Oma Gill, Sosok di Balik Komentar ‘I Don’t Beleive It’ Pertandingan Badminton

Gillian Clark Alias Oma Gill, Sosok di Balik Komentar “I Don’t Believe It!” dalam Pertandingan Badminton

Bagi para pecinta bulu tangkis di Indonesia, suara komentator Gillian Clark sangat akrab di telinga dan banyak ditunggu.

Frasa-frasa khas yang ia ucapkan menjadi ikonik, viral, dan terpatri di benak para penggemar badminton. Ambil contoh “I don’t believe it!”, Unbelievable!“, atau “What a rally!”.

Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa perempuan yang kerap dijuluki ‘Oma Gill’ oleh warganet Indonesia ini menghabiskan waktu setidaknya tiga jam untuk riset sebelum menjalankan tugas sebagai komentator. Ia juga harus membawa sendiri printer kecil untuk mendukung pekerjaannya.

Analisis, data, statistik dan informasi yang ia sampaikan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menyenangkan menonton pertandingan bulutangkis di televisi maupun di aplikasi telepon genggam.

Bahkan, nama perempuan Inggris berusia 60 tahun ini sering menjadi tren di media sosial, bersama nama-nama pemain yang sedang turun berlaga.

Seorang penggemar berseloroh “hambar rasanya menonton laga bulutangkis tanpa suara Gillian Clark”.

Menjadi komentator sebenarnya bukan jalan yang sengaja dipilih oleh Clark.

“Semata-mata karena keberuntungan,” ungkap Clark dalam perbincangan dengan wartawan BBC News Indonesia di Inggris, Mohamad Susilo.

“Saat itu, saya menjabat sebagai presiden federasi pemain dan ada keperluan untuk menjadi komentator. Pihak yang mencari, tahu bahwa saya punya opini dan tidak segan-segan untuk menyuarakan opini itu.”

“Kemudian mereka meminta saya untuk menjadi komentator bulutangkis,” kata Clark. Dan selebihnya, tentu saja adalah sejarah.

Selama 25 tahun terakhir ia menjadi komentator di turnamen-turnamen badminton kelas dunia.

Membawa printer sendiri

Ia sadar betul bahwa menjadi komentator bukan pekerjaan mudah. Apa yang ia sampaikan saat memandu pertandingan harus informatif dan menambah wawasan bagi para pemirsa.

Gillian Clark mengatakan komentator tak semestinya berbicara ketika laga tengah seru-serunya.

Karenanya, sebelum bertugas di siang atau petang hari, ia menyempatkan diri selama minimal tiga jam di pagi hari untuk melakukan riset. Kadang, persiapan ini membutuhkan waktu lima jam.

Setelah itu, data dan informasi yang bertebaran dikumpulkan dalam satu format khusus, yang ia gambarkan sebagai “rahasia perusahaan”.

“Data yang tersedia tidak dalam dalam format ideal. Jadi saya harus menyusun semua informasi yang ada, memasukkannya ke dalam satu format yang menurut saya menarik dan berguna bagi para pemirsa,” kata Clark.

“Format ini sangat cocok buat saya dan ini adalah rahasia yang jaga dengan ketat. Setiap kali saya on air, saya sampaikan informasi menarik dan fakta-fakta ini kepada para pecinta bulutangkis,” imbuhnya.

Yang menarik, data, statistik, dan informasi ini harus tercetak dalam lembaran kertas.

Clark menyebut dirinya bukan sosok yang akrab dengan teknologi. Di sisi lain, ia perlu data dan informasi yang bisa cepat diakses.

Oleh karena itulah, untuk menunjang pekerjaannya, ia membawa printer jinjing, yang menemaninya ke mana pun ia bertugas.

“Itu printer kecil. Saya ini kuno, saya ini sudah tua,” kata Clark sambil tersenyum lebar.

“Saya ingin memiliki salinan dalam bentuk fisik. Saya ingin semua yang saya perlukan ada di depan saya. Dengan begitu, semua informasi yang saya perlukan harus ada di satu lembar kertas.”

“Dengan demikian, saya tidak harus beralih dari satu situs ke situs lain di komputer atau mencari di berbagai dokumen yang saya miliki. Semuanya harus ada di satu lembar kertas, dan karenanya saya harus membawa printer saya sendiri. Printer ini saya bawa, ke mana pun saya pergi,” kata Clark.

Hal menantang lain adalah mencari waktu yang tepat kapan berbicara dan kapan harus diam.

“Data dan informasi tentu sangat penting, namun tidak ada gunanya jika kita sampaikan saat pertandingan sedang seru-serunya. Biarkan aksi di lapangan yang berbicara dan biarkan penonton untuk menikmatinya,” ujar Clark.

Ia juga mengatakan komentator tak semestinya menggambarkan apa yang sedang terjadi di lapangan karena penonton menyaksikan hal yang sama.

Menggambarkan aksi menjadi tugas komentator radio, bukan komentator televisi.

Senang dipanggil ‘Oma Gill’

Di kalangan para penggemar bulutangkis di Indonesia, Clark memiliki panggilan khusus: Oma Gill. Dan ia tahu dirinya mendapat “perlakuan istimewa”. Di balik nama Oma Gill, para penggemar seolah menyematkan perasaan hormat, kekaguman, dan cinta.

“Ini sungguh sangat spesial, saya merasa tersanjung para penggemar [badminton] memberi nama khusus untuk saya. Menyenangkan dan saya suka,” kata Clark.

Di sisi lain, ia juga sangat senang dengan para penggemar bulutangkis di Indonesia.

“Anda semua membuat turnamen-turnamen badminton di Indonesia menjadi sangat seru. Tetap beri dukungan … Anda semua pendukung badminton nomor satu di dunia,” katanya.

Chun Keat Yew, pembuat konten bulutangkis di YouTube, mengatakan Gillian Clark sangat layak mendapat julukan ‘sang suara badminton’.

“Ia sosok yang bersahabat. Frasa-frasa yang ia pakai sangat khas dan itu menempel di benak para penggemar bulutangkis,” kata Yew.

Salah satu keunggulan Clark, kata Yew, adalah fakta bahwa sebelum menjadi komentator, Clark adalah pemain bulutangkis.

“Ia paham taktik dan seperti apa rasanya berada di tengah lapangan. Informasi semacam ini sangat berguna bagi para penonton,” kata Yew.

Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra PBSI, punya kesan tersendiri pada Oma Gill.

“Gillian Clark salah satu komentator yang legendaris. Sejak 1990-an ia sudah menjadi komentator. Ia punya ciri khas yang tak dimiliki oleh komentator-komentator lain. [Kalau bicara] komentator bulutangkis, ya [langsung teringat adalah] Gillian Clark,” kata Herry.

Siapa Gillian Clark?

Komentator yang baik tak menjelaskan apa yang sedang terjadi di lapangan, tapi memberikan analisis dan menggambarkan suasana hati para pemain, kata Gillian Clark.

Clark berkarier sebagai pemain badminton sebelum menjadi komentator. Bersama Gillian Gilks, ia menyabet medali perunggu ganda putri di Kejuaraan Dunia 1983 di Kopenhagen, Denmark.

Selang 10 tahun kemudian, di Kejuaraan Dunia 1993 di Birmingham, Clark meraih medali perunggu kategori ganda campuran bersama Nick Ponting.

Ia juga turun di Olimpiade 1992 di sektor ganda putri bersama Julie Bradbury. Namun langkahnya terhenti di perempat final oleh pasangan Korea Selatan, Hwang Hye-young dan Chung So-young, yang akhirnya meraih medali emas.

Di turnamen All England, Clark lolos ke final tiga kali. Pada 1985 dalam kategori ganda campuran bersama Thomas Kihlsttom, pada 1990 bersama Gillian Gowers dalam ganda putri, dan pada 1994 bersama Chris Hunt dalam ganda campuran.

Prestasi mengilap ia catat di pesta olahraga negara-negara Persemakmuran, Commonwealth Games, dan di Kejuaraan Eropa.

Di Commonwealth Games antara 1982 hingga 1994, Clark mengumpulkan enam medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu.

Di Kejuaraan Eropa, Clark meraih emas pada perhelatan 1982, 1984, 1986, dan 1988.

Jika dihitung, menurut Clark, dia berkarier sebagai pemain badminton selama 15 tahun. Adapun pekerjaan sebagai komentator telah ia jalani selama seperempat abad.

Dengan pengalaman panjang, tak mengherankan jika ia sering disebut-sebut sebagai salah satu komentator bulutangkis terbaik oleh para penggemar bulutangkis.

Comments are closed.