Protes Kematian Mahsa Amini Meluas ke 80 Kota di Iran, 50 Orang Dilaporkan Tewas

Para demonstran Iran turun ke jalan-jalan di ibukota Teheran selama protes untuk Mahsa Amini, beberapa hari setelah dia meninggal dalam tahanan polisi. Foto: AFP

Gelombang protes berkobar di Iran selama delapan malam berturut-turut atas kematian Mahsa Amini, seorang wanita muda yang ditangkap polisi moral karena tidak memakai jilbab secara benar.

Diberitakan AFP, demonstrasi yang mengecam tindakan polisi moral Iran itu kembali terjadi beberapa jam setelah demonstrasi tandingan dari pihak masyarakat yang mendukung upaya pemerintah terkait aturan cara berpakaian yang baik.

Selama gelombang demonstrasi ini, sebanyak 50 orang dilaporkan tewas oleh pasukan keamanan. Angka ini dari data yang dihimpun Hak Asasi Manusia Iran (IHR), sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Oslo. Data dari NGO ini lebih dari tiga kali jumlah kematian resmi yang diungkap pemerintah, yakni 17 mencakup lima personel keamanan.

Seorang demonstran mengangkat tangannya dan membuat tanda kemenangan selama protes untuk Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh “polisi moral” republik Islam itu, di Teheran, Iran, Senin (19/7/2022). Foto: AFP

Menurut IHR, demonstrasi berujung kerusuhan telah menyebar ke 80 kota dipicu kematian Mahsa Amini, seorang gadis Kurdi berusia 22 tahun yang sempat koma tiga hari setelah ditahan polisi moral di Teheran.

Rekaman di media sosial menunjukkan kerumunan besar pengunjuk rasa berkumpul di beberapa lingkungan ibu kota Teheran menjelang malam hari, hanya beberapa jam setelah demonstrasi yang didukung pemerintah bubar. Beberapa diadang polisi dengan tameng huru-hara bersenjata atau milisi.

Iran telah memberlakukan pembatasan ketat pada penggunaan internet dalam upaya untuk menghambat pengunjuk rasa berkumpul dan menghentikan aliran reaksi dari internasional.

Sementara Amerika Serikat (AS) siap membantu warga Iran mendapatkan akses internet, dengan melonggarkan pembatasan ekspor perangkat lunak layanan internet.

Infografik ‘Kematian Mahsa Amini Picu Demo Besar di Iran’. Foto: kumparan

Langkah-langkah baru akan “membantu melawan upaya pemerintah Iran untuk mengawasi dan menyensor warganya,” kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken.

“Jelas bahwa pemerintah Iran takut pada rakyatnya sendiri,” tambahnya.

Pada Jumat (23/9), ribuan orang turun ke jalan untuk mendukung cara berpakaian yang benar, termasuk pemakaian jilbab. Massa ini bagian dari demonstrasi tandingan yang didukung pemerintah.

“Demonstrasi besar rakyat Iran mengutuk para konspirator dan penistaan ​​terhadap agama terjadi hari ini,” kata kantor berita Iran, Mehr.

Massa pro-pemerintah berdemonstrasi menentang pertemuan protes terkait kasus Mahsa Amini di Iran, di Teheran, Iran, Jumat (23/9/2022). Foto: WANA via REUTERS

Televisi negara menyiarkan cuplikan demonstran pro-hijab di Teheran tengah, banyak dari mereka adalah pria tetapi juga wanita yang mengenakan cadar hitam.

Amini meninggal pada 16 September, tiga hari setelah dirawat di rumah sakit menyusul penangkapannya oleh polisi moral, unit yang bertanggung jawab untuk menegakkan aturan berpakaian ketat di Iran

Aktivis mengatakan dia mengalami pukulan di kepala dalam tahanan tetapi ini telah dibantah pihak berwenang Iran, yang telah membuka penyelidikan.

Bentrokan Terus Terjadi di Sejumlah Kota

Massa protes atas kematian Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh ‘polisi moral’ republik Islam, di Teheran, Iran, Rabu (21/9/2022. Foto: WANA via REUTERS

Setelah dia dinyatakan meninggal, protes kemarahan berkobar dan menyebar ke kota-kota besar, termasuk Isfahan, Mashhad, Shiraz dan Tabriz serta provinsi asal Amini, Kurdistan.

Dalam kekerasan terbaru, demonstran bentrok dengan pasukan keamanan pada Jumat malam di Kota Bokan, Provinsi Azerbaijan Barat. Kondisi ini dipastikan Hengaw, kelompok hak asasi kedua di Iran yang berbasis di Oslo.

Sementara di Kota Babol, Provinsi Mazandaran utara, para demonstran terlihat membakar papan iklan besar bertuliskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dalam video yang dibagikan secara online.

Beberapa demonstran wanita dengan berani melepaskan jilbab mereka dan membakarnya di api unggun atau secara simbolis memotong rambut mereka. Aksi ini pun viral di media sosial.

Demonstran melemparkan batu ke pasukan keamanan, membakar mobil polisi, dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

“Pemerintah telah menanggapi dengan peluru tajam, senjata pelet dan gas air mata, menurut video yang dibagikan di media sosial yang juga menunjukkan para pengunjuk rasa berdarah deras,” kata Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (CHRI) yang berbasis di New York.

Akses internet telah dibatasi dalam apa yang disebut NetBlocks sebagai “pola gangguan jam malam”.

“Platform online tetap dibatasi dan konektivitas terputus-putus untuk banyak pengguna dan internet seluler terganggu untuk hari ketiga pada hari Jumat,” kata NetBlocks.

Presiden Iran Ebrahim Raisi berpidato di Sesi ke-77 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB di New York City, AS, Rabu (21/9/2022). Foto: Shannon Stapleton/REUTERS

Presiden Iran Ebrahim Raisi, pada konferensi pers di New York, saat menghadiri Majelis Umum PBB, mengecam demonstrasi berujung kerusuhan ini.

“Kita harus membedakan antara demonstran dan vandalisme,” terangnya.

Kerusuhan datang pada waktu yang sangat sensitif bagi para pemimpin, karena ekonomi Iran tetap terperosok dalam krisis yang sebagian besar disebabkan sanksi AS atas program nuklirnya.

Comments are closed.