Penculik Belasan Anak di Jakarta-Bogor Tertangkap, Pura-pura Jadi Polisi Saat Beraksi

Polisi sampai perlu menembak kaki Rizal Afif (28) saat meringkusnya di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 12 Mei 2022. Penjahat kambuhan ini sempat melawan saat akan ditangkap karena kasus penculikan 2 orang anak laki-laki di Jakarta dan Bogor. Setelah diringkus, pelaku mengaku telah menculik 12 anak lelaki sejak awal Ramadan tahun ini.

Tertangkapnya Rizal bermula dari pencarian Polres Bogor atas seorang anak yang dilaporkan diculik, berinisial F (11). F dibawa orang tak dikenal saat berolahraga di kawasan Kemang, Bogor, pada Minggu (8/5). 

F berhasil ditemukan dua hari kemudian, Selasa (11/5), di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Darinya polisi mendapat cerita. Ia dibawa seorang pria yang mengaku polisi dan berlagak merazia anak-anak yang tidak memakai masker. F lalu dibonceng motor oleh Rizal yang ngakunya otw kantor polisi. Nyatanya, F diajak berkeliling tanpa juntrungan hingga Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Di sana, F bertemu tiga anak lain yang juga diculik Rizal, yakni K (12) dan dua teman K. Semuanya diperdaya Rizal dengan modus yang sama, pura-pura sebagai polisi yang razia masker. Empat anak itu lalu dibonceng Rizal. F dan dua anak lain kemudian diturunkan begitu saja di Fatmawati, sementara pelaku pergi lagi bersama K. Di Fatmawati itulah F ditemukan tukang parkir yang kemudian lapor polisi.  

“[Modusnya] pelaku ini menegur karena [korban] mereka melanggar prokes karena tidak memakai masker. Pelaku ini mengaku sebagai aparat kepolisian,” terang Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Siswo Tarigan kepada Detik.

Berkat ditemukannya F, polisi lanjut melacak keberadaan Rizal hingga berhasil menangkapnya di Senayan bersama dengan K. Kepada polisi, ia mengaku telah menculik 12 orang anak laki-laki sejak awal bulan puasa lalu. 

Polisi mulanya sempat kebingungan mengenai motif Rizal. F, misalnya, hanya diajak berkeliling tanpa dilukai. Setelah interogasi, pelaku ternyata merampas ponsel milik anak-anak tersebut untuk dijual lagi. Selain itu, ia diduga mencabuli K. 

“Keterangan korban dia sempat dipaksa melakukan sesuatu di luar batas normal. Ini kalau kami lihat modus dari pelaku ini ujung-ujungnya adalah penyimpangan seks yang dimiliki pelaku,” ujar Kapolres Metro Jaksel Kombes Budhi Herdi Susianto dilansir Detik.

Penangkapan Rizal mestinya jadi klimaks kisah ini, namun tiba-tiba berkembang plot sampingan yang penting ga penting. Kepada polisi, Rizal sesumbar bahwa ia pernah tiga kali dipenjara, dua di antaranya karena kasus terorisme. Ia juga mengaku baru lepas dari Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor. Deretan klaim lainnya seperti: selama di Lapss Gunung Sindur menjadi murid Bahar Smith, terlibat jaringan terorisme, dan pernah dilatih di Poso selama 7 bulan. 

Kesannya kayak penjahat kambuhan yang gawat banget, sejauh ini Lapas Gunung Sindur membantah Rizal Afif pernah menghuni di sana. Polisi berjanji akan berkoordinasi dengan Densus 88 untuk memastikan Rizal Afif emang terlibat terorisme.

Walau kesannya melenceng dari kasus semula, kami mendukung polisi mengungkap track record Rizal sebenarnya. Pasalnya, Februari lalu Rizal sempat menjadi tamu podcast milik pakar hukum tata negara-kini-YouTuber Refly Harun. Isi podcast itu digaungkan oleh beberapa media menjadi berita yang isinya menyebut Rizal sebagai “bomber Sarinah tahun 2006 […] tersadar dari paham terorisme setelah mendapat nasihat dari Habib Bahar bin Smith”. Video podcast itu harusnya bisa diakses di tautan ini, tapi tebak, kini videonya hilang. Seru kan.

“Kalau sementara sih ngakunya ketemunya sering main ke rumah Bahar Smith di Kemang [Bogor]. Termasuk juga katanya ngawal Bahar Smith ketika ngawal di Lapas Gunung Sindur,” cerita Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Siswo Tarigan dikutip Detik.

Ketika wartawan Detik menyambangi lingkungan domisili Rizal di Bojongsari, Depok (hehe), ketua RT setempat bilang pria ini sejak lama emang kriminil. Doi cerita bahwa 2014 lalu pernah merampok dan membakar rumah Almarhum Ustaz Jefri Al-Buchori. Setelah bebas dari penjara, Rizal terlibat kejahatan kecil-kecilan seperti nyolong tabung gas dan nyolong hape di kampung sebelah. Kalau kata orang Depok mah, hetdah!

Comments are closed.