Pelangi Paripurna dan Legenda Kahalapuna di Hawaii

Ilustrasi pelangi di Hawaii | Unsplash/Kvnga

Menurut legenda di Hawaii, hadirnya pelangi merupakan sebuah tanda datangnya Kahalapuna, putri seorang kepala suku yang berduka atas kematiannya dengan mengubah diri mereka menjadi bentuk roh, angin Mānoa, dan hujan berkabut. Ketika roh-roh ilahi ini bertiup melalui lembah, Kahalapuna muncul sebagai pelangi.

Orang Hawaii memang layak diklaim terobsesi terhadap pelangi. Bahasa Hawaii memiliki lebih dari 20 kata yang menggambarkan “fenomena spektakuler” ini, diantaranya pelangi yang menempel di Bumi (uakoko), pelangi yang berdiri tegak (kāhili), dan pelangi busur bulan (ānuenue kau pō).

Istilah-istilah itu menegaskan pelangi telah tertanam dalam budaya dan cerita rakyat tradisional Hawaii.

Pelangi, tentu saja, terjadi di seluruh dunia. Di mana pun ada matahari dan hujan atau kabut yang menggantung di udara, di situlah ia muncul.

Banyak budaya telah menafsirkan dan mengadopsi fenomena atmosfer itu dalam berbagai cara. Alkitab menggambarkannya sebagai tanda janji Tuhan untuk tidak pernah lagi melepaskan banjir yang menghancurkan Bumi. Dalam mitologi Nordik, jembatan pelangi yang disebut bifrost menghubungkan rumah para dewa dengan alam manusia. Mitologi Hawaii pula menganggap pelangi sebagai jalur surgawi antara alam ilahi dan duniawi, serta sebagai simbol transformasi.

Hawaii pun memiliki kondisi sangat ideal untuk membentuk pelangi paripurna. Angin pasat yang menciptakan hujan berselang dengan langit cerah di antaranya dan memungkinkan matahari bersinar di atas rintik hujan; angin laut yang meningkatkan pembentukan hujan di atas puncak gunung; dan udara yang sangat bersih yang berkontribusi pada warna-warna cerah. Bahkan di sana juga ada moonbow — pelangi malam yang diterangi oleh cerahnya Bulan.

Konsep Pelangi dalam sains

moonbow pelangi malam yang diterangi oleh cerahnya Bulan di Hawaii | Wikimedia Commons/Arne-kaiser (CC)

Cara dasar untuk memahami pelangi adalah dengan memikirkan sinar matahari yang dihamburkan oleh tetesan air yang membiaskan dan memantulkan sinar. Di bawah kondisi yang tepat, termasuk cahaya dan sudut pandang yang tepat, pelangi pasti akan muncul.

Para filsuf awal pun sudah menyadari fenomena itu, walau sekilas, termasuk Aristoteles yang mengakui bahwa pelangi muncul ketika sinar matahari menyinari tetesan air di udara.

Dan pada tahun 1637, René Descartes menawarkan penjelasan yang “memuaskan” tentang apa yang terjadi. Descartes menemukan indeks bias yang benar yang memungkinkannya untuk secara ilmiah melacak jalur sinar cahaya melalui tetesan hujan.

Hanya saja, warna-warna itu dibiarkan tidak dapat dijelaskan oleh Descartes. Isaac Newton yang kemudian memecahkan misterinya, beberapa dekade kemudian, melalui eksperimen dengan prisma. Warna yang berbeda menekuk pada sudut yang berbeda, sehingga prisma atau tetesan air membagi cahaya putih atau sinar matahari menjadi spektrum warna yang berkesinambungan.

Pembagian menjadi tujuh warna— merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu — pun sebetulnya bersifat arbitrer. Karena lebih banyak warna yang dapat dilihat oleh mata manusia; dan pelangi mengandung semuanya. [*]

Comments are closed.