Penularan COVID-19 di Amerika Latin Memburuk Akibat Varian Delta

Petugas medis melakukan penghomatan untuk korban COVID-19 di sebuah rumah sakit lapangan untuk pasien corona di Santo Andre, negara bagian Sao Paulo, Brasil, Kamis (31/12). Foto: Amanda Perobelli/REUTERS

Amerika Latin merupakan salah satu benua yang terdampak parah pandemi COVID-19. Hingga kini penularan harian masih terus terjadi di seluruh negara di sana. Bahkan jumlahnya semakin tinggi.

Pan American Health Organization atau PAHO menilai akhir pandemi COVID-19 di Amerika Latin masih jauh dari kata usai. Tidak ada tanda-tanda COVID-19 di Amerika Latin akan selesai dalam waktu dekat.

“Kami melihat penularan virus di negara-negara di Amerika Utara menurun, tapi untuk sebagian besar negara di kawasan kami (Amerika Latin), masih jauh dari akhir,” kata Direktur PAHO Carissa Etienne dikutip dari Reuters, Kamis (1/7).

Berdasarkan catatan Reuters, setidaknya ada 37.441.000 kasus COVID-19 di Amerika Latin dan Karibia. Sedangkan 1.272.000 pasien meninggal dunia. Jumlah ini sepertiga lebih banyak dari gabungan kasus di benua Asia dan Afrika.

“Varian delta yang sangat menular telah terdeteksi di selusin negara di Amerika, tetapi sejauh ini penularan masih dalam lingkup komunitas terbatas,” kata penasihat penyakit virus PAHO Jairo Mendez.

PAHO menuturkan, varian delta kini sudah terkonfirmasi di Argentina, Brasil, Kanada, Chili, Peru, Amerika Serikat dan Meksiko. Bahkan penularan di Mexico City cukup tinggi.

Oleh sebab itu PAHO mendorong seluruh negara Amerika Latin meningkatkan kewaspadaan. Mereka juga menyarankan agar masyarakat membatasi perjalanan dan menutup perbatasan.

Comments are closed.