Pertama Kali Dalam Sejarah Katolik Jadi Agama Mayoritas di Irlandia Utara

Tembok perdamaian yang memisahkan komunitas Katolik dan Protestan terlihat di Belfast, Irlandia Utara 1 Maret 2017. Foto: Clodagh Kilcoyne/REUTERS

Sejarah tercipta di Irlandia Utara. Untuk pertama kalinya dalam sejarah jumlah warga Katolik lebih banyak dari Protestan.

Data tersebut membuat dorongan agar Irlandia Utara memisahkan diri dari Inggris Raya, dan bergabung dengan Republik Irlandia bersatu semakin kuat.

Perubahan ini muncul seabad usai negara Irlandia Utara didirikan. Pendirian Irlandia Utara bertujuan memelihara pengaruh Britania Raya di wilayah tersebut.

Inggris merasa pendirian Irlandia Utara penting demi meredam Republik Irlandia di selatan yang berisi dan berbudaya Katolik sangat kental.

Ketika Irlandia Utara didirikan, jumlah warga Protestan mencapai dua per tiga, dibanding warga Katolik yang hanya sepertiga.

Pemandangan Katedral St Anne abad ke-19, juga dikenal sebagai Katedral Belfast di Belfast, Irlandia Utara. Foto: Nina Alizada/Shutterstock

Pada sensus 2021 yang datanya dirilis pada Kamis (22/9) tahun 2022, menunjukkan 45.7 persen warga Irlandia Utara mengaku diri sebagai Katolik. Sedangkan 43.5 persen mengaku Protestan.

Tanda-tanda semakin menurun warga Protestan di Irlandia Utara terlihat sejak satu dekade lalu. Kala itu, jumlah umat Protestan sebesar 48 persen dan Katolik 45 persen.

Meski saat itu masih unggul, angka 48 persen penganut Protestan begitu memprihatinkan. Pasalnya, jumlah tersebut merupakan estimasi di bawah 50 persen pertama.

Para ahli demografi sudah memprediksi Katolik bakal menjadi mayoritas di Irlandia Utara. Tingkat kelahiran dan jumlah usia muda lebih banyak merupakan faktor utama.

Pisah dari Inggris

Dengan semakin banyaknya Katolik dibanding Protestan, suara demi bercerai dari Inggris semakin nyaring berbunyi di Irlandia Utara.

Salah seorang pemimpin partai nasionalis Irlandia SDLP, Colum Eastwood, mengatakan pergeseran kelompok mayoritas adalah sejarah penting Irlandia modern. Oleh karenanya, ia meminta fakta tersebut tidak diremehkan, demikian dikutip dari Reuters.

Isu bercerainya Irlandia Utara dari Inggris demi bersatu kembali dengan Irlandia memang berembus begitu kencang. Fakta lapangan juga menunjukkan sejumlah kelompok umat Katolik memilih bersama Irlandia dibanding Inggris.

Meski demikian, pertambahan Katolik tidak otomatis membuat dukungan agar bercerai dengan Inggris semakin kuat.

Ternyata terdapat pula warga Katolik di Irlandia Utara yang menolak bersatu bersama Republik Irlandia. Jumlahnya juga cukup signifikan.

Pada jajak pendapat terakhir 43 persen warga Irlandia Utara masih menganggap mereka orang Inggris. Sebanyak 33 persen menyatakan orang Irlandia Utara sebagai warga Irlandia.

Konflik di Irlandia Utara

Irlandia Utara sendiri sudah lama menjadi area konflik. Semua itu bermula ketika Inggris mengirim orang Protestan dari Skotlandia untuk menetap di utara Irlandia yang mayoritas Katolik.

Akibat ulah Inggris konflik antar Katolik dan Protestan pecah di Irlandia Utara. Sebanyak 3.000 orang lebih tewas pada konflik sektarian tersebut.

Konflik yang melibatkan nasionalis Irlandia Katolik melawan loyalis pro-Inggris dibantu pasukan Inggris baru selesai setelah perjanjian damai diteken pada 1998.

Comments are closed.