Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Ilustrasi ibu dan anak bermain di taman Foto: Shutterstock

Setiap anak dilahirkan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun, sebenarnya karakter anak masih bisa dibentuk selama masa pertumbuhannya lho, Moms. Nah, orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak.

Meski begitu, pembentukan karakter anak tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Oleh karenanya, orang tua perlu mengetahui bagaimana cara membentuk karakter yang baik pada anak-anaknya.

Cara agar Orang Tua Bisa Menanamkan Karakter Baik pada Anak

Menurut Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek RI, Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D, pembentukan karakter anak perlu didukung dengan adanya kerja sama antara orang tua, guru, pemerintah hingga kehadiran media. Hal ini disampaikannya dalam acara Ngobrol Publik yang diselenggarakan oleh Semua Guru Semua Murid pada Rabu (30/6).

“Kita berharap apabila anak kita semua itu dapat memiliki karakter yang baik. Sehingga dalam hal ini peran keluarga sangat penting untuk membentuk karakter anak. Orang tua itu sebenarnya guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, sehingga mereka juga harus terus belajar,” kata Hendarman.

Menurutnya karakter anak yang baik dapat dicerminkan dalam pelajar Pancasila. Kemendikbudristek RI berpendapat bahwa pelajar Pancasila adalah anak-anak yang kritis, kreatif, mandiri, beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong-royong dan berkebhinekaan global. Pelajar Pancasila dapat terwujud apabila konteks belajar sepanjang hayat dapat diterapkan oleh orang tua untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul kedepannya.

Ilustrasi ibu sedang mendengarkan cerita anak Foto: Shutterstock

Sebagai salah satu pegiat dalam bidang pendidikan keluarga, Chief of kumparanMOM, Prameshwari Sugiri yang juga hadir dalam diskusi tersebut berpendapat bahwa konsep pendidikan untuk membentuk karakter anak memanglah tidak mudah. Terkadang, upaya-upaya yang telah dilakukan orang tua pun hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

“Konsep pendidikan karakter itu harus masuk ke semua aktivitas sehari-hari baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Nah, tantangan yang paling besar adalah kesadaran bahwa pendidikan itu merupakan tanggung jawab kita semua. Di mana orang tua harus terus belajar dan terus bertumbuh bersama anaknya,” kata wanita yang kerap disapa Imesh ini.

Menurutnya, dari sisi media, selain menyajikan informasi dan edukasi, kumparanMOM juga berusaha mengajak orang tua untuk bicara dan belajar mengenai konsep belajar sepanjang hayat untuk membentuk karakter anak. Imesh–sapaan akrabnya, mengatakan terdapat 3 poin penting yang bisa diterapkan orang tua dalam usaha pembentukan karakter anak, yaitu fleksibilitas, optimisme dan empati.

“Fleksibilitas yang mengacu pada kapasitas untuk beradaptasi, bangkit pada kesempatan dan menjadi adaptif. Kemudian optimisme, ini harusnya kita bisa bersama-sama dengan kumparanMOM yang berusaha menyampaikan edukasi dan informasi dari konten kita, menemukan cara untuk berkembang, melakukan yang terbaik untuk mempelajari keterampilan baru. Terakhir adalah empati yang sangat penting bagi orang tua untuk memusatkan perhatiannya pada orang lain, daripada berfokus pada masalah yang ada, kemudian secara konsisten berupaya melakukan tindakan baik,” lanjut Imesh.

Ilustrasi ibu menemani anak belajar. Foto: Shutterstock

Hal ini juga disetujui oleh Hendarman, menurutnya, orang tua memang seharusnya memiliki rasa simpati dan empati yang harus dijaga dan kuasai dalam penguatan karakter anak. Artinya, orang tua harus lebih banyak mendengarkan dan belajar agar dapat mendukung pembentukan karakter anak yang baik kedepannya.

Founder dan Komisaris Paragon, Nurhayati Subakat, sebagai ibu sekaligus pengusaha juga turut berbagi pengalamannya terkait pembentukan karakter anak di keluarganya.

“Ada 5 hal yang orang tua ajarkan pada saya dulu, yaitu ketuhanan, kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan dan inovasi. Kelima karakter ini akhirnya otomatis saya ajarkan pada anak-anak saya juga. Jadi, saya juga ikut merasakan bahwa orang tua adalah guru pertama dan utama bagi saya,” Nurhayati.

Menurutnya, setiap orang tua merupakan sosok teladan bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, meski ia seorang pengusaha yang cukup sibuk, Nurhayati mengaku selalu berusaha untuk mengatur waktunya agar lebih fleksibel. Di mana ia masih bisa tetap mengasuh anak-anaknya dengan baik dan sekaligus mengurus usahanya.

Penulis: Hutri Dirga Harmonis

Comments are closed.