Populer: Bos Samator Meninggal Karena COVID-19, Luhut Kesal Ivermectin Melonjak

Arief Harsono, pendiri dan CEO Grup Samator, produsen gas terbesar di Indonesia. Foto: Instagram htanoko

Arief Harsono, pemilik Samator Group yang memproduksi gas terbesar di Indonesia, meninggal dunia. Arief mengembuskan napas pada Jumat (2/7) di Surabaya. Peristiwa ini menjadi berita populer di kanal bisnis pada Sabtu (3/7).

Selain itu, berita populer lainnya adalah Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang kesal harga ivermectin melonjak ratusan persen di tengah tingginya kasus COVID-19 di dalam negeri. Berikut kumparan rangkum dua berita populer tersebut:

Bos Perusahaan Gas, Arief Harsono, Tutup Usia

Bos Samator Group, Arief Harsono, tutup usia pada usia 67 tahun di Rumah Sakit Adi Husada, Surabaya, lusa lalu sekitar pukul 21.30 WIB.

Samator Group merupakan salah satu perusahaan gas terbesar di Indonesia dengan klien utamanya adalah perusahaan gas industri swasta nasional, BUMN maupun asing. Arief Harsono, lahir di Toli-Toli, Sulawesi Tengah pada tanggal 18 Juli 1954.

“Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh pengusaha Gas Terbesar di Indonesia. Ir. Arief Harsono, MM., M.Pd.B., Bos Samator Grup yang telah menghembuskan nafas terakhir pukul 21.30 WIB,Jumat 2 Juli 2021, @RS Adi Husada, Surabaya,” tulis partner kerja yang juga anak pemilik Perusahaan Cat Avian, Hermanto Tanoko melalui akun Instagramnya dikutip kumparan, Sabtu (3/7).

Hermanto menjelaskan, Arief telah mendirikan dan membesarkan Samator Group hingga menjadi perusahaan multi triliunan dengan mempekerjakan hingga lebih dari 3.000 pegawai. Semasa hidup, Arief Harsono pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII), Ketua Apindo DPP Jawa Timur, Ketua DPP Walubi dan masih banyak jabatan lain yang pernah diemban.

Samator, produsen gas terbesar di Indonesia memasok kebutuhan medis dan industri. Foto: Dok. Samator

Hermanto sempat menanyakan kepada Arief mengenai kondisi COVID-19 dan ketersediaan oksigen di RI pada, Minggu (25/6). Pada saat itu Arief menjawab kondisi COVID-19 di Indonesia akan semakin naik hingga pertengahan Juli.

“Memang seluruh produsen oksigen kewalahan terbentur akan tabung gas dan transport. Jadi beberapa minggu ini saya banyak sibuk koordinasi kekurangan oxygen di RS Jabar, Jateng dan Jatim sehingga agak kelupaan waktu istirahat,” kata Arief.

Hermanto merasa kehilangan karena Arief telah membantu kebutuhan oksigen di Indonesia. Bahkan, Arief sempat menyumbang lima kontainer tabung gas bersama beberapa pengusaha lain ke India. Ia juga berharap supaya Arief tenang dan damai di sisi-Nya. Pengorbanan Arief Harsono di masa sulit akan selalu dia kenang.

Luhut Kesal Harga Obat Ivermectin Melonjak: Jangan Ada yang Ambil Untung

Luhut kesal dengan melonjaknya harga ivermectin. Menurutnya, ada sejumlah oknum yang sengaja menaikkan harga obat ini.

Obat ini disebut Menteri BUMN Erick Thohir hanya dibanderol Rp Rp 5.000-Rp 7.000 per tablet. Obat tersebut diklaim sebagai obat terapi pasien COVID-19.

Sementara pantuan kumparan di platform belanja online Tokopedia, ada toko yang menjual per 1 kaplet harganya Rp 44.300 atau lebih mahal 786 persen jika dibandingkan dengan rencana harga yang disebut Erick.

Menko Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan Foto: Menko Marves

“Kelihatan harga obat itu mulai tidak teratur. Dinaik-naikkan, jadi seperti Ivermectin itu sampai harga berapa puluh ribu padahal itu sebenarnya hanya Rp 7.800 (per butir),” katanya dalam konferensi pers virtual, Sabtu (3/7).

Luhut pun meminta Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin untuk mematok harga ivermectin di bawah Rp 10 per butir saat pandemi. “Bud, patok aja di bawah Rp 10 ribu,” tegas Luhut.

Comments are closed.