Praktisi Hukum: Orang Sikka Tidak Barbar, Satgas COVID-19 Harusnya Lebih Santun

Aktivis dan Praktisi Hukum, Emanuel Hardiyanto.

MAUMERE- Seorang warga Lingkar Luar, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, pada Selasa ,(6/7) malam, terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit akibat dipukul aparat gabungan Satgas COVID-19 Sikka saat operasi yustisi Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Akibat pukulan, warga yang diketahui bernama Emanuel Manda ini mengalami luka robek yang serius di pelipis wajah.

Tak terima dengan perlakuan tidak manusiawi dari aparat gabungan Satgas COVID-19 Sikka, Emanuel Manda bersama istri pada Selasa (6/7) pukul 23.00 WITA pun melaporkan tindakan pengeroyokan ini ke Polres Sikka.

Dimintai tanggapannya terkait kejadian pemukulan oleh tim Satgas COVID-19 Sikka, Aktivis dan Praktisi Hukum asal Kabupaten Sikka, Emanuel Hardiyanto, SH., MH., mengatakan, dirinya menyesalkan kejadian pemukulan oleh Satgas COVID-19 Sikka terjadi.

Sebab penerapan PPKM untuk saat ini masih dalam tahapan sosialisasi sejak di umumkan tanggal 3 Juli kemarin.

Menurut Emanuel Herdiyanto, peningkatan jumlah korban covid tentu harus mendapat perhatian semua warga dan terutama maksud pemerintah menetapkan PPKM dengan maksud mencegah penyebaran varian baru covid yang sedang meningkat dari jumlah korban.

Kendati demikian, penerapan PPKM tidak dapat kita benarkan jika menggunakan cara cara represif dan bahkan kekerasan.

Sebab jangan lupa pasal 3 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan jelas mengatakan bahwa setiap orang berhak menentukan pelayanan kesehatan bagi dirinya.

Lanjutnya, secara a contrario dapat di jelaskan bahwa, jika seseorang menolak memakai masker itu adalah bagian dari hak kesehatannya yang di lindungi undang – undang.

Faktanya, korban dalam tanda kutip saat di razia hanya berada bersama istrinya di kios dan potensi penyebaran juga relatif kecil karena tidak ada kerumunan dan juga mungkin korban dan istrinya juga adalah negatif covid, maka adalah sangat naif jika upaya penegakan PPKM kepada korban harus disertai dengan aksi tambahan yang tidak perlu.

“Persoalan lainnya adalah bahwa, tindakan tegas dalam penegakan PPKM juga telah di atur dalam aturan PPKM itu sendiri dan karenanya harusnya aparatur penegak PPKM lebih dewasa dan tenang dalam menjalankan tugasnya.Orang Sikka ini bukan orang barbar, jadi semestinya Satgas harusnya lebih santun,” ungkap Emanuel Herdiyanto.

Lebih lanjut ia mengatakan, ada banyak cara yang bisa dipakai untuk menertibkan kios-kios yang masih buka di atas jam 8 malam yaitu dengan mengirimkan mobil patroli untuk berkeliling kota dengan sirene agar masyarakat diingatkan kembali.

Karena PPMK ini masih dalam tahap sosialisasi karena baru di mulai, maka baiknya jika semua hal demi penerapan dimulai dengan sosialisasi gencar. Bahkan bila perlu toa masjid dan loceng gereja dipakai untuk mengingat warga.

“Saya kira apapun dan bagaimana pun kejadiannya, kekerasan dan cara represif harus dihindari agar tidak kemudian menjadi preseden dan mungkin malah menjadi problem hukum,” ujar Emanuel Herdiyanto.

Ia juga menyampaikan, jika dilihat dari sisi hukum pidana, namanya tindak pidana kekerasan itu kalau ada laporan polisi, polisi wajib untuk memanggil pelaku dan korban untuk dimintai keterangan. Kemudian, mengumpulkan bukti termasuk visum.

Kalau kemudian rentetan kejadiannya itu mengarah kepada serangan, tindakan penganiayaan, maka unsur pidana dan deliknya terpenuhi. Sehingga tidak ada alasan bagi polisi untuk tidak meneruskan sampai menetapkan tersangka.

“Tetapi kalau kemudian dari penyidikan diketahui bahwa tidak ada penyerangan dan lain sebagainya, seperti dalil yang diterangkan oleh Satgas COVID, maka ya kemungkinan lain bisa terjadi. Tetapi prinsipnya ada laporan resmi dari warga, ini kan soal orang diserang, maka polisi wajib, wajib sekali lagi untuk melakukan penyidikan. Terutama ini juga baik agar menjadi preseden sekaligus peringatan bagi Satgas COVID agar dalam menegakkan PPKM tidak mengambil tindakan represif seperti ini,” ungkap Emanuel Herdiyanto.

Comments are closed.