Ramah Lingkungan, Petani di OKI Garap Pertanian Organik

Obrolan Pelepas Lelah Season 2 yang digelar Balitbang LHK Palembang dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komisaris Daerah Sumatera Selatan, Rabu (30/6). (foto: istimewa)

Sejumlah petani di Desa Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, binaan perusahaan hutan tanam industri PT Bumi Andalas Permai menggarap pertanian organik.

Hal itu dikatakan Ketua Kelompok Tani Wono Tirto, Sugeng Riyanto, dalam kegiatan ‘Obrolan Pelepas Lelah Season 2’ yang digelar Balitbang LHK Palembang dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komisaris Daerah Sumatera Selatan, Rabu (30/6).

Sugeng bilang, tergugah menjalankan pertanian organik karena ingin mengembalikan kondisi lahan yang sudah terdegradasi akibat karhutla di daerahnya beberapa tahun belakangan.

“Karena sering karhutla lahan jadi tidak subur. Saya pikir harus dikembalikan dulu dengan cara pertanian organik,” katanya.

Setahun terakhir, Sugeng menekan penggunaan pupuk kimia di lahan pertanian seluas 2 hekatre miliknya. Hasilnya mampu memproduksi sekitar 4 ton gabah kering per hektare. Jumlah itu sama dengan pertanian konvesional di daerahnya.

“Saat ini sudah ada 10 petani yang ikut menanam secara organik,” katanya.

Selain itu, Sugeng menginisiasi membuat pupuk kompos bersama sehingga dapat memastikan ketersediaan pupuk organik. Upaya itu pun mendapatkan dukungan dari perusahaan mitra pemasok APP Sinar Mas, PT Bumi Andalas Permai yang memberikan bantuan alat pertanian handtraktor sehingga petani setempat tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Saat ini bisa dikatakan tidak ada lagi petani yang buka lahan dengan cara membakar di tempat kami,” katanya.

Direktur Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, R Basar Manullang, mengatakan karhutla masih menjadi ancaman bagi pelestarian alam lingkungan hidup di Indonesia.

Kejadian karhutla hebat pada 2015 menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk mengubah paradigma untuk penanganan karhutla, terutama dalam menghasilkan solusi permanen.

Salah satunya yakni menata ekosistem gambut. Berdasarkan data diketahui dari total lahan terbakar itu sebanyak 54 persen terjadi di kawasan gambut. Sementara Indonesia memiliki sekitar 20 juta Ha yang tersebar di Sumatera, Kalimatan dan Papua.

“Upaya pengendalian karhutla harus dilakukan bersama. Kita kedepankan pencegahan daripada penanganan, dan pentingnya pelibatan masyarakat,” katanya.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera, Ferdian, mengatakan faktor manusia hingga kini menjadi penyebab utama terjadinya karhutla.

Oleh karena itu, pentingnya eduksasi dan keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan.

“Salah satunya tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar,” katanya.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang, Edwin Martin, mengatakan hingga kini kejadian karhutla masih berulang terjadi walau trennya semakin menurun sejak 2015 lantaran Indonesia sedang memasuki fase transisi sosial-ekologis.

Menurutnya, sentuhan ke penduduk di kawasan gambut menjadi solusi permanen yang paling tepat. Karena berdasarkan penelitian, karhutla juga selain dipengaruhi kelengahan dan keteledoran, juga ada faktor konflik antara perusahaan dan masyarakat.

“Seperti pertanian secara organik yang dilakukan petani binaan di OKI ini juga menjadi salah satu upaya mencegah terjadinya kahurtla,” katanya.

Comments are closed.