PPKM Darurat: Darurat di Rumah

Kondisi RS Permata, 1 Juli 2021

Memasuki Pembatasan Pergerakan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat semoga bisa menekan laju COVID-19 yang saat ini mencapai 27.233 dengan akumulasi kasus lebih dari 2 juta, terburuk di Asia Tenggara dan kelima di dunia. Walaupun pemerintah mengklaim tingkat kesembuhannya memiliki posisi kedua setelah Rusia (TV One) dengan tingkat kematian kelima di dunia yaitu 555.

Menyaksikan suguhan berita baik mainstrain atau media digital dengan headline “Bertaruh Nyanwa, Stok Oksigen Langka”, “Indonesia kolapse..”, “Pasien Melonjak Oksigen menipis”, “Banyak RS kewalahan”, BOR di RSUD Bayu Asih Sudah 97%, “Pasokan Oksigen Nyaris Tak Cukup”…. bikin bulu kuduk merinding.

Berita kematian berguguran dari tokoh penting, selebriti, pejabat dan khalayak menjadi pemandangan biasa saat ini. Setiap hari kita menyaksikan kabar tetangga sakit, meninggal, dll. Berita duka memenuhi WAG dan medsos lainnya menambah panjang memenuhi relung pikiran kita semua.

Mendengar kabar orang tua sakit, saya langsung meluncur ke Cirebon tanah kelahiran di mana ortu tinggal. Kondisi demam namun karena ayah sedang kambuh prostat, sering mengerang kesakitan terutama hendak pipis. Mengingat ayah sudah 81 tahun dan memiliki 2 ring di jantungnya kami larikan ke RS terdekat.

Nuansa RS di kota ini penuh dengan pasien yang lebih darurat. Dengan berbesar hati kami ditolak maka ku bawa ke dokter klinik terdekat dan diberikan obat penurun demam dan rasa sakit. Karena demam tidak kunjung turun dengan bantuan paramedis ayah mulai dipasangkan infus dengan harapan tidak dehidrasi sampai menunggu Senin akan konsul ke spesialis urologi.

Beberapa saat kebersamaan sebelum pergi selamanya

Darurat yang sangat Terasa di Hati

Hati kecil saya mulai waswas, demam tidak kunjung turun, Ayah gelisah dan sering terjaga mengerang kesakitan. Saya ikut terjaga mengompres dahi dan punggung seraya sambil mengucapkan zikir. Subhanalloh…. Ya Alloh.. Ya Rohman Ya Rohim…. sesekali dilantunkan ayat-ayat Al-Quran, dengan tangan kanan kuberikan air hangat.

Selera makan sudah beberapa hari drop, yang masuk hanya beberapa sendok oatmeal sereal. Mulailah menggali semua informasi dengan googling, telepon dokter kantor, teman ahli untuk mengungkap rasa penasaranku. Menunggu esok hari terasa Panjang dan lama, bagai meniti harapan akan kesembuhan dan keajaiban. Setiap hentakan napas ku mengerti penuh rasa sakit. Sekalipun saya menyakini bahwa virus telah menjangkiti tubuh Ayah namun secara naluri anak terhadap ortu tidak bisa dihindar, tetap dekat, tetap mengelus menenangkan.

Menyadari hal terburuk saya membatasi ibu atau anggota keluarga lain mendekati Ayah. Dengan ajakan halus saya menenangkan Ibu yang juga sedang sakit untuk tidak ke kamar ayah. Menjauhkan dari ayah adalah darurat hati. Ada berontak diri berkecambuk, namun logika dan nalar tetap dikedepankan mengambil risiko yang paling kecil.

Harapan Senin 28 Juni 2021 terkoyak ketika saya mendapati bahwa hasil rontgen terlihat jelas paru-paru sudah terimbas, bercak putih paru sebelah kanan menandakan 90% positif. Dikuatkan oleh dokter spesialis penyakit dalam.

Lemas jiwa dan raga namun saya segera berpikiran positif bahwa Ayah harus terselamatkan. Masuk ke IGD pada saat pasien membeludak sangat berpengaruh terhadap kejiwaan pasien. Terus menerus saya bicara hal-hal positif untuk didengarkan supaya Ayah bangkit dan memiliki spirit. Ayahku sudah mulai terlihat lunglai dan lirih.

Alhamdulillah, setelah Ventilator dipasang ayahku mulai bersinar lagi, matanya mulai bercahaya dan terbuka lebar. Untuk menunggu test PCR kita harus menunggu 1×24 jam. Luar biasa…. Sangat melelahkan namun kujalani SOP dengan tetap berharap kesembuhan dan pemulihan.

Sungguh Akhir yang Indah

Kurelakan Ayahku diisolasi demi kebaikan dengan semuanya. Keyakinan terus kupupuk bahwa saya, adik dan seluruh anggota keluarga harus kuat, bisa melalui situasi sulit. Saya intens komunikasi di WAG keluarga saling mensupport saling memberikan kalimat positif yang menenangkan. S

esekali adik bergantian datang menjenguk ayah dibalik jendela kaca melambaikan tangan dan memberi ciuman untuk saling menguatkan. Ayahku mengacungkan jempolnya…. Senang sekali hati ini melihatnya. Keesokan hari 1 Juli 2021 jam 10 beliau VC pada adik bungsuku yang sudah datang dari Lampung. Ayah meminta untuk berkumpul di RS, kata-kata yang awalnya begitu jelas lambat laun meluruh sehingga kami menyakini ini adalah kata-kata terakhir untuk minta datang mendekat.

Adik-adik dan juga anak-anak mendekat ke RS Permata. Dari hasil keterangan dokter menyatakan ayah semakin memburuk dan ketika naza tiba, dengan sigap perawat dan relawan yang sudah ber APD lengkap mentalkin dan menuntun Ayah untuk mengucapkan kalimat Syahadat. Secara Islam kami menyakini rasa sakit yang diderita adalah penggugur dosa. Kalimat syahadat yang terucap adalah akhir yang sangat baik.

Kondisi darurat dan Kontak Erat…

Hati siapa yang takkan pilu melihat dengan mata, mendengar erangan rasa sakit, dan tatapan meminta pertolongan. Wajah yang begitu dekat dalam kehidupan kita … Ayah saat ini sangat membutuhkan belaian, dekapan dan kedekatan jiwa. Rasa takut dan khawatir bukan tidak ada namun terkalahkan dengan rasa cinta dan taqdim. Menggunakan masker medis yang baik, berdekatan dan bersinggungan dengan penyintas kemudian melantunkan doa-doa, setelah itu kita harus menyadari penuh segera cuci tangan. Bawa disinfektan begitu ada kesempatan tanggalkan semua baju. Mandi yang bersih hindari kontak dengan anggota keluarga yang lain.

Menanti perjalanan di keabadian 29 Juni 2021

Siaga Dalam Darurat

Berpikiran positif dengan menyebarkan postingan yang membangkitkan, tunjukan ketegaran dan keikhlasan hati menerima semua ini, We are not alone… kita harus bangkit menghadapi kedaruratan yang tidak kita inginkan. Segera tes swab antigen dan hasilnya apapun segera beritahu anggota keluarga, teman kantor dan lingkungan di mana kita sering berinteraksi. Bila positif tidak perlu paranoid, semakin waspada dan amati gejala klinis.

Tetap mengupayakan rileks dengan membaca hal-hal positif, baca Al-Quran untuk orang muslim, dengar musik atau melakukan hobi yang lain. Tanamkan disiplin diri, anggota keluarga, dan lingkungan untuk selalu menjaga Prokes.

Hal kecil ini bila dilakukan oleh kebanyakan orang akan memberikan dampak signifikan dalam menekan laju covid 19. Bahkan tidak mustahil Indonesia segera bangkit dan ekonomi pulih. Saya teringat jargon TV one Pakai Masker Harga Mati, Tidak Pakai Bisa Mati. Dengan demikian tatan sikap Siaga Dalam Darurat Dimanapun.

I Aeni Muharromah – Humas BATAN

Comments are closed.