Pesanan Peti Mati Menumpuk, Perajin di Klaten Mulai Menyerah

Pekerja di kerajinan Sekar Peti menyelesaikan pesanan yang meningkat tajam selama dua pekan terakhir.

KLATEN-Para perajin peti mati di Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, Klaten, kini sibuk bukan kepalang. Mereka harus memeras tenaga untuk melayani pesanan peti mati. Para pekerja harus lembur selama dua pekan terakhir.

Salah satunya adalah perajin Sekar Peti. Para pekerja harus bekerja lembur sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah malam. Namun, antrean tidak kunjung mereda. Kini, sudah ada 7 rumah sakit yang masih mengantre pesanan peti mati.

Belum lagi masih banyak pelanggan yang juga sudah tidak sabar meminta pasokan peti mati. Pesanan terus berdatangan dari Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Yogyakarta hingga Grobogan.

“Permintaan terlalu tinggi,” kata pemilik usaha kerajinan peti mati Sekar Peti, Riyawanto Edi, Jum’at (02/07/2021). Kenaikan permintaan peti mati memang sudah berangsur naik selama pandemi. Sedangkan ledakan permintaan terjadi sekitar dua pekan terakhir.

Pekerja di kerajinan Sekar Peti menyelesaikan pesanan yang meningkat tajam selama dua pekan terakhir.

Lima belas karyawannya mengeluh sudah tidak sanggup lagi memberikan tenaganya lebih banyak. Tenaga yang diperas selama 2 pekan terakhir membuat sebagian pekerjanya kini justru jatuh sakit.

Apalagi, kayu sengon sebagai bahan baku peti mati kini sudah sudah didapat. Pasokan bahan itu terus tersendat. “Pesanan menumpuk, tapi pekerja sudah menyerah,” katanya.

Riyawanto sudah 10 tahun menekuni usaha kerajinan tersebut. Dia biasa menjual produknya seharga Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu. Selama menekuni usaha itu, belum pernah dia mengalami situasi seperti ini.

(Fernando Fitusia)

Comments are closed.