Pengusaha Mal Minta Dibantu Upah Pekerja: 600 Ribu Orang Terancam PHK

Suasana di Mal Grand Indonesia, Jakarta, saat Lebaran Jumat (14/5/2021). Foto: M Risyal Hidayat/Antara Foto

Rencana pemerintah memberlakukan PPKM Darurat membuat gusar para pengusaha di sektor pusat perbelanjaan. Soalnya mereka masuk ke dalam daftar sektor yang mesti tutup selama nyaris 20 hari.

Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan setidaknya sebanyak 600 ribu karyawan terancam dirumahkan dan PHK saat mereka harus tutup.

Angka tersebut, menurut Budihardjo, baru berasal dari satu kelompok mereka sebagai pelaku ritel yang menyewa di mal. Belum termasuk para pekerja mal seperti satpam hingga lapak-lapak UMKM di sekitar pusat perbelanjaan.

“Saya enggak tahu kalau mal banyak banget pekerjanya, kalau di kami sih sekitar 600 ribu karyawan yang terancam kalau ditutup. Jadi mereka bisa dirumahkan dulu sampai buka lagi,” jelas Budihardjo kepada kumparan, Kamis (1/7).

Ketakutan senada sebelumnya juga disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja. Setidaknya, ada sebanyak 280 ribu pekerja yang menggantungkan hidup sebagai karyawan mal.

Alphonzus mengungkapkan, sebanyak 30 persennya bakal terancam PHK sepanjang rentang ditutupnya pusat perbelanjaan. Jumlah itu bahkan bisa lebih besar lagi, tergantung bagaimana realisasi dari kebijakan PPKM Darurat berjalan.

Kedua organisasi pengusaha mal ini kompak meminta bantuan berupa subsidi upah pekerja sebesar 50 persen dari pemerintah. Sebab apabila bantuan ini tak dikucurkan, mereka khawatir tak mampu menghindari opsi untuk melakukan PHK karyawan.

“Kalau kegiatan ekonomi kembali terganggu atau bahkan terhenti, maka akan terjadi kembali pekerja yang dirumahkan. Dan kalau ternyata nantinya berkepanjangan maka akan terjadi kembali gelombang PHK,” jelas Alphonzus.

Comments are closed.