Ribuan Warga Demo Usai Turki Keluar dari Perjanjian Perlindungan Perempuan

Aksi masyarakat saat protes menentang penarikan Turki dari Konvensi Istanbul, sebuah kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan, di Istanbul, Turki. Foto: Murad Sezer/Reuters

Ribuan warga Turki di kota besar turun ke jalan pada Kamis (1/7). Mereka memprotes tindakan Presiden Tayyip Erdogan yang memutuskan keluar dari pakta internasional anti-kekerasan terhadap wanita.

Pakta internasional yang disebut sebagai Konvensi Istanbul merupakan perjanjian hak asasi manusia oleh Dewan Eropa dalam mencegah dan memberantas kekerasan terhadap wanita serta kekerasan domestik.

Pakta ini dinegosiasikan di Kota Istanbul, Turki, pada 11 Mei 2011 lalu.

“Kami tak akan bisa dibungkam, kami tak takut, kami tak akan tunduk,” ucap para perempuan yang tergabung dalam ratusan pendemo di Ibu Kota Ankara.

Berbagai spanduk berwarna ungu bertuliskan kami tak akan menyerah atas Konvensi Istanbul tampak menghiasi kerumunan pengunjuk rasa.

“Saya masih tidak percaya, Pemerintah merampas hak-hak manusia alih-alih memperbaikinya. Kami setiap hari menyaksikan pembunuhan perempuan berdasarkan diskriminasi gender, atau pembunuhan para wanita transgender. Sebagai perempuan, rasanya tak mungkin kami bisa merasa aman tinggal di negara ini,” ujar seorang mahasiswi, Ozgul, seperti dikutip dari Reuters.

Di Kota Istanbul, pendemo berjumlah lebih dari seribu orang yang didominasi oleh para perempuan. Unjuk rasa juga terjadi di berbagai kota lainnya, seperti Izmir.

Erdogan mengumumkan penarikan Turki dari konvensi itu pada Maret 2021. Menurut Erdogan, Turki akan menggunakan Undang-undang lokal untuk melindungi hak wanita.

Ia kembali membela langkah yang diambilnya di hadapan orang-orang yang menganggap keluarnya Turki dari Konvensi Istanbul sebagai kemunduran dalam perjuangan memberantas kekerasan terhadap wanita.

“Perjuangan kita tidak diawali dengan Konvensi Istanbul dan tidak akan berakhir dengan keluarnya Turki dari pakta tersebut,” tegas Erdogan.

Aksi masyarakat saat protes menentang penarikan Turki dari Konvensi Istanbul, sebuah kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan, di Istanbul, Turki. Foto: Murad Sezer/Reuters

Keputusan Turki mengundang kecaman keras dari Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pengajuan banding untuk menghentikan penarikan diri Turki ini telah ditolak oleh pengadilan pada pekan ini.

Sebagai bentuk protes dari keputusan ini, tiga partai oposisi memilih keluar dari komisi parlementer.

“Kami akan melanjutkan perjuangan kami. Turki hanya mempersulit dirinya sendiri dengan mengambil keputusan ini,” ujar Direktur Federasi Asosiasi Perempuan Turki, Canan Gullu.

Kata Gullu, sejak Maret 2021, perempuan dan kelompok rentan lainnya menghadapi lebih banyak kesulitan dalam meminta bantuan, dan kesempatan untuk menerimanya juga lebih kecil.

Aksi masyarakat saat protes menentang penarikan Turki dari Konvensi Istanbul, sebuah kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan, di Istanbul, Turki. Foto: Murad Sezer/Reuters

Kekerasan terhadap perempuan juga meningkat dengan adanya kesulitan perekonomian yang disebabkan oleh COVID-19.

Salah satu kelompok pengawas HAM mengungkapkan bahwa setidaknya ada satu kasus pembunuhan terhadap perempuan setiap harinya di Turki sejak adanya peningkatan kasus kekerasan pada 5 tahun lalu.

Banyak dari pihak konservatif, baik di Turki maupun di Partai Islam AK pimpinan Erdogan, melihat pakta tersebut merusak tatanan keluarga.

Sebagian dari mereka juga berpendapat bahwa konvensi tersebut mempromosikan homoseksualitas, akibat adanya prinsip non-diskriminasi terhadap orientasi seksual apa pun dalam pakta itu.

“Menarik diri dari pakta itu tidak akan mengarah pada kecacatan hukum atau praktik dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan,” ujar Kantor Pemerintahan Erdogan pada Selasa (29/6).

Comments are closed.