Pertamina Bakal Gandakan Kapasitas Geothermal RI hingga 2027, Ini Strateginya

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5/2022). Foto: Dok. Istimewa

PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya mengembangkan energi ramah lingkungan untuk membantu pencapaian target net zero emission di tahun 2060. Salah satunya energi panas bumi atau geothermal hingga tahun 2027.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan Pertamina menjajaki kerja sama pengembangan bisnis rendah karbon dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan hari ini, Kamis (12/5), di Washington DC.

“Chevron memiliki sejarah panjang dan jejak yang luar biasa di sektor geothermal. Jadi kami memiliki target untuk menggandakan kapasitas panas bumi kami dalam 5 tahun ke depan,” ujar Nicke.

Melalui kerja sama ini, Chevron dan Pertamina berencana untuk mengembangkan teknologi panas bumi baru (novel geothermal). Nicke mengatakan, Indonesia merupakan negara kedua terbesar yang memiliki kapasitas terpasang panas bumi sejak tahun 1974.

Executive Vice President Business Development Chevron Jay Pryor bersama Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5/2022). Foto: Dok. Istimewa

Saat ini, melalui Subholding Power & NRE, Pertamina memiliki total kapasitas terpasang Geothermal mencapai 1.877 MW yang berasal dari 13 area kerja Geothermal, di mana 672 MW berasal dari area kerja yang dioperasikan sendiri dan 1.205 merupakan kontrak operasi bersama (joint operation contract/JOC).

Area kerja yang dioperasikan sendiri dengan total kapasitas 672 MW tersebut mencakup Area Sibayak 12 MW, Area Lumut Balai 55 MW, Area Ulubelu 220 MW, Area Kamojang 235 MW, Area Karaha 30 MW, dan Area Lahendong 120 MW.

Selain itu, Pertamina juga melakukan diversifikasi pengembangan geothermal, antara lain pilot project green hydrogen yang dikembangkan di Area Ulubelu dengan target produksi 100 kg per hari dan brines to power yang dikembangkan di Area Lahendong, serta potensi kapasitas 200 MW dari beberapa area kerja lainnya.

Pertamina Chevron Bakal Kembangkan Teknologi CCS dan CCUS

Selain peningkatan kapasitas geothermal, Nicke berkata kerja sama Pertamina dengan Chevron juga bertujuan mengembangkan penerapan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization, and Storage (CCUS).

Kemudian, pengembangan, produksi, penyimpanan, dan transportasi hidrogen dengan rendah karbon (lower carbon hydrogen). Soal ini, kata Nicke, Chevron telah memiliki pengalaman yang panjang dan terimplementasi nyata.

“Kami memiliki beberapa reservoir bawah permukaan yang menipis di Kalimantan di Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Jadi kita bisa berkumpul dengan teknologi pemanfaatan dan penyimpanan penangkapan karbon,” tuturnya.

Bekerja sama dengan berbagai pihak, Pertamina juga tengah mengembangkan penerapan CCS dan CCUS sebagai salah satu strategi perseroan mengurangi emisi karbon di dua lapangan migas, yakni Gundih dan Sukowati. Pertamina juga sedang mengkaji komersialisasi penerapan teknologi CCUS di wilayah Sumatera.

Comments are closed.