiti mengatakan biasanya hari dimulai dengan merawat pasien masuk yang sebelumnya tidur di lantai koridor RS, karena tidak ada tempat tidur yang tersedia saat mereka tiba.

Ia pun mengenang seorang perempuan muda yang ibunya baru saja meninggal karena COVID-19. Perempuan itu memohon padanya untuk memeriksa ayahnya yang sakit.

“Sayangnya, dia [ayahnya] juga meninggal,” kata perawat itu.

Pejabat kesehatan mengatakan jumlah harian kematian akibat COVID-19 di Kairouan telah meningkat menjadi 20, termasuk anak-anak. Banyak pasien kritis yang tak tertolong.

“Kami telah melalui hari-hari yang sulit dengan tempat tidur ICU yang penuh,” kata pejabat kesehatan regional Mohamed Rouiss.

Musababnya ketika lonjakan dimulai bulan lalu, pasien dari Kairouan dapat dipindahkan ke rumah sakit lain di wilayah tersebut.

“Tapi sekarang mereka juga penuh,” lanjut dia.

Slah Soui, seorang dokter di rumah sakit terbesar kedua di Kairouan, Aghlabides, berpendapat situasi ini imbas dari warga yang lalai. Yakni orang yang gagal menerapkan disiplin protokol kesehatan dan menjaga jarak sosial.

Selain itu menurut dia, ini juga disebabkan kurangnya percepatan vaksinasi. Tunisia memang baru memulai gerakan ini pada Maret akibat minimnya stok vaksin COVID-19, sebulan lebih lambat dari yang direncanakan.

Pada bulan Juni, direktur Institut Tunis Pasteur Hechmi Louzir mengatakan kepada wartawan bahwa negara itu hanya menerima 1,6 juta dosis vaksin.

Baru 95.000 orang telah mendaftar vaksinasi dan hanya setengah dari mereka yang menerima dosis pertama di Kairouan. Sementara di seluruh Tunisia, baru 4% dari populasi 12 juta orang yang divaksinasi dosis penuh.

Comments are closed.