Penjelasan BMKG Kenapa Malam Hari Masih Terasa Gerah

Ilustrasi cuaca panas. Foto: Shutterstock

Masyarakat awam kerap mengaitkan cuaca panas dengan kehadiran matahari, tetapi meski sang surya telah terbenam, malam hari pun masih terasa gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjawab pertanyaan yang berada di benak banyak orang akhir-akhir ini.

Disadur dari siaran YouTube BMKG, cuaca panas merupakan kombinasi dari perubahan suhu, kelembaban, dan angin. Semakin tinggi kelembaban, maka udara semakin jenuh oleh uap air pula.

Sementara itu, tingkat kelembaban lebih tinggi pada malam hari. Kelembaban itu tercermin dari kabut dan embun di rumput.

“Tingkat kelembaban lebih tinggi karena udara yang lebih dingin pada malam hari tidak dapat menampung uap air sebanyak udara hangat,” terang BMKG.

“Udara yang lebih dingin lebih mudah jenuh dan ketika udara tidak dapat lagi menampung uap air, maka uap air akan berkumpul di permukaan bumi dalam bentuk embun,” lanjutnya.

Ilustrasi air embun Foto: Dok. Thinkstock

Udara yang penuh oleh uap air lantas menghambat penguapan panas dari pori-pori kulit. Cuaca malam juga terasa lebih panas sebab radiasi gelombang panjang dari bumi.

“Sebenarnya yang menghangatkan udara di dekat permukaan bumi adalah radiasi gelombang panjang dari bumi yang ketika malam hari akan tetap teremisi ke atmosfer,” ungkap BMKG.

Akhir-akhir ini, masyarakat mengeluhkan udara yang semakin panas. Hal itu diakibatkan oleh suhu terasa yang memang lebih tinggi pada pekan pertama Mei 2022 dibandingkan pekan pertama Mei selama lima tahun sebelumnya.

Kelembaban pada Mei 2022 juga cenderung lebih tinggi dari lima tahun terakhir. Kondisi itu berakar pada perubahan musim. Indonesia tengah berada dalam periode transisi dari musim hujan menuju kemarau.

Ilustrasi cuaca panas Foto: Tim Wimborne/REUTERS

“Konsekuensinya adalah jumlah uap air di atmosfer masih relatif banyak meskipun tidak sebanyak ketika musim hujan dan suhu udara mulai meningkat ketika siang hari,” pungkas BMKG.

BMKG mencatat, suhu maksimum harian rata-rata mencapai lebih dari 33 derajat Celsius di pekan pertama bulan Mei 2022. Angka itu merayap naik hingga 0,5-1 derajat Celsius dari suhu pada 2017-2021.

Kendati demikian, kenaikan itu tercatat di wilayah Indonesia bagian selatan. Adapun wilayah yang nilai suhu maksimumnya lebih rendah dari rata-rata 5 tahun terakhir. Wilayah-wilayah itu ialah pesisir Barat Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi Utara.

Comments are closed.