Perjalanan Taichiro Motoe Jadi Orang Terkaya Jepang Berkat Bisnis Tanda Tangan

Foto: Forbes

Di masa pandemi covid-19, segala sesuatu mesti dilakukan serba jarak jauh. Sekolah harus jarak jauh, jual-beli pun jarak jauh, bahkan ibadah juga dilakukan di rumah masing-masing.

Karena situasi demikian, tak melulu pandemi membawa musibah bagi orang banyak. Bahkan, ada beberapa orang yang justru dibuat sukses oleh karena pandemi. Salah satunya ialah Taichiro Motoe.

Taichiro adalah seorang pengacara kawakan asal Jepang. Setelah lulus dari SLTA, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jurusan Hukum Universitas Keio.

Mulanya Taichiro tak berpikiran jadi seorang pengacara. Namun, suatu kali ia terlibat kecelakaan di jalan. Karena tak mengerti hukum, Taichiro lantas dimintai ganti rugi oleh si pemilik kendaraan lain.

Ia galau karena biaya ganti rugi yang mesti dibayar amatlah besar. Dari mana keluarga Taichiro bisa mendapatkan biaya besar untuk membayar ganti rugi? Lantas, ibu dari Taichiro menyarankannya untuk mendatangi seorang pengacara.

Di hadapan sang pengacara, Taichiro berkonsultasi membicarakan persoalannya. Ternyata, pengacara tersebut punya solusi yang ternyata membuat hati Taichiro tenang.

Si pengacara menjelaskan bahwa dalam suatu kecelakaan dua pihak, kewajiban membayar ganti rugi adalah kewajiban kedua pihak tersebut, bukannya salah satu pihak.

Akhirnya, Taichiro pun hanya menanggung 70 persen biaya kerusakan. Karena merasa diselamatkan oleh seorang pengacara, Taichiro lantas terobsesi untuk mempelajari masalah hukum sedalam-dalamnya dan mulai bercita-cita jadi pengacara.

Selepas kuliah, ia mengikuti ujian profesi layaknya calon pengacara lain. Ujian yang gengsinya setara tes CPNS jika di Indonesia itu berhasil dilalui oleh Taichiro dengan kelulusan. Ia sah menjadi seorang pengacara.

Sebagai awal, Taichiro lantas mengikuti program magang di sebuah firma hukum bernama Anderson Mori & Tomotsune. Sejak 1999 bekerja di sana, ia akhirnya memutuskan keluar dari firma tersebut pada 2005 dan memutuskan membangun firmanya sendiri, Authense Law Office.

Di samping kemampuan advokasinya, Taichiro juga diam-diam adalah pebisnis handal. Ia jago dalam membaca tren dan pasar yang sedang ramai. Salah satu tren yang berhasil ia baca adalah teknologi informasi di masa kini.

Kemampuan advokasinya kemudian diadaptasikan dalam bentuk digital. Ia pun membangun platform tanda tangan atau legalisasi digital bernama Bengo4.com Inc. Platform tersebut dibangun bersamaan dengan ia membangun firma hukumnya.

Platform tersebut melayani segala kebutuhan legalisasi, seperti penandatanganan dokumen oleh pengacara, notaris, dan sebagainya. Keterbatasan lokasi dapat diantisipasi dengan tanda tangan digital para pengacara yang tergabung dalam Bengo4.com.

Mulanya, tak ada satupun pengacara yang mau membuka identitasnya layaknya produk di sebuah marketplace di platform publik. Namun, pandemi mengubah total pandangan tersebut.

Semakin lama, orang semakin malas keluar. Apalagi, pandemi covid-19 memang menuntut orang-orang untuk tidak bertatap muka. Platform legalisir milik Taichiro pun laku keras dan bahkan jadi kebutuhan masyarakat Jepang hingga kini.

Bengo4.com bahkan menjadi bidang usaha yang paling banyak menyumbang harta kekayaan ke kantung Taichiro. Forbes mencatat, berkat bisnis tanda tangan itu, Taichiro kini punya harta kekayaan bersih senilai 1,7 miliar dolar AS atau senilai Rp 17,2 triliun (kurs: Rp 14.400).

Comments are closed.