Quarter Life Crisis Menjadi Proses Pendewasaan

Sumber foto : freepik.com

“Kok bisa ya orang lain di usia yang sama seperti aku, tetapi sudah banyak pencapaian?.”

“Dia bisa sukses, kenapa aku belum jadi apa-apa?.”

“Ke mana sebenarnya tujuan hidupku?.”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul di benakku. Aku yang merasa belum menjadi seorang yang dapat dibanggakan, merasa tak tahu apa tujuan hidupku. Melihat teman sukses mencapai tujuannya, membuatku merasa malu dan tidak berguna.

Pencarianku untuk mengetahui penyebab pertanyaan itu, ternyata aku mengalami Quarter Life Crisis. Quarter Life Crisis (QLS) sendiri berhubungan dengan keadaan sosio-emosional manusia. Kekhawatiran seseorang akan hidupnya pada masa yang akan datang biasanya seputar karier, relasi, kehidupan sosial, percintaan dan keuangan.

Proses pencarian jati diri yang sedang aku alami, juga dialami oleh beberapa teman. Menurut beberapa artikel psikologi mengenai Quarter Life Crisis, banyak dijumpai pada usia 20-30an. QLS yang ku alami dipicu oleh perasaan minder melihat teman yang lebih dulu sukses dalam kariernya. Ada yang berhasil mendirikan event organizer, ada yang mengajar bimbel di banyak tempat, ada yang sukses merintis bisnis online dan mencapai omzet ratusan juta. Membuatku bertanya, “Kapan aku sukses seperti mereka?.”

Hal tersebut sering muncul di malam hari dan membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pertanyaan seperti itu terus menerus ada di pikiranku bahkan tak jarang mengganggu aktivitas. Terus berpikir dan introspeksi diri menjadi solusi sementara.

Semua yang ku alami merupakan proses pendewasaan yang terjadi secara alami dan dipicu oleh beberapa faktor. Kalau ditanya apa aku cemas akan hidupku di masa depan jawabannya adalah iya, aku di sini yang tidak tahu 5 sampai 10 tahun ke depan akan menjadi seperti apa.

Memikirkan bagaimana orang lain dapat mencapai garis finish, sementara aku? bahkan belum mencapai garis start. Hidup ini bukan tentang perlombaan, mencari siapa berhasil lebih dahulu di garis finish. Setiap orang pasti punya garis start dan finishnya masing-masing, begitu pun aku.

Aku berpikir saat ini aku belum berada di garis start, namun jika ku tarik mundur proses di mana aku belajar, bersosial, dan mengasah kemampuan ku di situlah aku memulai garis start versiku. Memang prosesnya tidak secepat temanku yang dianggap sukses, tapi dasarnya setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Karena sejatinya kita tidak bisa mengukur kesuksesan diri atas pencapaian orang lain.

Kalau kata Hindia pada lirik lagunya “Tak ada yang tahu kapan kau mencapai tuju, tak ada yang tahu selesainya peraduanmu, dan percayalah bukan urusan mu menjawab semua itu, bersandar pada waktu, mungkin besok kita sampai, besok mungkin tercapai”. Hindia-Mungkin Besok Kita Sampai.

Ada benarnya jika dikatakan mungkin besok kita sampai, karena memang tidak ada yang tahu kapan waktunya aku mencapai tujuan dan mimpi-mimpiku. Melihat kesuksesan orang lain bukan menjadi patokan suksesku, tetapi dijadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.

Comments are closed.