Polri soal Kabar Kebocoran 26 Juta Dokumen Anggota Polisi: Hoaks

Kadivhumas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo (tengah) bersama Kadiv TIK Polri Irjen Pol Slamet Uliandi (kedua kanan), konferensi pers di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Rabu (20/7/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Polri merespons kabar terkait dugaan bocornya data personelnya sebanyak 26 juta dokumen. Kabar tersebut pertama kali beredar lewat sebuah laman para peretas yakni breached.to yang diberi judul ’26M DATABASE NATIONAL POLICE IDENTITY OF INDONESIA REPUBLIC’.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, hal tersebut merupakan hoaks. Dia menegaskan tak ada data personel Polri yang bocor.

“Hoaks,” kata Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Kamis (22/9).

Meski begitu, Dedi menuturkan, pihaknya akan mendalami siapa penyebar hoaks tersebut. Kasus ini akan ditangani Dittipidsiber Bareskrim Polri.

“Dit Siber akan dalami,” ujar dia.

Dugaan kebocoran data itu berawal dari sebuah laman breached.to. Laman itu disebut sebagai forum para peretas. Di dalam laman tersebut akun anonim bernama Meki mengunggah sebuah utas atau thread yang diberi judul ’26M DATABASE NATIONAL POLICE IDENTITY OF INDONESIA REPUBLIC’.

Pengunggah anonim itu mengeklaim berisi dokumen penting semua data keanggotaan Polri di seluruh Indonesia. Di dalamnya juga disematkan logo Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

“Polri telah menghabiskan banyak uang hanya untuk membangun server atau website sederhana (karena mereka tidak peduli dengan kerentanan pada website yang mereka kelola) dan kali ini saya berniat untuk menjual data valid dan dokumen penting dengan harga yang terjangkau. Karena polisi di Indonesia tidak lagi di jalur yang benar, tapi sering mempersulit dan menjatuhkan orang miskin,” tulis anonim itu dalam unggahannya yang telah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia.

Data tersebut dijual oleh akun anonim itu dijual seharga USD 2.000 atau setara sekitar Rp 30 juta.

Comments are closed.