Pemulihan Ekonomi Mulai Membaik, Bagaimana Nasib UMKM?

Suyanti melihat katalog produknya di platfrom digital di UMKM Rumah Keong, Batam, Kepulauan Riau. Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sangatlah besar untuk menopang perekonomian Indonesia. Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah sektor bisnis UMKM di Indonesia pada 2021 mencapai 64,19 juta dengan partisipasi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,97 persen atau senilai Rp 8,6 Triliun.

Walaupun perkembangan UMKM sempat dihalangi oleh wabah pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia hampir dua tahun, nyatanya kebangkitan sektor UMKM memberikan dampak dan mempercepat pemulihan ekonomi di Indonesia.

“Untuk UMKM saat ini sebetulnya, kalau kita lihat pemulihan ekonomi memang sebetulnya sudah kelihatan ke arah terus membaik,” ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal kepada kumparan, Rabu (11/5).

Meskipun pemulihan ekonomi nasional telah membaik, Faisal memberikan catatan bahwa pemulihan yang terjadi berbeda dengan para pelaku usaha.

Produksi aksesoris UMKM Dinova Store di Tulungagung Jawa Timur, Rabu (13/4). Foto: Akbar Maulana/kumparan

Menurut Faisal, UMKM masih mendapatkan tekanan selama pandemi, sehingga pelaku usaha perlu survive agar tidak gulung tikar dan mampu membuka lowongan kerja kembali.

“Kalau kita lihat dari data ketenagakerjaan, ini yang punya usaha sendiri maksudnya punya usaha yang dibantu buruh tetap maupun tidak tetap yang kategori UMKM ya ini masih belum masih banyak tekanan,” ungkap Faisal.

Kendati demikian, Faisal menambahkan bahwa pelaku usaha yang mampu untuk survive hanyalah pelaku usaha besar. Selain itu, mereka sudah bisa melakukan rekrutmen untuk menjaring pekerja baru.

Suyanti menjemur cangkang gonggong usai dibersihkan di UMKM Rumah Keong, Batam, Kepulauan Riau. Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

“Artinya usaha besar itu yang survive selama pandemi. Mereka bisa melalui pandemi sehingga tidak bangkrut dan pada saat sekarang sudah rekrutmen kembali, tapi yang usaha kecil menengah masih terus mengalami tekanan,” kata Faisal.

Untuk itu, Faisal menambahkan bahwa tingkat pemulihan ekonomi masih sulit pada tahun ini diikuti dengan ancaman inflasi, kenaikan BBM, tarif listrik dan elpiji. Hal ini dapat menekan keberadaan UMKM, karena kenaikan tersebut merupakan entitas yang disubsidi pemerintah.

“Karena yang dinaikkan ini yang disubsidi dan umkm banyak bergantung pada suplai energi yang disubsidi baik itu listrik, BBM, pertalite maupun elpiji yang 3 kg,” tandas Faisal.

*****

Ikuti program Master Class, 3 hari pelatihan intensif untuk para pelaku UMKM, gratis! Daftar Sekarang DI LINK INI.

Comments are closed.