Penjelasan RSUP Dr Sardjito soal 63 Pasien COVID-19 Meninggal dalam Kurun 24 Jam

Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (30/6/2021). Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara Foto

RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, memberikan penjelasan soal 63 pasien COVID-19 meninggal dalam kurun 24 jam. Beredar kabar jika mereka meninggal akibat rumah sakit kekurangan stok oksigen.

Menyikapi itu, Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, dr. Rukmono Siswishanto, Sp.OG(K)., M.Kes., MPH, memberikan penjelasan. Menurutnya, sejak 29 Juni, RSUP Dr Sardjito telah berkoordinasi dengan suplier oksigen di antaranya PT. Samator dan PT. Surya Gas untuk mendapatkan pasokan oksigen secara rutin.

“Bahwa pada hari Sabtu, 3 Juli 2021 siang, di mana oksigen mulai menipis, maka telah dilakukan berbagai koordinasi dan persiapan, termasuk pertemuan lanjutan untuk memastikan kecukupan persediaan oksigen dengan penyedia,” kata Rukmono dalam keterangannya, Minggu (4/7).

“Hal ini mengingat kebutuhan oksigen dan jumlah pasien yang makin banyak di RSUP Dr Sardjito berakibat menipisnya persediaan baik untuk oksigen central berupa Liquid maupun oksigen tabung,” tambah dia.

Namun, Rukmono mengatakan, pada Jumat 2 Juli, RSUP Dr Sardjito mendapat tambahan pasien COVID-19 dalam jumlah banyak. Sehingga kebutuhan oksigen makin meningkat sehingga menyebabkan persediaan makin menipis.

“Upaya yang dilakukan RSUP Dr Sardjito yaitu dengan melakukan pengaturan ulang semua penggunaan oksigen yang dipakai pasien, serta mengirimkan surat permohonan dukungan kepada Menkes RI, Dirjen Pelayanan Kesehatan, Gubernur, BPBD, Dinas Kesehatan, PERSI dan Dewan Pengawas yang intinya melaporkan bahwa Direktur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pasokan oksigen dari penyedia maupun tempat lain,” ucap Rukmono.

“Namun sampai saat itu jam 15.00 WIB, rumah sakit masih mengalami kendala dan pasokan oksigen yang diperkirakan paling cepat sampai ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada hari Minggu tanggal 4 Juli 2021 pukul 12.00 WIB,” tambah dia.

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Selain itu, Rukmono mengatakan dilaporkan bahwa persediaan oksigen sentral di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta mengalami penurunan pada hari Sabtu 3 Juli 2021 mulai pukul 16.00 WIB sampai dengan kehabisan persediaan oksigen yang diperkirakan pada pukul 18.00 WIB. Namun pada kenyataannya, oksigen central habis pada sekitar pukul 20.00 WIB.

“Dari kondisi tersebut, perawatan pasien beralih menggunakan oksigen-oksigen tabung atau oksigen cadangan yang ada termasuk mendapat pinjaman dari RS Akademik UGM dan RSGM /FKG UGM serta Polda DIY. Pukul 00.15 WIB, bantuan Polda DIY sebanyak 100 tabung datang dan langsung di distribusikan ke bangsal-bangsal perawatan sambil menunggu kedatangan pasokan dari penyedia oksigen,” jelas dia.

Sejumlah warga mengantre untuk mengisi ulang tabung gas oksigen di Kawasan Manggarai, Jakarta, Senin (28/6/2021). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Rukmono melanjutkan, pukul 03.40 WIB truk oksigen liquid pertama sudah masuk dan mengisi tabung utama. Sehingga oksigen central sudah berfungsi kembali. Disusul truk kedua pada pukul 04.45 WIB masuk pula mengisi tabung central oksigen.

“Dengan datangnya pengisian ini, pelayanan untuk sementara sudah menggunakan oksigen sentral kembali. Kami berharap ke depan oksigen ini terus lancar dipasok oleh penyedia oksigen untuk memenuhi perawatan bagi pasien yang membutuhkan oksigen,” kata Rukmono.

“Kami sampaikan pula bahwa RSUP Dr Sardjito telah menyediakan bed untuk pasien COVID-19 secara optimal sebanyak 35 persen dari total tempat tidur dan pasien yang datang jauh lebih banyak dari kemampuan daya tampung rumah sakit,” lanjutnya.

Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (30/6/2021). Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara Foto

Rukmono memastikan mereka sudah melakukan upaya antisipasi maksimal dengan berkoordinasi dengan Dinkes DIY, PERSI DIY, Seluruh RS di DIY, penyedia oksigen dan TNI-Polri. Selain itu, penghematan seoptimal mungkin terhadap penggunaan oksigen telah dilakukan namun karena pandemi COVID-19 melanda seluruh negeri dan semua membutuhkan oksigen, pasokan oksigen menjadi terganggu.

“Kami mengimbau bagi masyarakat untuk mengikuti dan mematuhi PPKM sehingga laju COVID-19 dapat kita tekan bersama-sama. Tanpa peran serta masyarakat ini tentu saja pandemi ini akan sulit tertangani,” tegas dia.

Oleh sebab itu, mengenai informasi 63 pasien COVID-19 meninggal dalam sehari, Rukmono dengan tegas membantahnya. Menurutnya, jumlah itu merupakan akumulasi dua hari yakni Sabtu dan Minggu atau 48 jam.

“Terkait pemberitaan yang menyebutkan 63 pasien meninggal maka dapat kami sampaikan penjelasan bahwa jumlah tersebut akumulasi dari hari Sabtu pagi (3/7) sampai Minggu pagi (4/7),” kata Rukmono.

“Sedangkan yang meninggal pasca oksigen central habis pukul 20.00 WIB maka kami sampaikan jumlahnya 33 pasien. Namun dalam kondisi tersebut, semua pasien yang tidak tersuplai oksigen central maka dalam pelayanannya tetap tersuplai menggunakan suplai oksigen tabung. Salah satunya bantuan dari Polda DIY sejumlah 100 tabung tersebut,” tutup dia.

Comments are closed.