NASA Prediksi Manusia Bisa Tinggal di Bulan pada 2030

Foto selfie wahana Artemis setelah melakukan flyby pada Senin (21/11). Foto: Dok. NASA

Petinggi NASA mengatakan manusia akan kembali menginjakkan kaki dan tinggal di permukaan Bulan pada tahun 2030.

Hal itu diungkapkan oleh Howard Hu, yang pemimpin divisi Pesawat Luar Angkasa Orion, Minggu (20/11). Pada wawancara dengan BBC tersebut, Wu mengatakan optimistis manusia akan tinggal dan bekerja di satelit alami itu, sebelum 2030.

“Tentu saja, dalam dekade ini, kita akan memiliki orang yang hidup untuk jangka waktu tertentu, tergantung berapa lama kita akan berada di permukaan. Mereka akan memiliki habitat, mereka akan memiliki penjelajah di tanah,” katanya kepada program BBC Sunday with Laura Kuenssberg.

Kami akan mengirimkan orang ke permukaan, dan mereka akan hidup di permukaan itu dan (mempraktikkan) sains.– Howard Hu, kepala Orion NASA –

Pesawat Orion dan program Artemis

Saat ini, wahana Orion sedang dalam perjalanan menuju Bulan. Perjalanan ini merupakan bagian dari program Artemis.

Dalam mitologi Yunani, Artemis ada sepupu dari Apollo. Sesuai dengan namanya, program ini punya tujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan, melanjutkan kejayaan Apollo.

Beda dengan misi Apollo, Artemis fokus pada misi jangka panjang dengan membangun hunian astronaut di Bulan. Serta meneliti kandungan air di kutub Bulan untuk menjadikan Bulan sebagai pos singgah sebelum astronaut melanjutkan perjalanan ruang angkasa yang lebih jauh misalnya ke Mars.

Artemis terbagi atas beberapa misi, Artemis 1, Artemis 2, hingga Artemis 3. Nantinya akan ada beberapa misi Artemis susulan lagi, namun saat ini belum diumumkan.

Artemis 1 adalah misi peluncuran roket SLS beserta wahana Orion. Misi ini telah meluncur pada Rabu (16/11) kemarin.

Peluncuran roket SLS NASA menuju bulan, bagian dari misi Artemis. Foto: Dok. NASA

Orion terbang ke orbit Bumi menggunakan roket pendorong. Setelah melampaui orbit Bumi, Orion akan mengaktifkan pendorong internal untuk kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke Bulan.

Dalam misi yang berlangsung 26 hari ini, Orion akan mengelilingi Bulan, mengambil data kemudian kembali ke Bumi menggunakan teknik manuver re-entry.

Ketika wahana ini masuk terjun ke Bumi, wahana ini akan melaju dengan kecepatan 45 ribu km/jam dan bodinya akan terbakar di suhu 3.000 derajat Celsius.

Bagian-bagian dari roket SLS dan Orion Spacecraft Foto: NASA

Orion adalah wahana yang dirancang untuk membawa astronaut ke orbit Bulan. Namun misi Artemis kali ini menjadi misi pengujian, di DAN belum membawa astronaut. Sebagai gantinya NASA menaruh dummy manusia untuk mengukur dampak hempasan saat nanti Orion pulang ke Bumi.

Saat ini Orion sukses terbang dan mengorbit Bulan serta sukses melaksanakan flyby pada Selasa (22/11). Orion mendekat ke Bulan (hanya berjarak 125 km) kemudian membakar sedikit bahan bakar roketnya untuk mendapatkan bantuan gravitasi (gravity assist).

Setelahnya Orion bakal ‘terpental’ dan bisa melaju lebih cepat serta mendapat orbit yang stabil tanpa harus menghabiskan banyak bahan bakar.

Orion juga sempat mengirim selfie dengan Bulan dengan latar belakang Bumi di belakangnya.

Foto selfie wahana Artemis setelah melakukan flyby pada Senin (21/11). Foto: Dok. NASA

Kelak, di Artemis 2 dan Artemis 3, Orion akan membawa astronaut ke Bulan. Bedanya, Artemis 2 hanya akan mengantarkan astronaut ke orbit, sementara Artemis adalah misi pertama astronaut menginjakkan kaki ke bulan.

Targetnya, Artemis 2 akan meluncur pada 2024 dan Artemis 3 akan berlangsung pada 2025. Selain misi utama yang membawa astronaut, akan ada beberapa peluncuran pendukung terpisah yang akan membawa alat serta perlengkapan astronaut di Bulan.

Comments are closed.