Remaja di Temanggung Dicabuli Usai Dicekoki Miras

Polisi menunjukkan tersangka Dwi Yanto (43) pelaku pencabulan di Mapolres Temanggung. Foto: ist

Nasib bahas dialami R (17), seorang remaja asal Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Lantara dia menjadi korban aksi sodomi yang dilakukan tersangka Dwi Yanto (43), yang masih tetangganya sendiri. Aksi yang sudah terjadi sejak September 2021 ini dengan modus tersangka mencekoki korban dengan minuman keras. Setelah tak sadarkan diri Dwi melakukan aksi pencabulan.

Kapolres Temanggung AKBP Agus Puryadi mengatakan, tersangka ini seorang biseks, yang bisa melampiaskan nafsu birahinya baik dengan perempuan maupun laki-laki. Selain dibuat tidak berdaya setelah dicekoki miras, korban juga diancam, jika tidak mau melayani nafsu seks tersangka akan menyebarkan video asusila yang pernah direkam sebelumnya antara pelaku dengan korban.

“Modus pelaku ini mengajak korban minum minuman keras, setelah tidak sadarkan diri kemudian pelaku melakukan pencabulan. Nah, saat pertama mencabuli pelaku juga merekam aksinya menggunakan video ponsel. Selanjutnya video itu dijadikan senjata oleh pelaku untuk mengancam korban kemudian hari. Apabila tidak mau melayani maka video akan disebarkan,” katanya, Jumat (23/9/2022).

Tragisnya perbuatan tak senonoh itu dilakukan di rumah Tatik yang tak lain adalah pacar tersangka di wilayah Kecamatan Kedu. Rentang waktu kejadian, pertama dilakukan pada tanggal 26 September 2021, perbuatan kedua dan ketiga pada Desember 2021. Kemudian pada 1 Januari 2022, dan 17 September 2022. Aksi dilakukan dini hari kisaran pukul 01.00 hingga pukul 02.00 WIB, tanpa sepengetahuan Tatik.

Korban yang merasa tidak tahan atas perlakuan tersangka kemudian bersama teman-temannya memberanikan diri melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Petugas kepolisian pun kemudian melakukan penangkapan terhadap Dwi dan mengamankan barangbukti berupa sarung, sweater, ponsel, dan dompet.

Tersangka Dwi Yanto mengaku meklakukan hal itu karena tidak bisa melampiaskan nafsunya kepada Tatik pacarnya. Pasalnya, Tati selalu menolak jika diajak berhubungan intim.

“Saya melakukan ini karena pacar saya tidak mau saya ajak berhubungan badan. Maka saya melakukan ini kepada korban, dan biasanya memang mabuk bersama korban. Kalau merekam divideo itu buat kenang-kenangan. Kalau enaknya sih enak sama lawan jenis,”akunya dengan santai.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yakni, Pasal 76 E jo Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Undang-Undang RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016, tentang Perubahan kedua atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Subsider Pasal 289 KUHPidana, lebih subsider Pasal 292 KUH Pidana.

Isi dari pasal-pasal tersebut antara lain terkait ancaman kekerasan, pemaksaan membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul. Tersangka diancam hukuman 15 tahun penjara bahkan bisa ditambah sepertiga lagi dari ancaman hukuman tersebut. Selain itu, diancam pula dengan pidana denda hingga Rp5 miliar. (ari)

Comments are closed.