Prancis Izinkan Kelab Malam Buka di Tengah Serbuan Varian Delta

Ilustrasi Party Foto: Dok. Pixabay

Prancis akan mengizinkan kelab malam dibuka kembali untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 berlangsung. Meski, aturan khusus akan diterapkan dan tak semua kelab akan diizinkan beroperasi.

Di salah satu kelab malam di Paris, DJ Vinz akan menyiapkan panggungnya pada Jumat (9/7) waktu setempat. Vinz tak sabar kembali ke rutinitas malam yang sudah ia geluti lebih dari satu dekade, meski sebagian besar gajinya dibiayai pemerintah selama 17 bulan terakhir.

“Ini akan menjadi malam yang spesial,” kata Vinz, dikutip dari Reuters.

Warga membeli masker di vending machine yang dipasang di alun-alun di Jeumont, Prancis. Foto: REUTERS/Pascal Rossignol

“Kami belum melihat orang-orang di sini selama 1,5 tahun, jadi kami harus mencari tahu apa yang ingin mereka dengar. Kami akan menemukan kembali diri kami sendiri dan bersenang-senang bersama,” imbuh dia.

Pembukaan kembali kelab malam menandai salah satu tahap akhir dari pelonggaran lockdown nasional ketiga yang diberlakukan Prancis sejak April lalu. Namun, aturan ketat tetap akan diberlakukan di kelaab-kelab, termasuk di lokasi Vinz manggung, Le Duplex.

Orang yang datang harus menunjukkan bukti vaksinasi atau hasil tes negatif COVID-19 dari 48 jam terakhir untuk masuk dan kapasitas kelab akan dibatasi hingga 75%. Sementara itu, pedoman pemerintah juga menganjurkan pengunjung tetap memakai masker, meski tidak wajib.

“Ini akan menjadi malam yang besar,” kata Direktur Artistik di Le Duplex, Cyril Blanc.

“Kami adalah kelab bawah tanah, tetapi saya pikir Anda akan mendengar kami dari jalan karena akan ada teriakan gembira yang sangat keras,” imbuh dia.

Di satu sisi, Prancis kini tengah menghadapi ancaman varian Delta. Sebelumnya, juru bicara kepresidenan Gabriel Attal mengungkap varian Delta telah mendominasi sekitar 40% kasus corona baru di Prancis.

Prancis mencatatkan lebih dari 42.000 kasus baru per hari dalam rata-rata kasus pekanan pada pertengahan April. Tingkat kasus kemudian telah turun menjadi lebih dari 1.800 pada akhir Juni.

Tapi sejak itu, tren penurunan berbalik. Kini seiring merebaknya varian Delta yang lebih cepat menular, jumlah kasus baru harian kembali di atas 2.500 dan meningkat dengan persentase dua digit per minggu.

Warga antre masuk untuk belanja ke supermarket di Hoenheim, Prancis. Foto: REUTERS / Christian Hartmann

Pembukaan kelab malam pun bisa saja memicu lonjakan kasus yang lebih tinggi di Prancis.

Menanggapi hal ini, Blanc sadar kelab malam mungkin akan ditutup lagi. Namun setidaknya kebebasan yang sangat diidamkan oleh banyak clubbers bisa terwujud untuk saat ini.

“Kami tahu bahwa pada bulan Agustus, atau September, mereka mungkin meminta kami untuk menutup kelab lagi,” kata dia.

Kelab malam menderita lebih lama selama pandemi COVID-19 daripada hampir semua segmen industri hiburan lainnya di Prancis. Philippe Garcia dari asosiasi klub malam AFEDD mengungkap, setidaknya 400 dari 1.600 kelab di seluruh negeri telah tutup atau berada dalam kesulitan keuangan sejak COVID-19 masuk ke Prancis.

Memang selama ini ada bantuan dana dan akan berlanjut setelah 9 Juli bagi kelab malam yang tidak dapat dibuka kembali. Tetapi industri memperkirakan tiga dari empat kelab akan menutup pintu mereka karena harus berjuang menghasilkan keuntungan dengan kapasitas 75%.

Banyak juga kelab yang khawatir soal risiko gangguan akibat sertifikat kesehatan pengunjung yang palsu saat buka.

Comments are closed.