Perjuangan Maimunah, Anak Buruh Tani Wujudkan Impian Kuliah di UGM

Maimunah dan keluarga dok UGM

Keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang bagi Maimunah Safitri (18) untuk meraih impiannya bisa kuliah. Berkat semangat pantang menyerah menghantarkan cewek asal Langkat, Sumatera Utara ini masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa tes.

Ia diterima kuliah di jurusan kuliah Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Sekolah Vokasi lewat SNMPTN.

Dia juga menerima program Kartu Indonesia Pintar yang membebaskannya dari biaya kuliah hingga delapan semester.

“Yang pasti senang sekali bisa diterima di UGM. Dari dulu memang pengin banget kuliah agar masa depan bisa lebih baik dan membantu mengangkat keluarga,” tutur cewek yang akrab disapa Mai itu, dilansir laman UGM.

Universitas Gadjah Mada. Foto: Instagram/@ugm.yogyakarta

Hidup sederhana sebagai anak buruh tani

Mai tumbuh dan besar dari keluarga sederhana di sebuah kampung kecil dekat perkebunan sawit di Desa Banyumas, Kecamatan Langkat, Sumatera Utara.

Dia merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Sawal (45) dan Ponisih (38). Bapaknya sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan menjadi tulang punggung keluarga.

“Bapak dulu sempat kerja di kebun sawit, tapi lama-lama berat. Fisik juga semakin menua. Akhirnya memilih jadi buruh tani, garap kebun milik tetangga kalau ada yang nyuruh. Alhamdulillah selalu saja ada yang dikerjakan,” tutur dia.

Mai mengungkapkan dari menjadi buruh tani, biasanya bapaknya bisa mendapat sekitar Rp 300 ribu setiap minggunya. Meskipun tak banyak, upah tersebut bisa digunakan untuk mencukupi kehidupan keluarga mereka.

Mai juga turut membantu dengan bekerja. Bukan hal yang mudah membagi waktu sekolah, bekerja, dan menyiapkan diri masuk perguruan tinggi.

“Sampai sekarang masih kerja di Binjai, dari Senin sampai Sabtu jadi drafter di workshop alat-alat listrik,” ucapnya yang berharap selepas lulus kuliah bisa punya workshop sendiri di tanah kelahirannya.

Maimunah dok UGM

Tetap berprestasi

Kondisi keluarga yang hidup dalam kondisi pas-pasan tak lantas mematahkan semangat Mai untuk terus berprestasi di setiap jenjang pendidikan.

Cewek kelahiran 8 Mei 2003 ini selalu menggenggam juara di sekolah hingga bangku SMK. Dia meraih juara umum saat sekolah di SMK N 1 Stabat jurusan Mesin Permodelan dan Informasi Bangunan.

Tak hanya itu, sejumlah medali dan penghargaan juga dibawa pulang dari berbagai kompetisi. Mulai dari Olimpiade Numeradi dan Literasi Indonesia (ONLI) POSI 2021, Kompetisi Sains Indonesia (KSI) POSI 2021, dan Olimpiade Biologi Nasional 2021.

Meskipun telah mengantongi berbagai penghargaan, Mai sempat ragu saat akan mendaftar UGM melalui SNMPTN Undangan. Kegamangannya itu bukanlah tanpa sebab. Sebab, ia berasal dari SMK yang menurutnya sulit untuk lolos.

“Sama guru BK sempat disarankan untuk tidak pilih UGM. Katanya berat kalau dari SMK, sayang nilai udah bagus kalau tidak lulus, ‘kan, sedih,” kenang Mai.

Namun, ia tetap pada pendiriannya. Hasilnya, Mai menjadi siswa pertama di sekolahnya yang diterima kuliah di UGM.

Kegembiraan juga dirasakan oleh keluarga Mai. Kedua orang tuanya bahagia karena impian putrinya semakin dekat dengan kenyataan. Meski bukan dari keluarga berada, mereka ingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Tidak seperti bapaknya yang sekolah sampai tingkat SD dan ibunya sampai SMP.

“Bapak mamak senang sekali tau Mai diterima di UGM. Bahkan, mamak sudah mencicil belikan barang-barang seperti koper untuk persiapan kuliah di Jogja jauh-jauh hari sebelum pengumuman,” ujar Mai.

Comments are closed.