Peringatan Ekonom: The Fed Mau Tapering Off, Bisa Bikin Rupiah Anjlok

Ilustrasi uang dolar dan rupiah. Foto: Aditia Noviansyah

Ekonom Senior INDEF Aviliani mengingatkan soal adanya wacana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) melakukan pengurangan stimulus atau tapering off pada 2022. Hal tersebut harus diantisipasi Indonesia.

Aviliani berpendapat apabila pengurangan stimulus benar-benar dilakukan, dampaknya besar ke Bank Indonesia khususnya terkait pelemahan rupiah. Sebab, dana asing bisa saja ramai-ramai keluar.

“Persoalannya kalau mereka (The Fed) melakukan tapering off otomatis dana akan banyak kembali (ke AS), apalagi di Indonesia. Dana asing terutama di obligasi pemerintah kan cukup besar, walaupun dulu masih 40 persen sekarang sekitar 39 persen,” kata Aviliani dalam webinar yang digelar INDEF, Rabu (7/7).

Pengamat ekonomi, Aviliani. Foto: Joseph Pradipta/kumparan

“Kalau terjadi aliran dana keluar mungkin Bank Indonesia cukup berat. Selain sekarang menjadi burden sharing, yang kedua kalau aliran dana keluar biasanya rupiah melemah,” tambahnya.

Kondisi serupa pernah terjadi di tahun 2013. Ia mengatakan, saat itu nilai tukar dolar Rp 13.000, padahal sebelum tapering off masih berada di angka Rp 9.000.

Selain itu, melemahnya rupiah bakal berimbas juga ke penurunan daya beli dan kenaikan harga barang. Suku bunga juga akan naik dan cadangan devisa akan terpengaruh.

“Dan juga berpengaruh terhadap indeks harga saham itu otomatis,” ungkap Aviliani.

Tapering off pada 2022 tersebut rencananya dilakukan setelah perekonomian AS kembali membaik atau positif. Selanjutnya pada 2023, kata Aviliani, The Fed mungkin kembali menaikkan suku bunga.

Comments are closed.